Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
APBD DKI Jakarta sepertinya tak habis-habis hendak diakali dan untunglah gubernurnya pun tak habis akal untuk menghajarnya.
Setelah berbagai manipulasi, seperti pengadaan UPS untuk sekolah, terungkap, kini terbongkar anggaran fiktif yang nilai pun tak kalah seram.
Yang menarik, bila dalam kasus penyediaan UPS Gubernur Ahok berhadapan dengan anggota DPRD, dalam membongkar anggaran fiktif, ia justru bekerja sama dengan Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi.
Sang ketua menyewa auditor independen yang menemukan anggaran tidak bernama dalam Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara Tahun 2016 senilai Rp1,88 triliun.
Menurut Media Indonesia, Ahok langsung menghapus anggaran tanpa keterangan nomenklatur itu.
Akal panjang Ahok tak puas sampai di situ. Ia mengerahkan 25 staf magang khusus untuk memeriksa dan menemukan anggaran tidak bernama.
Ahok menegaskan pegawai negeri sipil dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) merevisi anggaran dan mengajukan anggaran berdasarkan fungsi.
Tentu bukan semata berbasiskan fungsi sehingga anggaran yang dibuat tidak fiktif dari sudut keperluan fungsional. Yang juga terjadi, dari sudut fungsi kiranya benar, tetapi harganya hasil 'karangan'.
Dinas Sosial, misalnya, memang berfungsi antara lain mengurus warga yang memerlukan kursi roda. Namun, harga pengadaannya per unit dimanipulasi. Jumlah orang yang membutuhkan pun patut dipersoalkan, apakah sebanyak yang dianggarkan.
Siapakah yang bakal menerimanya pun layak dipertanyakan.
Demikianlah, menilap anggaran orang jompo/penyandang disabilitas yang memerlukan kursi roda bukan lagi perkara moral yang dahsyat.
Selintas Ahok telah menyelamatkan uang negara triliunan rupiah, baik dari pencegahan korupsi maupun penghematan.
Sayang, Ahok 'terlambat lahir'.
Kalau 10 tahun lalu ia menjadi Gubernur DKI, entah berapa besar uang negara diselamatkan. Yang jelas kini bangsa ini memiliki contoh baru kepemimpinan sehingga tidak semata merujuk kepada Ali Sadikin.
Terus-menerus menjadikan Bang Ali idola menunjukkan betapa miskinnya fungsi generatif bangsa dan negara ini dalam melahirkan pemimpin sebagai teladan.
Dari sudut buruknya fungsi generatif kepemimpinan itu mestinya kita malu besar menjadikan Bang Ali sebagai model abadi. Padahal, zaman yang dihadapi kini jauh lebih kompleks.
Dulu, pemimpin tidak dipilih langsung oleh rakyat. Dulu, prinsip akuntabilitas dan transparansi belum menjadi kosakata utama dalan kehidupan kepublikan.
Tindakan menggusur yang dilakukan Bang Ali berbeda dengan tindakan menggusur yang dilakukan Ahok. Sama-sama keras dan tanpa kompromi, tetapi berbeda.
Berdasarkan pikiran yang sama perihal fungsi generatif kepemimpinan, anak bangsa ini pun mestinya malu besar bila saban kali berbicara tentang integritas Polri, selalu kembali merujuk kepada Jenderal Hoegeng.
Mengapa kita tidak bisa melahirkan pemimpin baru, 'Ahok' versi kepolisian?
Di dunia pemerintahan daerah pun belum banyak lahir 'Ahok-Ahok'. Padahal, dapat ditengarai modus operandi penilapan anggaran kiranya sama.
Siapa berani bilang SKPD dan DPRD yang dihadapi Ahok khas dan unik milik DKI Jakarta?
Tidakkah di mana-mana eksis SKPD dan DPRD yang sangat kreatif mengarang anggaran yang merugikan negara?
Namun, kenapa Ahok seorang yang berani? Pilkada serentak sebentar lagi berlangsung. Namun, pilkada umumnya tidak dapat diharapkan menjadi sarana tegaknya fungsi generatif kepemimpinan di daerah.
Besarnya uang mahar dan merasuknya politik uang ke akar rumput jadi penyebab utama gagalnya fungsi generatif itu. Jangan-jangan, pilkada serentak malah melahirkan kandidat koruptor baru.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved