Menunggu Bangkit

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
10/3/2015 00:00
Menunggu Bangkit
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Indonesia(MI/M IRFAN)

TAK ada kegembiraan di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris. Minggu (8/3) malam harapan satu-satunya Indonesia di final All England 2015, ganda campuran Tantowi Ahmad/Lilyana Natsir (Owi/Butet), dihempaskan Chang Nan/Zhao Yunlei dari Tiongkok.

Mereka kalah dalam waktu singkat, 37 menit.

Tepuk tangan dan teriakan "Indonesia! Indonesia!" dari belasan suporter yang semula lantang seraya mengibarkan bendera Indonesia pun melindap. Juga, tak ada kehebohan di media sosial. Bahkan, banyak yang tak tahu ada final All England.

Kami (saya dan dua anak laki-laki), yang menyaksikan lewat layar kaca, juga masygul. Owi/Butet yang sejak 2012 selalu berjaya di All England seperti kehilangan 'tuah' di final, tak seperti ketika menghempaskan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dari Denmark di babak semifinal.

"Apa lagi yang bisa kita banggakan?" teriak anak sulung kami.

"Ya, ketika semua serbameluruh, mestinya bulu tangkis jangan," saya menjawab.

Selain Owi/Butet yang ditargetkan juara, ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Aksan digadang-gadang. Akan tetapi, pasangan itu terhempas di babak kedua. Pemain di partai-partai lain juga rontok sebelum semifinal.

Tunggal putra dan putri, setelah Susy Susanti dan Heryanto Arbi berjaya pada 1993-1994, seperti tutup buku.

Ganda putri lebih mundur lagi, setelah Verawaty Fajrin/Imelda Wiguna juara 1979, Piala All England seperti menggantung di langit.

Tiongkok memang terlalu perkasa. Ia merebut tiga dari empat gelar yang ditargetkan: tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran. Hanya ganda putra lepas.

Fu Haifenf/Zhang Nan dikalahkan Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark. Yang mengejutkan, tunggal putri Spanyol, Carolina Marin, pertama kali menjuarai All England. Ia menundukkan Saina Nehwal dari India.

Indonesia, negeri yang di masa silam pernah memegang supremasi bulu tangkis, kini harus introspeksi tinggi. Eropa tengah berupaya keras agar bulu tangkis 'kembali' ke tanah airnya. Perlu didengar apa yang dikatakan Ricky Subagja.

"Dulu kalau kami ikut turnamen, ya harus juara. Jadi runner-up hitungannya gagal. Bulu tangkis (Indonesia) harus kembali jadi nomor satu," kata Ricky yang menyabet emas Olimpiade Atlanta 1996 bersama Rexy Mainaky.

All England yang dinilai sebagai kejuaraan dunia tidak resmi ialah kejuaraan perorangan paling bergengsi.

Event yang dimulai sejak 1899 itu selalu diikuti pemain-pemain kelas dunia. Terasa belum sempurna pebulu tangkis tanpa juara All England.

Lewat All England Rudy Hartono ditahbiskan menjadi legenda bulu tangkis dunia dengan delapan kali juara. Lewat All England, Thomas Cup, Uber Cup, Piala Dunia, dan berbagai kejuaraan internasional, Indonesia disegani dunia.

Hanya lewat bulu tangkis lagu Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade sejak Susy Susanti dan Alan Budikusuma meraih medali emas (1992).

Setelah itu, Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1996), Tony Gunawan/Candra Wijaya (2000), Taufik Hidayat (2004), Markis Kido/Hendra Setiawan (2008).

Meski berasal dari Inggris, berpuluh tahun bulu tangkis menjadi semacam 'identitias Indonesia'. Mestinya dengan segala daya upaya prestasi yang hilang itu harus direbut kembali.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.