Gubernur Wayan Koster

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
21/9/2021 05:00
Gubernur Wayan Koster
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBELUM kita 'mendarat' di Pulau Dewata Bali, baiklah kita 'terbang' dulu ke Skandinavia. Di Swedia saat ini sedang digadang-gadang Menteri Keuangan Magdalena Andersson untuk menjadi perdana menteri menggantikan Stefan Löfven, yang mengundurkan diri November ini. Kenapa Magdalena Andersson?

Jawabnya bukan hanya berkat reputasi internasional di bidang moneter dan keuangan, melainkan yang utama karena dia perempuan. Dua negara Skandinavia lainnya, yaitu Denmark dan Norwegia, sekarang ini dipimpin perdana menteri perempuan. Denmark dipimpin PM Mette Frederiksen, Norwegia dipimpin PM Erna Solberg.

Bila Magdalena menjadi PM, dia bukan hanya perempuan pertama menjadi PM Swedia. Lebih dari itu, sempurnalah Skandinavia menjadi contoh bagi dunia perihal perempuan di puncak kekuasaan negara.

Kita pernah dipimpin presiden perempuan, Megawati Soekarnoputri. Dalam perkara ini kita lebih maju daripada AS, kampiun demokrasi yang belum pernah punya presiden perempuan. Sekarang untuk pertama kali Ketua DPR, Puan Maharani, seorang perempuan. Di kabinet Jokowi saat ini terdapat empat perempuan, tiga di antaranya menjadi menteri sejak pemerintahan Jokowi jilid 1. Bukti mereka berkinerja sangat bagus sehingga berlanjut duduk di kabinet Jokowi jilid 2. Mereka ialah Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Maka itu, timbul keheranan kenapa Gubernur Wayan Koster melarang perempuan menjadi MC di acara pemerintahan di Bali yang dihadiri dirinya sebagai gubernur?

Kiranya Gubernur Bali Wayan Koster pun tahu benar bahwa perempuan di negeri ini boleh menjadi pekerja profesional di bidang apa pun yang membutuhkan keterampilan khusus. Tak kecuali MC.

Apakah Gubernur Wayan Koster berpandangan profesi MC hanya baik untuk pria? Apakah profesi MC tak layak untuk perempuan? Apakah profesi MC terlalu tinggi atau terlalu rendah bagi perempuan di mata Gubernur Wayan Koster? Yang jelas Gubernur Wayan Koster diskriminatif.

Alkisah pada 10 September 2021, Putu Dessy Fridayanthi menjadi MC di sebuah acara menteri di Kabupaten Badung, yang dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster. Gubernur melarang MC perempuan di acaranya. Dessy telah meminta konfirmasi apakah dirinya yang perempuan boleh menjadi MC di acara menteri itu yang dihadiri gubernur. Ketika acara akan mulai, katanya atas arahan gubernur, protokol melarang Dessy tampil di panggung. Dia tak boleh kelihatan. Aneh. Sampai acara selesai, dia membawakan acara dari balik jendela dengan naik kursi. Kata Dessy, selama 23 tahun menjadi MC, "Saya belum pernah diperlakukan seperti ini dan belum pernah membawakan acara dengan cara begini."

Konstitusi hasil perubahaan kedua antara lain bilang begini, "Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang diskriminatif itu." Kita percaya Gubernur Bali Wayan Koster kiranya pernah membaca konstitusi itu.

Gubernur Bali itu bernama lengkap 'I Wayan Koster'. Protokol gubernur melarang nama depan 'I' itu disebut oleh MC. Permintaan itu dipenuhi, dipatuhi. Bila yang empunya nama tak berkenan, kenapa pula orang lain keberatan? Permintaan yang perlu dihormati. Itulah sebabnya di tulisan ini pun nama depan 'I' tak digunakan.

Sebuah nama lengkap belum tentu diperlukan. 'Goenawan Mohamad' tanpa nama tengah 'Soesatyo'. 'Surya Paloh' pun tanpa nama tengah 'Dharma'. Di kala pilpres nama 'Jokowi' lebih gagah daripada nama lengkap 'Joko Widodo'. Sesungguhnya itu semua lebih urusan yang empunya nama.

Urusan publik ialah perlakuan diskriminatif gubernur. Ini urusan besar. Itu terjadi di Bali, yang lebih dulu dikenal dunia daripada Indonesia. Berkaca ke Skandinavia, negeri ini seperti terpukul mundur. Kiranya Bapak Gubernur mengoreksi kekeliruannya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.