Martabak

09/3/2015 00:00
Martabak
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BERAPAKAH harga martabak? Berapakah pula harga martabat? Dari sudut idealisme, jarak keduanya mestinya jauh sekali, bagaikan langit dan bumi.

Akan tetapi, dalam kenyataan, bisa dekat sekali. Bahkan, maaf, boleh jadi sudah sedemikian rusak etika dan fungsi kepublikan sehingga tak ada lagi beda martabat dan martabak.

Lihatlah tuts telepon seluler. Jarak martabat dan martabak hanya empat langkah, dari huruf t ke k. Terpeleset atau terjatuh sedikit saja jemari, martabat berubah menjadi martabak.

Celakanya, itu tak hanya bisa terjadi di tuts telepon seluler atau komputer, tetapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan salah satu masalah besar. Ketika orang mempersoalkan kejujuran, kebersihan, integritas, sebenarnya orang sedang mempersoalkan martabat yang jatuh takhta menjadi martabak.

Martabat ialah kehormatan, harga diri, mahkota. Ia dijunjung sangat tinggi. Martabat penyelenggara negara bahkan dikukuhkan dengan sumpah jabatan. Dalam rupiah, berapakah harga martabat? Ketika rupiah melemah seperti saat ini, apakah harganya juga turut melemah?

Martabat yang padanannya harga diri dan kehormatan itu tak diperjualbelikan dan tiada terperi harganya. Barang siapa berani mencoba-coba menawar harganya selayaknya 'ditabok'. Bukan saja karena itu termasuk gratifikasi, korupsi, melainkan juga penghinaan.

Sebaliknya, berapakah harga martabak? Tak perlu tawar-menawar. Bukan saja karena harganya murah, melainkan juga harga pasti. Di beberapa ibu kota provinsi saya mendapat jawaban harganya tak sampai Rp25 ribu. Segitulah nilai kehormatan, harga diri jabatan publik, bila martabat terhina menjadi martabak.

Martabat merupakan hasil pendidikan di rumah dan di sekolah. Ia bertumbuh di ruang publik yang sehat. Padahal, etika dan fungsi-fungsi kepublikan itu justru sedang menjadi masalah besar seperti terjadi dengan anggaran Pemrov DKI. Bila pendidikan dapat diubah menjadi penilapan, itulah contoh martabat menjadi martabak. Bila perintah konstitusi anggaran pendidikan 20% dari APBN bisa disulap antara lain menjadi anggaran pengadaan UPS (uninterruptible power supply), itulah contoh sakitnya berbangsa dan bernegara.

Membeli dan memberi UPS untuk sekolah, ditilik dari substansi pendidikan, samalah membeli dan memberi martabak untuk sekolah. Bukan martabat. Layak dicatat dalam sejarah pendidikan nasional, itulah harga martabak termahal di dunia, yaitu untuk 25 SMA di Jakarta Barat harganya Rp145,76 miliar. Membandingkan martabat dengan martabak bukan kepantasan, melainkan keterlaluan. Akan tetapi, kenyataan kehidupan kepublikan memang terlalu buruk sehingga perlu ditilik dengan komparasi tegas dan lugas.

Sebutlah perihal begal yang sekarang intensif dilibas polisi. Itu begal kelas martabak, kasatmata berkeliaran di ruang publik bernama jalan raya. Harus tuntas dibasmi, tetapi banyak lagi begal-begal bentuk lain yang canggih yang tak tampak mata telanjang, yang sepertinya bermartabat berkeliaran di dalam anggaran negara.

Tak usah ditutup-tutupi bangsa ini sedang menghadapi kemerosotan integritas pemangku fungsi kepublikan bak jatuhnya martabat menjadi martabak. Sekali lagi, jarak martabat dan martabak hanya tinggal empat langkah dari t ke k. Bila terus terjadi pembiaran pembegalan anggaran, terutama sulap dan tilap anggaran pendidikan, percayalah bangsa besar ini berubah menjadi bangsa sebesar martabak.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.