Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAPAKAH harga martabak? Berapakah pula harga martabat? Dari sudut idealisme, jarak keduanya mestinya jauh sekali, bagaikan langit dan bumi.
Akan tetapi, dalam kenyataan, bisa dekat sekali. Bahkan, maaf, boleh jadi sudah sedemikian rusak etika dan fungsi kepublikan sehingga tak ada lagi beda martabat dan martabak.
Lihatlah tuts telepon seluler. Jarak martabat dan martabak hanya empat langkah, dari huruf t ke k. Terpeleset atau terjatuh sedikit saja jemari, martabat berubah menjadi martabak.
Celakanya, itu tak hanya bisa terjadi di tuts telepon seluler atau komputer, tetapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan salah satu masalah besar. Ketika orang mempersoalkan kejujuran, kebersihan, integritas, sebenarnya orang sedang mempersoalkan martabat yang jatuh takhta menjadi martabak.
Martabat ialah kehormatan, harga diri, mahkota. Ia dijunjung sangat tinggi. Martabat penyelenggara negara bahkan dikukuhkan dengan sumpah jabatan. Dalam rupiah, berapakah harga martabat? Ketika rupiah melemah seperti saat ini, apakah harganya juga turut melemah?
Martabat yang padanannya harga diri dan kehormatan itu tak diperjualbelikan dan tiada terperi harganya. Barang siapa berani mencoba-coba menawar harganya selayaknya 'ditabok'. Bukan saja karena itu termasuk gratifikasi, korupsi, melainkan juga penghinaan.
Sebaliknya, berapakah harga martabak? Tak perlu tawar-menawar. Bukan saja karena harganya murah, melainkan juga harga pasti. Di beberapa ibu kota provinsi saya mendapat jawaban harganya tak sampai Rp25 ribu. Segitulah nilai kehormatan, harga diri jabatan publik, bila martabat terhina menjadi martabak.
Martabat merupakan hasil pendidikan di rumah dan di sekolah. Ia bertumbuh di ruang publik yang sehat. Padahal, etika dan fungsi-fungsi kepublikan itu justru sedang menjadi masalah besar seperti terjadi dengan anggaran Pemrov DKI. Bila pendidikan dapat diubah menjadi penilapan, itulah contoh martabat menjadi martabak. Bila perintah konstitusi anggaran pendidikan 20% dari APBN bisa disulap antara lain menjadi anggaran pengadaan UPS (uninterruptible power supply), itulah contoh sakitnya berbangsa dan bernegara.
Membeli dan memberi UPS untuk sekolah, ditilik dari substansi pendidikan, samalah membeli dan memberi martabak untuk sekolah. Bukan martabat. Layak dicatat dalam sejarah pendidikan nasional, itulah harga martabak termahal di dunia, yaitu untuk 25 SMA di Jakarta Barat harganya Rp145,76 miliar. Membandingkan martabat dengan martabak bukan kepantasan, melainkan keterlaluan. Akan tetapi, kenyataan kehidupan kepublikan memang terlalu buruk sehingga perlu ditilik dengan komparasi tegas dan lugas.
Sebutlah perihal begal yang sekarang intensif dilibas polisi. Itu begal kelas martabak, kasatmata berkeliaran di ruang publik bernama jalan raya. Harus tuntas dibasmi, tetapi banyak lagi begal-begal bentuk lain yang canggih yang tak tampak mata telanjang, yang sepertinya bermartabat berkeliaran di dalam anggaran negara.
Tak usah ditutup-tutupi bangsa ini sedang menghadapi kemerosotan integritas pemangku fungsi kepublikan bak jatuhnya martabat menjadi martabak. Sekali lagi, jarak martabat dan martabak hanya tinggal empat langkah dari t ke k. Bila terus terjadi pembiaran pembegalan anggaran, terutama sulap dan tilap anggaran pendidikan, percayalah bangsa besar ini berubah menjadi bangsa sebesar martabak.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved