BUMN

04/11/2015 00:00
BUMN
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PADA sekitar 1950-an Presiden Soekarno menasionalisasi perusahaan Belanda, dan itulah awal Indonesia memiliki badan usaha milik negara. Pantja Niaga, Dharma Niaga, dan Kerta Niaga menjadi perusahaan dagang yang diandalkan untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor.

Pembentukan BUMN sejalan dengan arah kebijakan ekonomi yang ditetapkan dalam konstitusi. Kita memilih jalan ekonomi pasar yang sosial. BUMN diharapkan menjadi institusi bisnis yang bukan hanya mengejar keuntungan, melainkan juga mempunyai tanggung jawab sebagai motor pembangunan sekaligus pengendali pasar.

Cita-cita yang baik tidak selalu menghasilkan yang baik. Sempat BUMN menjadi tempat moral hazard, menjadi ajang bancakan. Itulah yang menyebabkan kinerja BUMN merosot, bahkan tak sedikit yang harus diselamatkan. Semua itu tidak harus membuat kita anti-BUMN. Kita membutuhkan kehadiran mereka dengan pengelolaan profesional. BUMN harus menjadi institusi bisnis yang bukan hanya sehat, melainkan juga menjadi pemain global.

Dua tahun lalu kita bangga melihat Pertamina masuk jajaran Fortune 500. Sebelumnya kita melihat Telkom bisa menjual sahamnya di dua bursa, yaitu Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange. Itu membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang baik, BUMN bisa menjadi perusahaan yang bisa diandalkan.

Dalam perkembangannya, banyak negara menempuh jalan seperti kita. Singapura, misalnya, membangun Temasek sebagai sovereign wealth fund untuk kepentingan 'Negeri Singa'. Malaysia membangun Khasanah sebagai BUMN. Negara-negara Arab memiliki SWF demi menjaga kepentingan bisnis.

Kita kadang iri, negara-negara yang lebih belakangan lebih berhasil membangun BUMN. Kuncinya terletak pada kejelasan strategi bisnis yang dijalankan. Tidak pernah ada perdebatan tentang peran yang harus dijalankan sehingga mereka bisa fokus mencari orang terbaik yang menjalankan perusahaan.

Pada kita sering perdebatan kembali ke titik yang sama. Tidak jelas apa yang kita maui dengan BUMN. Kecurigaan lebih kuat daripada niat untuk memberdayakan. Padahal, kinerja mudah untuk bisa dilihat dan laporan keuangan bisa dijadikan acuan untuk menilai kinerja BUMN.

Dengan kacamata kuda tidak usah heran apabila niat untuk memberi penyertaan modal negara tidak bisa diputuskan Dewan Perwakilan Rakyat. Padahal, anggota DPR tahu sejumlah dana yang sama bisa berbeda nilainya ketika dipergunakan untuk APBN dan PMN. Dana Rp1 miliar akan tetap nilainya Rp1 miliar ketika dijadikan APBN, tetapi bisa menjadi Rp5 miliar ketika dipakai menjadi PMN.

Persoalannya bukan pada perlu atau tidaknya PMN diberikan, melainkan kepada BUMN mana PMN itu diberikan. Pemerintah dan DPR-lah yang menentukan BUMN mana yang akan didorong sebagai motor pembangunan negeri ini. Lalu kita dorong BUMN itu untuk menjadi pemenang, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di arena global.

Itulah pertarungan yang sedang terjadi di dunia. Semua negara berupaya menjadi pemenang dan mereka mendorong BUMN mereka untuk menjadi institusi bisnis terbaik. Mereka berinvestasi ke mana-mana dan memilih bidang yang dikuasai know-how-nya serta menempatkan orang-orang terbaik. Bagi banyak negara, BUMN dan swasta menjadi sama pentingnya sebagai penghela kemajuan ekonomi. Mereka mendorong keduanya untuk maju karena mereka paham 'tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus'. Bagi dunia usaha, tikus itu peluang, sedangkan keuntungan ialah akibatnya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima