Profesor

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/11/2015 00:00
Profesor
(AP/Kirsty Wigglesworth)
"ORANG yang hanya membanggakan IQ-nya, ia seorang pecundang," kata mahaguru masyhur fisika dan matematika, Prof Dr Stephen Hawking.

Baginya, tugas utama ilmuwan ialah terus berupaya membuka tabir lautan ilmu tak bertepi.

Meski suaranya melesap dan fisiknya teronggok di kursi roda, Hawking terus mencari kebenaran ilmu.

Kita tak hendak bicara lebih jauh tentang ilmuwan Inggris itu, ia hanya disebut untuk mengatakan, betapa seorang ilmuwan, terlebih seorang profesor, fisik yang rapuh tak menjadi pintu tertutup untuk menunjukkan pikiran-pikirannya yang kukuh.

Sementara itu, para ilmuwan di Indonesia, khususnya para profesor, memang masih diselimuti awan regulasi yang membelenggu.

Seminar Nasional Keprofesoran yang bertajuk Menggagas Format Baru untuk Menghasilkan Profesor yang Berdisiplin, Kreatif, dan Produktif di Jakarta, Kamis (29/10), menyoal aneka persoalan seputar profesor itu.

Apa definisi profesor?

Apakah penetapan profesor murni akademik atau pertimbangan lain? Kenapa profesor di negeri ini tak berkembang?

Menurut Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara, Sofyan Effendi, di Indonesia profesor masih dianggap gelar.

Padahal, jika merunut konstitusi, ia jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi.

Ia berwenang membimbing calon doktor.

Profesor belum berkembang karena kementerian memang memperlakukan profesor dengan kacamata PNS.

Sofyan mengusulkan perangkat aturan harus dibenahi terlebih dahulu supaya tak menjadi jerat dan perangkap.

Sekadar contoh, tahun lalu sebuah universitas negeri mengajukan kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dua doktor untuk mendapatkan izin dikukuhkan sebagai profesor.

Kedua nama itu bukan dosen, melainkan pejabat dari sebuah institusi yang sama; yang satu atasannya dan satunya lagi wakil atasan.

Kenyataannya sang atasan lebih dahulu dikukuhkan sebagai profesor.

Sementara itu, sang wakil hingga kini belum ada kepastian.

Ini tentu mengundang pertanyaan.

Setelah ditelusuri dari biografinya, sang wakil punya sejarah sebagai dosen dan lebih banyak punya karya ilmiah jika dibandingkan dengan sang atasan.

Apa sesungguhnya tugas profesor selain membimbing calon doktor?

'Profesor memiliki kewajiban menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat' (ayat 2, Pasal 49, UU No 14 Tahun 2005).

Kita tahu ada banyak profesor yang tak menulis buku dan karya ilmiah.

Ironisnya, kita justru tengah amat kekurangan mahaguru itu.

Dengan sebanyak 23.074 program studi dari 4.327 perguruan tinggi negeri dan swasta di Tanah Air, Indonesia hanya mempunyai 5.097 profesor.

Jika satu program studi mesti punya satu profesor, jelas itu masih amat jauh.

Sementara itu, dari yang amat sedikit tersebut, sebagian tidak berdisiplin, kreatif, dan produktif.

Memang, di negeri ini masih banyak yang memperlakukan gelar dan jabatan sebagai penghias dan pemantap diri, menambah 'wibawa seremoni', tak peduli apa yang diamanahkan kontitusi.

Tak peduli publik dicerahkan atau dikeruhkan.

Meminjam kalimat Hawking seraya mengganti 'IQ-nya', "Orang yang hanya membanggakan gelar dan jabatan, ia seorang pecundang."


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.