Blok Mahakam

31/10/2015 00:00
Blok Mahakam
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PEMERINTAH sudah memutuskan menyerahkan pengelolaan Blok Mahakam kepada Pertamina setelah pengelolaan Total Indonesie berakhir 31 Desember 2017.

Pertamina pun menyatakan siap mengelolanya kelak.

Kita mengapresiasi langkah pemerintah memberi kepercayaan kepada Pertamina. Inilah bagian dari bentuk kedaulatan yang didambakan.

Kita semua mengharapkan perusahaan Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Namun, tantangan tidak berhenti hanya pada langkah politik. Justru yang lebih berat bagaimana melaksanakannya.

Masa peralihan merupakan waktu paling krusial. Proses pemindahtanganan harus direncanakan secara baik agar tidak mengganggu produksi.

Kita mendengar kabar, kini kegiatan di Blok Mahakam menurun drastis. Beberapa operator di lapangan menyebutkan kegiatan eksploitasi diperkirakan tinggal 30%.

Total Indonesie sudah tidak berminat melakukan investasi karena izin kontraknya akan berakhir. Sementara Pertamina belum menanamkan investasi karena baru dua tahun lagi akan menangani blok tersebut.

Penurunan kegiatan eksploitasi tentu merugikan Indonesia. Jangan lupa, Blok Mahakam memasok 30% produksi gas Indonesia. Kalau produksinya terganggu, berarti target perolehan minyak dan gas berada di bawah target.

Itu baru kerugian jangka pendek.

Dalam jangka menengah, penurunan kegiatan eksploitasi memberatkan Pertamina ketika kelak mengambil alih pengelolaan.

Pertamina harus mengeluarkan investasi lebih besar untuk menghidupkan sumur-sumur yang terlalu lama tidak dieksploitasi. Di sinilah pentingnya tindak lanjut. Kita sering kali puas dengan langkah politik.

Seakan semua selesai ketika diucapkan. Padahal, yang lebih penting eksekusi di lapangan. Harus ada orang yang mau melakukan dirty work agar langkah politik memberikan hasil.

Kita ingin mengingatkan pentingnya sikap get things done. Sebab, semua rencana yang baik tidak ada artinya bila tidak dilaksanakan.

Kita semua bertepuk tangan ketika pemerintah memutuskan mengelola sendiri blok migas yang dimiliki, tetapi ternyata kelak produksinya malah menurun.

Untuk itulah pemerintah perlu memanggil Total Indonesie. Pemerintah bisa menanyakan rencana kerja mereka. Bagaimanapun mereka memiliki tanggung jawab mengelola Blok Mahakam sebaik-baiknya hingga akhir 2017.

Mereka tidak bisa menurunkan kegiatan hanya karena akan berakhir kontrak kerjanya.

Rencana kerja Total Indonesie bisa disinkronkan dengan rencana Pertamina. Pemerintah harus menjadi jembatan yang menghubungkan Total dan Pertamina.

Semua itu harus ditempatkan dalam kepentingan besar Indonesia agar bisa memenuhi target perolehan minyak dan gas yang dibutuhkan guna mendorong pembangunan.

Pengalaman Blok Mahakam merupakan pelajaran penting bagi kita untuk menghadapi tantangan ke depan.

Kita tidak cukup hanya bermodal nasionalisme ketika mengambil alih operasi migas dan juga tambang. Diperlukan kompetensi agar memberikan hasil terbaik.

Pepatah Inggris mengatakan easier said than done.

Pada kita sering kali hanya omong besar yang dimiliki, lupa bahwa menjadi pelaku lebih berat daripada menjadi pengamat.

Ketika sudah masuk ke dalam hal teknis, baru kita menyadari peliknya persoalan dan dibutuhkan kompetensi khusus untuk menanganinya.

Sekarang belum terlambat untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Hanya tentu diperlukan penanganan segera karena industri minyak dan gas ini sangatlah spesifik.

Tidak boleh ada waktu berleha-leha, apalagi istirahat.

Sekali ladang minyak dan gas itu terhenti operasinya, biaya untuk menghidupkan kembali jauh lebih mahal.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.