SM Amin, Oasis

30/10/2015 00:00
SM Amin, Oasis
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TAN Malaka benar, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda." Tanpa 'kemewahan terakhir' itu, saya kira sulit membayangkan wajah Indonesia hari ini. Jika mereka takluk sejak awal, tak ada perhimpunan pemuda dengan aneka 'Jong'. Tak ada Kongres Pemuda. Tak ada ikrar kesepakatan tentang tanah air, bangsa, dan bahasa.

Di antara para penyandang 'kemewahan terakhir' itu, agaknya banyak nama yang hingga kini terdengar samar. Salah satu nama itu Krueng Raba Nasution, kelahiran Aceh Besar, 22 Februari 1904. Setelah lulus Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia pada 1933, sepenuhnya ia bernama Sutan Muhammad (SM) Amin. Ia tak hanya mematrikan idealisme ketika muda, tapi membawanya hingga tua.

Tokoh ini aktif dalam Jong Sumateranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Namun, sebagai anggota Komisi Besar Indonesia Muda, ia juga bertugas meleburkan organisasi-organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional. Ia aktif dalam persiapan-persiapan Sumpah Pemuda II di Jakarta. Namun, dari Sumatra, SM Amin memang kalah bersinar ketimbang Mohammad Jamin dan Amir Sjarifuddin.

Karena ia terdengar samar dan kurang bersinar itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku Peran MR SM Amin dalam Sumpah Pemuda dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Buku yang dieditori Ichwan Azhari dan diberi pengantar oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dan Kepala Museum Sumpah Pemuda Agus Nugroho ini diluncurkan pada peringatan Sumpah Pemuda 2015 di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta (28/10).

Ia membawa idealisme ke mana pun bekerja. Ketika menjadi guru, ia banyak mendidik tentara pelajar. Ketika menjadi hakim, ia berikan keadilan dan kepastian hukum.

Adapun ketika menjadi Gubernur Sumatra Utara (14 April 1947) dan Riau (mulai 27 Februari 1958), ia nyaring mengatakan 'tidak' pada korupsi. Ia pecat pejabat korup. Melarang keluarganya menerima hadiah apa pun, juga memakai kendaraan dinasnya.

SM Amin dilantik Bung Karno pada 19 Juni 1948, setahun kemudian. Ia meng-akhiri tugasnya pada 1949, tapi Oktober 1953 diminta kembali memimpin Sumatra Utara.

Saat itu baru sebulan Daud Baureueh mendeklarasikan Negara Islam Aceh bergabung dengan NII pimpinan Kartosuwirjo di Jawa Barat. Namun, SM Amin tetap menolak penyelesaian Aceh dengan cara militer.

SM Amin sedikitnya telah menerbitkan 12 buku, beberapa di antaranya Indonesia di Bawah Rezim Demokrasi Terpimpin (1960), Demokrasi dalam Bahaya (1965), dan Kodifikasi Unifikasi Hukum Nasional (1977). Berbagai bintang jasa juga telah disematkan negara kepada sosok ini.

Nilai penting Mr SM Amin, dalam konteks hari ini jelas, dengan meluruhnya semangat masyarakat Sumatra Utara dan Riau, yang dua kali gubernurnya terjerat korupsi secara beruntun, SM Amin ialah oasis yang mestinya bisa menguatkan kembali bahwa di dua provinsi ini pernah ada seorang gubernur yang bersahaja, bersih, dan tegak lurus dalam menjalankan tugas.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.