Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
'KESABARAN adalah bumi.' Begitu kata Rendra dalam sajaknya Paman Doblang, yang ia tulis dari ruang pengap rumah tahanan Guntur, Jakarta, 44 tahun yang lalu. ‘Si Burung Merak’ mengamsalkan kesabaran laiknya bumi karena bumi tak pernah protes walau diinjak, dikuras isi perutnya, digunduli hutannya, dibajak tanahnya dari generasi ke generasi, digenangi air bah karena banjir.
Dalam beragam episode 'kegetiran', bumi tetap memberi harapan kepada manusia: memunculkan tumbuhan, pangan, buah-buahan, dan air yang dipersembahkan kepada manusia dan makhluk hidup lainnya. Belajar dari bumi, kesabaran itu kukuh, fokus, disiplin, memberi. Sikap seperti itu kiranya pas untuk kita terapkan dalam menghadapi pandemi covid-19 yang belum jelas di mana ujungnya hingga kini.
Di saat kita tengah mendapatkan kabar gembira ihwal mulai melandainya kasus positif covid-19 di Tanah Air dalam tiga pekan terakhir, Badan Kesehatan Dunia (WHO) malah membawa kabar tak enak, pekan lalu. Lembaga itu menyebut pandemi virus korona tumbuh secara eksponensial.
Penumbuhan eksponensial yang dimaksud WHO merujuk pada kenaikan jumlah kasus per hari secara global yang memiliki faktor bersifat konstan atau mendekati. Itu mengindikasikan jumlah kasus masih membeludak di luar ekspektasi. "Kita berada di titik kritis pandemi," kata Kepala Teknis WHO Maria Van Kerkhove, dikutip dari CNBC, awal pekan lalu.
WHO mencatat kasus korona di seluruh dunia naik 9%, peningkatan mingguan ketujuh berturut-turut. Angka kematian juga melonjak 5%. Maka, WHO pun mencari akar musabab kondisi itu terjadi. Jawabnya: banyak yang merasa sudah aman seusai vaksinasi sehingga melonggarkan protokol kesehatan.
Sejumlah negara ternyata kini tetap melonggarkan pembatasan meski kasus baru setiap pekan mencapai delapan kali lebih tinggi daripada angka di 2020. Padahal, sebelumnya ahli WHO lain, yakni Kepala Program Darurat Kesehatan Dr Mike Ryan sudah mengingatkan warga dunia untuk tetap menggunakan masker dan menerapkan aturan jarak sosial sembari vaksinasi berjalan. "Virus ini lebih kuat, lebih cepat dengan munculnya varian baru yang menyebar lebih mudah dan lebih mematikan daripada strain virus asli," tegasnya.
Maka, sebagaimana dikatakan Rendra, kita butuh kesabaran ekstra layaknya bumi. Kita patut mensyukuri kenyataan mulai landainya kurva kasus covid-19. Cara mensyukurinya, ya dengan gigih menerapkan protokol kesehatan.
Dengan kesabaran ekstra, kita bisa bergegas melanjutkan mimpi besar kemajuan Indonesia di masa depan. Pandemi kiranya sempat membuyarkan mimpi Indonesia masa depan itu. Banyak yang mulai mengira masa depan sudah ambyar, gelap lagi.
Walhasil, cukup banyak orang enggan berdiskusi tentang masa depan Indonesia pascapandemi. Alasan mereka sederhana: tak percaya Indonesia masih punya masa depan setelah pandemi yang sangat memukul ini.
Sikap seperti bisa dimengerti meski salah. Begitu dahsyatnya dampak pandemi bagi beragam sendi kehidupan membikin sebagian orang berhenti berharap. Bagi mereka, masa depan setelah pandemi menjadi sesuatu yang tak terumuskan, alias gelap.
Ada baiknya kita kutip St Agustinus, seorang filsuf gereja yang hidup di abad keempat. “Waktu,” kata dia, “adalah tiga lipatan masa: masa kini sebagaimana kita alami saat ini, masa lalu sebagai memori masa kini, dan masa depan sebagai harapan masa kini.” Merujuk pada Agustinus, sosiolog Daniel Bell dalam essainya The Future as Present Expectation, menulis bahwa masa depan sebetulnya telah hadir di masa kini. Masa depan ialah konsekuensi dari cara kita mengelola masa kini.
Masa depan kita pascapandemi sebetulnya sedang dirumuskan. Wujudnya sangat bergantung pada kerja kita hari ini dalam perang melawan covid-19. Maka masa depan sangatlah konkret, tidak absurd dan kabur. Mengubur masa depan dalam gelap sebetulnya mencerminkan ketidakmauan dan ketidakmampuan mengelola masa kini.
Termasuk di dalamnya ialah kemampuan dan kemauan kita disiplin menerapkan protokol kesehatan. Kita bersyukur sudah tersedia 59,6 juta bahan vaksin covid-19 yang sudah kita punya hingga Juni nanti. Kita melihat gelagat ekonomi yang kian menggeliat. Salah satu faktanya: surplus dagang kita US$5,52 miliar pada Januari-Maret 2021, lebih tinggi dua kali lipat daripada surplus periode yang sama, tahun lalu, senilai US$2,62 miliar.
Alhasil, yang kita perlukan tinggal kesediaan kita menjadi 'bumi', yang sabar dan terus menebarkan optimisme masa kini dan masa depan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved