Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGERI ini tentu bangga karena tinggal selangkah lagi punya kilang pengolahan minyak tercanggih di Asia, yakni Kilang Balongan milik Pertamina. Makin siap 'menepuk dada' jika pembangunan Kilang Tuban yang diproyeksikan sebagai salah satu tempat pengolahan minyak tercanggih di dunia bisa tuntas pada 2026 nanti.
Kita patut bangga karena sejak merdeka pada 1945, negeri yang pernah menjadi pengekspor minyak mentah terkemuka ini tak sanggup mengolah seratus persen minyak mentahnya sendiri. Kita selalu bergantung (ada yang menyebut sengaja menggantungkan diri) pada kilang milik negara lain untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar.
Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, dan Kilang Tuban, Jawa Timur, bisa menjadi tonggak penting bagaimana negeri ini memiliki kesadaran baru akan kemajuan peradaban di bidang teknologi perminyakan. Kilang minyak Balongan yang mulai beroperasi pada 1994 mampu memproduksi bahan bakar minyak ramah lingkungan.
Kilang keenam dari tujuh kilang milik Pertamina itu mengolah minyak mentah Duri dan Minas yang berasal dari Provinsi Riau menjadi premium, pertamax, pertamax plus, solar, pertamina dex, kerosin (minyak tanah), elpiji, hingga propilena. Produksi tersebut utamanya dipasok ke DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat, dan sekitarnya.
Selain itu, pada 2018, kilang tersebut sudah mampu memproduksi bahan bakar penerbangan, yakni avtur.
Terbaru, beberapa waktu lalu Kilang Balongan resmi memulai proyek peningkatan kapasitas produksi. Proyek tersebut dilakukan untuk meningkatkan produksi olahan minyak dari 125 ribu barel per hari menjadi 150 ribu barel.
Selain itu, peningkatan kapasitas tersebut ditargetkan mampu menghasilkan naptha untuk proses lanjut dari 5,29 ribu barel per hari menjadi 11,6 ribu barel per hari. Proyek peningkatan kapasitas itu diharapkan rampung pada Maret 2022.
Tak cukup dengan kemampuan Kilang Balongan, Pertamina pun merancang proyek sangat prestisius, yakni pembangunan Kilang Tuban. Pertamina siap membangun salah satu kilang tercanggih di dunia, yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari. Bahkan Pertamina harus mengeluarkan investasi sebesar US$16 miliar atau sekitar Rp225 triliun untuk megaproyek itu.
Kilang Tuban nantinya akan menghasilkan 30 juta liter BBM per hari untuk jenis gasolin dan diesel. Selain itu, Kilang Tuban akan menghasilkan 4 juta liter avtur per hari serta produksi petrokimia sebesar 4,25 juta ton per tahun.
Kilang itu disebut sebagai salah satu yang tercanggih di dunia karena seluruh BBM yang diproduksi di Kilang Tuban memiliki standar terbaik di dunia, yakni Euro5, yang sangat ramah lingkungan. Rata-rata kilang minyak di dunia masih berstandar Euro4, malah banyak yang masih Euro3. Proyek itu menempati area seluas kurang lebih 900 hektare dan ditargetkan rampung pada 2026.
Ini salah satu proyek prestisius dan sangat strategis dalam membangun kemandirian dan kedaulatan energi nasional. Kilang Tuban akan memberikan tambahan pasokan untuk kebutuhan BBM, elpiji, dan petrokimia berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan kehadiran Kilang Tuban, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari kilang sendiri dan tidak perlu impor. Walhasil, uang negara bisa dihemat dan defisit APBN yang selalu jadi momok bisa kian ditekan.
Belum lagi pembangunan kilang tersebut juga akan menyerap 35% tingkat komponen dalam negeri, menyerap tenaga kerja sebanyak 20 ribu saat konstruksi dan 2.500 saat operasi. Proyek tersebut juga akan menciptakan efek berantai lainnya, terutama di daerah sekitar lokasi di Tuban, termasuk peningkatan pendapatan negara dan daerah, baik dari pajak maupun penguatan devisa negara.
Namun, ada saja 'noda' yang mengganggu mimpi besar itu. Kebakaran dahsyat tiga tangki penampungan minyak di Kilang Balongan merupakan tamparan keras. Apalagi bila benar bahwa musababnya sambaran petir. Orang akan bepersepsi bahwa kita memang belum sanggup berada di level teknologi canggih. Orang beranggapan kita baru di tingkatan mimpi besar. Buktinya, masih kalah melawan petir.
Saya meyakini kita bisa 'menekuk' persepsi negatif itu. Saya hakulyakin Pertamina bisa mengatasi musibah itu lalu melanjutkan merealisasikan mimpi-mimpi besar kemandirian energi. Bukankah jejak itu telah terbukti di Kilang Balongan jauh sebelum terjadinya ledakan? Sekali lagi, saya yakin ada berkah di balik musibah.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved