MAUT menyapa sejarawan masyhur Inggris Arnold Joseph Toynbee, 22 Oktober 1975.
Ia lahir di London, Inggris, 14 April 1889, dari pasangan Henry Valpy Toynbee, saudagar teh yang beralih menjadi pekerja sosial, dan Sarah Edith Marshall, ahli sejarah Universitas Cambridge.
Sang ibulah yang menempa Toynbee hingga mendapat beasiswa belajar sastra Yunani dan Romawi Kuno ke Balliol College, Oxford.
Mahasiswa cemerlang itu lulus pada 1912.
Tujuh tahun kemudian ia menggenggam gelar profesor sejarah internasional dari Universitas London.
Kesehatannya yang tak prima justru jadi keberuntungan.
Ia terbebas dari menjalani wajib militer untuk diterjunkan pada Perang Dunia I.
Banyak di antara mereka gugur.
Sebagai rasa terima kasihnya atas anugerah hidup, ia banyak melibatkan diri dalam perdamaian.
Seraya berjejak pada Injil, Toynbee kerap berseru, "Semua yang menggunakan pedang akan musnah bersama pedangnya."
Kekerasan akan menjadi embrio kekerasan baru!
Toynbee dipercaya memimpin Royal Institute of International Affairs (1925-1955).
Jabatan itu justru kian menyuburkan hasratnya melakukan riset dan menulis.
Lahirlah beberapa buku, di antaranya Nationality and the War (1915), Civilization on Trial (1948), The World and the West (1953), East to East, East to West (1958), A Study of History (1961), dan Mankind and Mother Earth (1976).
Kata Toynbee, di mana pun salah satu gejala kerusakan sosial dan penyebab kerusakan sosial ialah merosotnya peran 'minoritas dominan', ya para pemimpin.
Tugas pemimpin kreatif ialah memainkan peran sebagai penakluk menghadapi tantangan dengan tanggapan yang memberikan harapan dan menjanjikan.
Ada empat fase perjalanan kekuasaan menurut Toynbee: dimulai dari lahir dan bangkit (genesis), masa tumbuh (growth), masa surut (breakdown), dan terakhir masa punah (disintegrated).
Dalam masyarakat yang runtuh, para pemimpin kreatif diminta untuk memainkan peran ratu adil, menyelamatkan masyarakat yang telah gagal menghadapi tantangan.
Toynbee banyak memakai surat kabar untuk melacak berbagai peristiwa kontemporer di seluruh dunia.
Kemajuan sebuah bangsa, katanya, salah satunya lewat pertumbuhan surat kabar.
Dari surat kabar juga ia meyakini peradaban Barat tengah memperlihatkan 'kecenderungan bunuh diri'.
Pemujaan terhadap teknologi, proliferasi senjata nuklir, konflik terus-menerus, nasionalisme, konsumerisme ekstrem, kerakusan, kurangnya perhatian pada negeri sedang berkembang, dan egosentrisme ialah fakta-fakta 'bunuh diri' itu.
Sejarawan itu memang menjadi rujukan banyak pemimpin dunia.
Di Indonesia, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin, misalnya, kerap menyitir Toynbee.
Di depan Konferensi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 1962, Yamin menyitir teori kekuasaan Toynbee untuk menguraikan kejayaan Majapahit.
Menurut Yamin, Majapahit-lah usia kekuasaan terpanjang jika dibandingkan dengan kekuasaan kerajaan mana pun di Nusantara, yakni 232 tahun (1293-1525).
Kerajaan itulah yang menjadi inspirasi nasionalisme Indonesia.
Kata sejarawan George Seeley, "Kita belajar sejarah agar bijak sejak awal."
Jejak sejarah akan mengajari kita ke masa silam, tetapi masa silam yang mengajari perihal masa depan.
Namun, seperti tak ada sejarah yang dipelajari di sini.
'Kaum minoritas dominan', khususnya para pemimpin politik, bukan menjadi penakluk yang berani menghadapi tantangan dan memberikan harapan.
Mereka justru kerap memadamkan noktah-noktah inspirasi.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima