Nasihat Iwan J Azis

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
26/10/2015 00:00
Nasihat Iwan J Azis
(MI/PANCA SYURKANI)
DALAM menghadapi melambannya ekonomi, ada tiga 'nasihat' Profesor Iwan Jaya Azis.

Tiga nasihat itu terdiri atas dua faktor internal dan satu eksternal. Jangan salah paham, sayalah yang menyebutnya 'nasihat', bukan sang profesor ekonomi Cornell University, itu.

Nasihat, bukan pendapat, sebab lebih untuk didengarkan, bukan diperdebatkan.

Iwan Jaya Azis berbicara dalam seminar Mendalami Krisis Global & Kebijakan Ekonomi Nasional di Jakarta, 20 Oktober lalu.

Katanya, sebagaimana terbaca dalam makalahnya, untuk faktor internal, jangan terbuai dengan 'fundamen baik'.

Mengapa? Karena pengertiannya berubah.

Perilaku sektor keuangan bisa membalik keadaan secara mendadak di tengah keterkaitan antarnegara yang makin besar dan kompleks.

Di hampir semua episode krisis, menurut Iwan Jaya Azis, pernyataan kondisi 'fundamen baik' sering tidak sesuai dengan kenyataan karena indikator yang berubah.

Seperti diketahui, pengambil kebijakan gemar mengatakan fundamen ekonomi baik.

Melambannya perekonomian, memburuknya nilai tukar rupiah, lebih disebabkan faktor eksternal.

Nasihat kedua mengenai faktor nonfundamental, khususnya kepercayaan pasar dan masyarakat.

Faktor itu sulit dikelola, tapi mudah dibuat negatif.

Mengapa?

Karena informasi makin banyak dan cepat penyebarannya, sedangkan masyarakat makin mengerti.

Nasihatnya, hindari penyampaian informasi yang tak sesuai kenyataan, tidak jelas, kontradiktif, dan bertentangan antarpembuat kebijakan.

Nasihat itu sangat pas.

Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli bertentangan dengan Wakil Presiden Jufuf Kalla mengenai proyek listrik 35 ribu Mw.

Silang pendapat antarpengambil kebijakan juga terjadi menyangkut impor beras.

Nasihat ketiga, faktor eksternal, agar proaktif memengaruhi aturan tentang hubungan dan kerja sama ekonomi global/regional.

Hemat saya, dalam perkara itu, jangan-jangan kita bukan saja tidak proaktif, melainkan juga tak sensitif dengan perkembangan mutakhir.

Contoh, tak banyak menarik perhatian di dalam negeri, sebuah pakta baru perdagangan internasional akhirnya disepakati awal bulan ini di Atlanta, AS.

Pakta itu diklaim sebagai terobosan perdagangan internasional abad ke-21, yang harus diwaspadai dampaknya di kawasan Pasifik.

Pakta bernama Trans-Pacific Partnership itu melibatkan 12 negara di Asia dan Amerika berpenduduk total 800 juta, menguasai 40% ekonomi dunia dengan total GDP US$30 triliun.

Pakta itu berisi kesepakatan mengurangi atau menghilangkan tarif 18 ribu kategori barang di 12 negara, yakni Kanada, Meksiko, Brunei, Selandia Baru, AS, Peru, Malaysia, Australia, Cile, Singapura, Jepang, dan Vietnam.

Pakta itu baru dapat disepakati melalui perundingan sangat alot, 32 kali negosiasi dalam 5 tahun.

Apa manfaatnya?

Bagi AS, melalui pakta itu, mereka terus memperkuat dominasi di Asia Pasifik, khususnya untuk menyeimbangkan meningkatnya pengaruh Tiongkok di Asia Timur.

Vietnam, negara eksportir berbasiskan upah buruh murah, diestimasikan bakal meraih keuntungan ekonomi terbesar dari pengurangan dan penghapusan 18 ribu tarif.

Pada 2025, pakta TPP itu diperkirakan berpengaruh 10% terhadap ekonomi Vietnam. Terhadap ekonomi Malaysia berdampak 5,5%.

Tak mengherankan, sembilan hari setelah TPP disepakati, Presiden Filipina Benigno Aquino langsung menyatakan minat bergabung.

Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? Semoga nasihat Prof Iwan didengarkan pembuat kebijakan.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.