Dilema Demokrasi

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
16/2/2021 05:00
Dilema Demokrasi
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LAURA Quinn, salah seorang pendiri lembaga kontra disinformasi bernama Catalist. Berdasarkan penelitiannya, Quinn merekomendasikan solusi melawan disinformasi bukan dengan menyerangnya, melainkan memaksa platform menghapus dan melarang konten disinformatif itu.

“Ketika Anda diserang, insting Anda ialah menolak dengan berkata, ‘Itu tidak benar’, tetapi jika Anda melakukan itu, platform mendorongnya dan algoritme membacanya sebagai, ‘Oh, ini populer, orang menginginkannya lagi’,” kata Quinn seperti dikutip Time edisi 15-22 Februari 2021. “Platform-platform punya kebijakan melawan perilaku fitnah, tetapi mereka perlu dipaksa.”

Di seputar Pilpres Amerika 2020, Facebook dan Twitter memblokir akun Donald Trump sampai presiden Amerika itu selesai menjabat. Trump dikenal gemar menyampaikan disinformasi melalui media sosial. Kemenangan Trump atas Hillary Clinton pada Pilpres Amerika 2016 tak terlepas dari disinformasi yang dia tebar di media sosial.

Yang dilakukan Quinn dan kawan-kawannya rentan dituduh melanggar kebebasan berpendapat, bertentangan dengan demokrasi. Padahal, Quinn dan kawan-kawan ingin menyelamatkan Pilpres AS 2020, menyelamatkan demokrasi. Inilah dilema demokrasi. Tindakan yang sebetulnya hendak menegakkan demokrasi dianggap ingin membengkokkan demokrasi.

Pilpres dan demokrasi Amerika terselamatkan. Trump gagal menjadi presiden untuk periode kedua. Apa boleh buat, ukuran kemenangan demokrasi ialah kekalahan Trump.

Quinn tak sampai mendapat tuduhan tindakannya bertentangan dengan demokrasi. Berbeda dengan di Indonesia, tindakan serupa yang dilakukan Quinn dianggap melanggar kebebasan berbicara, kebebasan sipil, bertentangan dengan demokrasi.

Ketika pemerintah memblokir akun Telegram yang menyebarkan terorisme, warganet menganggap Presiden Jokowi diktator dan anti-Islam. Padahal, dengan memblokir Telegram, pemerintah hendak menyelamatkan rakyat Indonesia dari terorisme, menyelamatkan demokrasi juga. Toh, setelah Telegram sepakat memfilter konten terorisme dan radikalisme, pemerintah membuka blokirnya.

Ketika membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia dan kemudian Front Pembela Islam, pemerintah dituduh membungkam kebebasan sipil. Padahal, HTI organisasi antidemokrasi yang berjuang menegakkan khilafah di Indonesia. Pun FPI organisasi yang acap melakoni kekerasan dan prosyariah dan itu bertentangan dengan demokrasi. Itu artinya dengan membubarkan kedua organisasi, negara telah menyelamatkan demokrasi.

Ilmuwan Robin Bush menganggap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertanggung jawab atas maraknya intoleransi dan kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok radikal dan intoleran. Bush menilai begitu karena SBY selama 10 tahun berkuasa memelihara kelompok-kelompok tersebut. Akan tetapi, ketika pemerintah menindak kelompok-kelompok radikal itu demi menegakkan demokrasi, ilmuwan Greg Fealy mengatakan Presiden Jokowi melakukan kampanye penindasan sistematis terhadap kalangan islamis.

Ketika mempersilakan masyarakat mengkritik pemerintah, Presiden Jokowi malah mendapat serangan balik. Kata para penyerang, bagaimana mengkritik pemerintah kalau setelah mengkritik harus berurusan dengan polisi. Mantan Wapres Jusuf Kalla sampai bertanya bagaimana caranya mengkritik tanpa berurusan dengan polisi.

JK mungkin kini lupa membedakan kritik dengan fitnah, nyinyir, ujaran kebencian, hoaks, hujatan, makian. Keluarga JK pernah melaporkan Ferdinand Hutahaean yang ‘mengkritik’ JK membiayai kepulangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari Arab Saudi. JK menduga Ferdinand bukan mengkritik, melainkan memfitnah. Pun, JK melaporkan Ferdinand karena perangkat hukumnya tersedia, yakni UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Itu artinya JK dan keluarganya dulu, ketika melaporkan Ferdinand, ingat caranya mengkritik tanpa harus berurusan dengan polisi. Caranya lontarkanlah kritik, bukan fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan sejenisnya.

Melaporkan ke polisi dugaan pelanggaran hukum, serupa yang dilakukan JK, sebetulnya tindakan demokratis. Bukankah rule of law pertanda demokrasi? Yang tidak demokratis bila orang main hakim sendiri alih-alih melaporkannya ke polisi.

Negara harus memilih satu di antara dilema demokrasi itu. Negara semestinya memilih langkah yang kiranya bermanfaat bagi demokrasi. Manfaatnya mungkin tidak dirasakan hari ini, tetapi di masa mendatang.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.