Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TRAGEDI 1965 kini tetap menjadi misteri dan kontroversi yang tak pernah putus.
Semakin lama, justru kian banyak versi. Berbeda dengan naskah-naskah lama lewat filologi bisa ditelusuri mana yang asli dan variannya, baku-bunuh saudara sebangsa itu, belum menemukan 'versi asli'.
Jika yang asli masih terus dicari, bagaimana rekonsiliasi mesti dihelat?
Seminar bertajuk 50 Tahun Kegagalan Gestapu yang dihelat Institut Peradaban yang diketuai Salim Haji Said di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (21/10), membuktikan versi asli masih terus dicari.
Benarkah PKI terlibat? Berapa korban sesungguhnya?
Siapa yang memerintahkan pemberontakan? Siapa penanggung jawab keamanan para jenderal penting itu?
Bagaimana pula hubungan kakak-beradik, Ir Sakirman tokoh penting PKI dan Jenderal S Parman yang menjadi korban?
"Saya kira tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada 30 September," kata wartawan senior Amarzan Ismail Hamid Lubis.
Beberapa tokoh seperti Taufiq Ismail, Fahmi Idris, Harry Tjan Silalahi, Saleh As'ad Djamhari, Firdaus Wajdi, yakin PKI terlibat dalam Tragedi 1965.
Dengan 3 juta kader dan 20 juta anggota waktu itu, PKI memang telah mempersiapkan pemberontakan. Ketua Umum PKI, DN Aidit, penerima mandat pemberontakan itu.
Kenapa para jenderal itu yang menjadi target?
Sejarawan TNI Saleh As'ad yang melakukan penelitian dengan pendekatan biografis menemukan fakta karena para jenderal, kecuali S Parman, berlaku tegas kepada para anggota PKI yang melakukan pemberontakan Madiun 1948.
Ada dendam yang disimpan lama.
Bung Karno menyebut tragedi itu sebagai 'Gestok' (Gerakan Satu Oktober), Soeharto menamai Pengkhianatan G-30-S/PKI atau Gestapu' (Gerakan September Tiga Puluh).
Komnas HAM menyebutnya 'G-30-S'. Dalam buku Malam Bencana (2008) yang ditulis para sejarawan, juga ada versi PKI, versi AD, versi CIA, versi Soeharto.
Dalam film, setidaknya kini muncul Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer, sutradara Amerika.
Film-film ini setidaknya sebagai pembanding film Pengkhianatan G-30-S PKI karya Arifin C Noer yang mulai diputar pada 1984.
Ada suara yang minta kita tetap waspada sebab PKI tak akan mau benar-benar pergi. Namun, umumnya peserta seminar sepakat kini kita perlu perdamaian total.
Menurut Taufiq Ismail, 50 tahun bangsa ini dibelit rantai.
"Kita harus memotong rantai itu, menghancurkannya, dan menguburkannya," kata Taufiq yang membacakan tanggapan seperti membacakan sajak-sajaknya.
Kita tak peduli apakah CIA terlibat atau tidak.
Kita tak peduli pengakuan Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, bahwa negerinya 'tak menciptakan ombak, tapi hanya menunggang ombak itu sampai ke pantai'.
Kita peduli, karena 50 tahun kita terbelenggu rantai.
Menurut Salim Said, yang hari itu meluncurkan buku Gestapu 65, Tragedi 1965 ialah luka bangsa tak terkira. Karena itu, seluruh dokumen harus dibuka. Tak hanya yang tersimpan di Amerika.
Yang tak kalah banyak, mungkin tersimpan di Rusia dan Tiongkok dalam kedua bahasa, yang belum banyak dibuka. Semakin banyak versi, semakin baik pula mencari di titik mana kita bersepakat.
Kita setuju. Soal cara dan formulanya, bisa dibincangkan sebaik-baiknya. Perlu segera agar tak membuang energi percuma dalam waktu yang kian lama.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved