Memotong Rantai

23/10/2015 00:00
Memotong Rantai
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TRAGEDI 1965 kini tetap menjadi misteri dan kontroversi yang tak pernah putus.

Semakin lama, justru kian banyak versi. Berbeda dengan naskah-naskah lama lewat filologi bisa ditelusuri mana yang asli dan variannya, baku-bunuh saudara sebangsa itu, belum menemukan 'versi asli'.

Jika yang asli masih terus dicari, bagaimana rekonsiliasi mesti dihelat?

Seminar bertajuk 50 Tahun Kegagalan Gestapu yang dihelat Institut Peradaban yang diketuai Salim Haji Said di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (21/10), membuktikan versi asli masih terus dicari.

Benarkah PKI terlibat? Berapa korban sesungguhnya?

Siapa yang memerintahkan pemberontakan? Siapa penanggung jawab keamanan para jenderal penting itu?

Bagaimana pula hubungan kakak-beradik, Ir Sakirman tokoh penting PKI dan Jenderal S Parman yang menjadi korban?

"Saya kira tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada 30 September," kata wartawan senior Amarzan Ismail Hamid Lubis.

Beberapa tokoh seperti Taufiq Ismail, Fahmi Idris, Harry Tjan Silalahi, Saleh As'ad Djamhari, Firdaus Wajdi, yakin PKI terlibat dalam Tragedi 1965.

Dengan 3 juta kader dan 20 juta anggota waktu itu, PKI memang telah mempersiapkan pemberontakan. Ketua Umum PKI, DN Aidit, penerima mandat pemberontakan itu.

Kenapa para jenderal itu yang menjadi target?

Sejarawan TNI Saleh As'ad yang melakukan penelitian dengan pendekatan biografis menemukan fakta karena para jenderal, kecuali S Parman, berlaku tegas kepada para anggota PKI yang melakukan pemberontakan Madiun 1948.

Ada dendam yang disimpan lama.

Bung Karno menyebut tragedi itu sebagai 'Gestok' (Gerakan Satu Oktober), Soeharto menamai Pengkhianatan G-30-S/PKI atau Gestapu' (Gerakan September Tiga Puluh).

Komnas HAM menyebutnya 'G-30-S'. Dalam buku Malam Bencana (2008) yang ditulis para sejarawan, juga ada versi PKI, versi AD, versi CIA, versi Soeharto.

Dalam film, setidaknya kini muncul Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer, sutradara Amerika.

Film-film ini setidaknya sebagai pembanding film Pengkhianatan G-30-S PKI karya Arifin C Noer yang mulai diputar pada 1984.

Ada suara yang minta kita tetap waspada sebab PKI tak akan mau benar-benar pergi. Namun, umumnya peserta seminar sepakat kini kita perlu perdamaian total.

Menurut Taufiq Ismail, 50 tahun bangsa ini dibelit rantai.

"Kita harus memotong rantai itu, menghancurkannya, dan menguburkannya," kata Taufiq yang membacakan tanggapan seperti membacakan sajak-sajaknya.

Kita tak peduli apakah CIA terlibat atau tidak.

Kita tak peduli pengakuan Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, bahwa negerinya 'tak menciptakan ombak, tapi hanya menunggang ombak itu sampai ke pantai'.

Kita peduli, karena 50 tahun kita terbelenggu rantai.

Menurut Salim Said, yang hari itu meluncurkan buku Gestapu 65, Tragedi 1965 ialah luka bangsa tak terkira. Karena itu, seluruh dokumen harus dibuka. Tak hanya yang tersimpan di Amerika.

Yang tak kalah banyak, mungkin tersimpan di Rusia dan Tiongkok dalam kedua bahasa, yang belum banyak dibuka. Semakin banyak versi, semakin baik pula mencari di titik mana kita bersepakat.

Kita setuju. Soal cara dan formulanya, bisa dibincangkan sebaik-baiknya. Perlu segera agar tak membuang energi percuma dalam waktu yang kian lama.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima