Sulap

22/10/2015 00:00
Sulap
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PRESIDEN Jokowi dicandrakan seperti pemain sulap. Simsalabim, dalam setahun, semua berubah menjadi indah.

Apakah perlakuan seperti itu hanya menimpa Presiden Jokowi?

Jawabnya tidak.

Umumnya presiden, siapa pun dia, dalam setahun memerintah dituntut membuat perubahan dalam tempo cepat, sangat cepat. Bak pemain sulap. Bahkan, lebih dini lagi, baru seratus hari berkuasa, kinerja presiden telah ramai dievaluasi dan dihakimi.

Demikianlah, sesungguhnya tak ada yang baru dalam perkara itu. Presiden selalu dituntut memproduksi hal-hal yang tidak biasa di mata publik karena memang seorang presiden dipersepsikan bukan manusia biasa.

Berbagai elite negara memiliki berbagai privilese, termasuk presiden. Namun, hanya presiden seorang yang memiliki hak prerogatif. Ia memiliki kekuasaan dan amunisi lebih dari cukup untuk membuat perubahan cepat, sangat cepat. Lagi pula, sudah lama bangsa ini terjangkiti hasil serbainstan.

Negeri ini, bukan hanya penghasil dan pelahap mi instan, melainkan juga telah terasuk nilai-nilai serbainstan.

Kalau ada jalan pintas, mengapa berjalan jauh?

Memintas berbeda dengan menerabas. Yang terjadi dan berkembang ialah memintas dengan cara menerabas.

Mentalitas menerabas bukan tumbuh kemarin sore. Mentalitas seperti itu, menurut pakar antropologi mendiang Prof Koentjaraningrat, telah bersemi sejak zaman penjajahan Jepang.

Contoh, tak usah heran bila yang tersemai kekayaan instan, hasil korupsi. Akan tetapi, siapa bisa membangun infrastruktur dalam setahun?

Siapa pula bisa membuat negara ini berswasembada beras dalam setahun, terlebih di tengah kemarau panjang?

Semua pertanyaan itu jelas mengandung excused.

Sebuah pembelaan, memang, tetapi tiada berniat melenyapkan fakta ihwal membuncahnya harapan publik bahwa presiden harus bekerja cepat, supercepat.

Sejujurnya, itulah ekspektasi publik. Padahal, semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula potensi kecewa. Namun, hasil survei terhadap Jokowi masih positif.

Dari total 1.220 responden yang disurvei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengenai 1 tahun kinerja Presiden Jokowi selama 7-13 Oktober 2015 menunjukkan sebanyak 52% menyatakan puas dengan kinerja Jokowi dan pemerintahannya.

Bukan penilaian yang membuat hati berbunga-bunga. Namun, tidak pula membuat hati luluh lantak.

Karena itu, dapatlah dipahami 62% responden hasil survei yang sama menyatakan keyakinannya atas kemampuan Jokowi memimpin pemerintahan.

Keyakinan, pada 20 Oktober 2019, ketika masa jabatan Jokowi berakhir, kiranya rakyat bergembira karena tidak salah memilih presiden.

Yang dipilih memang bukan tukang sulap, melainkan sejatinya seorang presiden, yang tidak membiarkan negara dikendalikan autopilot.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.