Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Jokowi dicandrakan seperti pemain sulap. Simsalabim, dalam setahun, semua berubah menjadi indah.
Apakah perlakuan seperti itu hanya menimpa Presiden Jokowi?
Jawabnya tidak.
Umumnya presiden, siapa pun dia, dalam setahun memerintah dituntut membuat perubahan dalam tempo cepat, sangat cepat. Bak pemain sulap. Bahkan, lebih dini lagi, baru seratus hari berkuasa, kinerja presiden telah ramai dievaluasi dan dihakimi.
Demikianlah, sesungguhnya tak ada yang baru dalam perkara itu. Presiden selalu dituntut memproduksi hal-hal yang tidak biasa di mata publik karena memang seorang presiden dipersepsikan bukan manusia biasa.
Berbagai elite negara memiliki berbagai privilese, termasuk presiden. Namun, hanya presiden seorang yang memiliki hak prerogatif. Ia memiliki kekuasaan dan amunisi lebih dari cukup untuk membuat perubahan cepat, sangat cepat. Lagi pula, sudah lama bangsa ini terjangkiti hasil serbainstan.
Negeri ini, bukan hanya penghasil dan pelahap mi instan, melainkan juga telah terasuk nilai-nilai serbainstan.
Kalau ada jalan pintas, mengapa berjalan jauh?
Memintas berbeda dengan menerabas. Yang terjadi dan berkembang ialah memintas dengan cara menerabas.
Mentalitas menerabas bukan tumbuh kemarin sore. Mentalitas seperti itu, menurut pakar antropologi mendiang Prof Koentjaraningrat, telah bersemi sejak zaman penjajahan Jepang.
Contoh, tak usah heran bila yang tersemai kekayaan instan, hasil korupsi. Akan tetapi, siapa bisa membangun infrastruktur dalam setahun?
Siapa pula bisa membuat negara ini berswasembada beras dalam setahun, terlebih di tengah kemarau panjang?
Semua pertanyaan itu jelas mengandung excused.
Sebuah pembelaan, memang, tetapi tiada berniat melenyapkan fakta ihwal membuncahnya harapan publik bahwa presiden harus bekerja cepat, supercepat.
Sejujurnya, itulah ekspektasi publik. Padahal, semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula potensi kecewa. Namun, hasil survei terhadap Jokowi masih positif.
Dari total 1.220 responden yang disurvei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengenai 1 tahun kinerja Presiden Jokowi selama 7-13 Oktober 2015 menunjukkan sebanyak 52% menyatakan puas dengan kinerja Jokowi dan pemerintahannya.
Bukan penilaian yang membuat hati berbunga-bunga. Namun, tidak pula membuat hati luluh lantak.
Karena itu, dapatlah dipahami 62% responden hasil survei yang sama menyatakan keyakinannya atas kemampuan Jokowi memimpin pemerintahan.
Keyakinan, pada 20 Oktober 2019, ketika masa jabatan Jokowi berakhir, kiranya rakyat bergembira karena tidak salah memilih presiden.
Yang dipilih memang bukan tukang sulap, melainkan sejatinya seorang presiden, yang tidak membiarkan negara dikendalikan autopilot.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved