Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SATU tahun masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla berlalu sudah. Tinggal empat tahun waktu tersisa untuk memenuhi janji yang disampaikan saat menyatakan diri siap memimpin negeri ini. Pertanyaannya, sudahkah setahun itu dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk merealisasikan janji kampanye?
Presiden sendirilah yang seharusnya menjawab pertanyaan tersebut. Presiden bisa mendengar hati nuraninya untuk mempertanyakan, apakah ia puas dengan kinerja pemerintahan yang dipimpinnya? Kita melihat setahun lalu sebagai tahun penuh harapan. Apalagi dua pekan setelah dilantik, Jokowi berani mengambil langkah tidak populis: menaikkan harga bahan bakar minyak untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan dan menggunakan anggaran secara lebih produktif.
Semua pihak memuji langkah itu. Sayangnya modal awal yang begitu baik tidak diteruskan. Geliat perbaikan itu kemudian justru tersendat oleh isu nonekonomi. Padahal, perekonomian dunia berubah begitu cepat. Harga minyak dunia turun dari US$100 per barel menjadi sekitar US$40. Harga komoditas juga turun tajam, demikian pula permintaannya.
Kelambanan dalam merespons kondisi yang dihadapi membuat perekonomian berjalan mundur. Dimulai dari kinerja dunia usaha yang terpukul oleh melemahnya pasar ekspor dan belanja masyarakat. Secara perlahan terjadi pemutusan hubungan kerja. Hal itu semakin menekan daya beli masyarakat yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan.
Belanja pemerintah yang diharapkan bisa mengompensasi pelemahan ekspor dan daya beli masyarakat ternyata menghadapi kendala reorganisasi kementerian dan lembaga. Akibatnya baru Mei belanja pemerintah bisa dilakukan dan tak usah heran bila penyerapannya rendah. Baru September pemerintah serius menangani perlambatan ekonomi dengan mengeluarkan serangkaian paket deregulasi.
Pemerintah berupaya betul menarik investasi. Namun, dengan bunga acuan relatif masih tinggi, bagaimana kita berharap akan datang investasi? Apalagi aturan dan penghormatan kontrak begitu lemah. Pelemahan daya beli masyarakat pun tidak kunjung diperhatikan.
Dalam situasi seperti itu, kabinet tidak bekerja kompak. Setelah terjadi reshuffle, kegaduhan kian menjadi-jadi. Presiden tidak tampil sebagai dirigen yang menciptakan harmoni. Justru yang lebih menonjol ialah saling sikut di antara menteri Kabinet Kerja. Memang pemerintahan ini baru melewati 20% masa tugasnya.
Masih ada 80% waktu untuk memberikan karya terbaik. Semua itu hanya bisa dicapai bila pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan peluang. The lost of opportunity cukup terjadi pada satu tahun pemerintahan. Ruang bagi perbaikan masih terbuka lebar.
Sepanjang ada kemauan dan kekompakan, pasti pemerintah akan bisa memberikan kontribusi terbaik kepada negeri ini. Hanya dengan pemerintahan yang mampu menggerakkan, seluruh rakyat siap berperan serta.
Potensi yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa. Kita bukan hanya memiliki modal ekonomi yang besar, melainkan juga modal sosial yang kuat. Kita bukan hanya sedang mendapatkan bonus demografi, melainkan juga kelas menengah yang mencapai 170 juta orang. Kalau daya belinya bisa didorong, pasar domestik menjadi kekuatan. Keberanian untuk menerima kelemahan merupakan kunci meraih kemajuan. Kalau pemerintah berpuas diri, apalagi menutup mata terhadap kelemahan, kita tidak akan bergerak. Semoga pemerintah mau rendah hati menerima kekurangan dan segera bangkit memanfaatkan empat tahun yang tersisa.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved