Satu Tahun

21/10/2015 00:00
Satu Tahun
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SATU tahun masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla berlalu sudah. Tinggal empat tahun waktu tersisa untuk memenuhi janji yang disampaikan saat menyatakan diri siap memimpin negeri ini. Pertanyaannya, sudahkah setahun itu dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk merealisasikan janji kampanye?

Presiden sendirilah yang seharusnya menjawab pertanyaan tersebut. Presiden bisa mendengar hati nuraninya untuk mempertanyakan, apakah ia puas dengan kinerja pemerintahan yang dipimpinnya? Kita melihat setahun lalu sebagai tahun penuh harapan. Apalagi dua pekan setelah dilantik, Jokowi berani mengambil langkah tidak populis: menaikkan harga bahan bakar minyak untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan dan menggunakan anggaran secara lebih produktif.

Semua pihak memuji langkah itu. Sayangnya modal awal yang begitu baik tidak diteruskan. Geliat perbaikan itu kemudian justru tersendat oleh isu nonekonomi. Padahal, perekonomian dunia berubah begitu cepat. Harga minyak dunia turun dari US$100 per barel menjadi sekitar US$40. Harga komoditas juga turun tajam, demikian pula permintaannya.

Kelambanan dalam merespons kondisi yang dihadapi membuat perekonomian berjalan mundur. Dimulai dari kinerja dunia usaha yang terpukul oleh melemahnya pasar ekspor dan belanja masyarakat. Secara perlahan terjadi pemutusan hubungan kerja. Hal itu semakin menekan daya beli masyarakat yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan.

Belanja pemerintah yang diharapkan bisa mengompensasi pelemahan ekspor dan daya beli masyarakat ternyata menghadapi kendala reorganisasi kementerian dan lembaga. Akibatnya baru Mei belanja pemerintah bisa dilakukan dan tak usah heran bila penyerapannya rendah. Baru September pemerintah serius menangani perlambatan ekonomi dengan mengeluarkan serangkaian paket deregulasi.

Pemerintah berupaya betul menarik investasi. Namun, dengan bunga acuan relatif masih tinggi, bagaimana kita berharap akan datang investasi? Apalagi aturan dan penghormatan kontrak begitu lemah. Pelemahan daya beli masyarakat pun tidak kunjung diperhatikan.

Dalam situasi seperti itu, kabinet tidak bekerja kompak. Setelah terjadi reshuffle, kegaduhan kian menjadi-jadi. Presiden tidak tampil sebagai dirigen yang menciptakan harmoni. Justru yang lebih menonjol ialah saling sikut di antara menteri Kabinet Kerja. Memang pemerintahan ini baru melewati 20% masa tugasnya.

Masih ada 80% waktu untuk memberikan karya terbaik. Semua itu hanya bisa dicapai bila pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan peluang. The lost of opportunity cukup terjadi pada satu tahun pemerintahan. Ruang bagi perbaikan masih terbuka lebar.

Sepanjang ada kemauan dan kekompakan, pasti pemerintah akan bisa memberikan kontribusi terbaik kepada negeri ini. Hanya dengan pemerintahan yang mampu menggerakkan, seluruh rakyat siap berperan serta.

Potensi yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa. Kita bukan hanya memiliki modal ekonomi yang besar, melainkan juga modal sosial yang kuat. Kita bukan hanya sedang mendapatkan bonus demografi, melainkan juga kelas menengah yang mencapai 170 juta orang. Kalau daya belinya bisa didorong, pasar domestik menjadi kekuatan. Keberanian untuk menerima kelemahan merupakan kunci meraih kemajuan. Kalau pemerintah berpuas diri, apalagi menutup mata terhadap kelemahan, kita tidak akan bergerak. Semoga pemerintah mau rendah hati menerima kekurangan dan segera bangkit memanfaatkan empat tahun yang tersisa.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima