Merayakan Kekacauan

20/10/2015 00:00
Merayakan Kekacauan
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BAGAIMANA kekacauan atau disorder dirayakan? Bukankah kesengkarutan mesti ditegakluruskan? Bukankah pada galibnya yang kerap dirayakan ialah puncak capaian dan kegembiraan?

Namun, itulah yang baru saja dilakukan Tatang Ramadhan Bouqie dalam pameran tunggalnya berjudul Celebrating Disorder di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur No 14, Jakarta Pusat.

Pameran dibuka Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Hadir pula sejumlah politikus. Ada 44 karya lukis dan 6 unit instalasi patung.

Dalam lukisan bermedium akrilik di atas kanvas, aneka sosok hadir tumpang-tindih, pilin-memilin. Kadang saling menginjak, bahkan menggigit.

Etika, adab, kepantasan seperti tak ada. Sepenuhnya 'kekacauan'. Setiap karya umumnya berisi banyak wajah dan tubuh. Wajah dan tubuh manusia biasa dan ternama, binatang, wayang, badut, boneka, dan aneka benda. Tubuh-tubuh yang sempurna dan yang tuna; mereka yang berpakaian penuh, sebagian, dan yang polos, hadir bersama.

Terlebih hadir dalam lukisan besar seperti pada judul Cerita yang tak Terselesaikan dan Teater dari Saluran 99 yang berukuran 2x12 meter, kekacauan menjadi kian 'sempurna'.

Karya inilah yang terpilih sebagai karya terbaik pada kompetisi Indonesia Art Award pada 2010. Namun, kekacauan itu tak hadir muram.

Dengan paduan warna khas Tatang--ungu, merah, cokelat, kuning, putih, dan biru, juga putih dengan bercak hitam seperti warna anjing dalmation, terlebih dengan unsur badut--terasa Tatang ingin berparodi dengan ceria. Menyimpan optimisme menghadapi sengkarut Indonesia.

Bukankah kehidupan harus tetap berjalan?

Tatang yang berpendidikan desain grafis ITB, lama bertekun di media massa, seperti majalah Tempo, Matra, dan Media Group (Media Indonesia, Metro TV, Lampung Post, sebagai direktur artistik hingga 2008).

Banyak yang terpana, sosok yang santun, tenang, ternyata karya-karyanya liar.

Kurator pameran, Jim Supangkat, memberi jalan untuk memahami karya Tatang dengan teori entropi yang mula-mula muncul dalam ilmu kimia pada 1920.

Teori ini berseberangan dengan teori evolusi.

Teori yang menunjukkan proses pembentukan orde dari gejalanya yang paling sederhana hingga yang paling kompleks pada kehidupan manusia.

Teori entropi melihat semua orde dalam semesta terancam disorder, bahkan chaos.

"Chaos dan kehancuran itulah yang kadang melahirkan harapan baru, yang mungkin lebih cemerlang dan unggul. Ini jauh lebih baik daripada keadaan mandek yang tak menemukan jalan keluar," kata Jim.

Surya Paloh berterus terang, di tengah kehidupan politik yang korup seperti memasuki lorong gelap, seni adalah harapan.

"Kami mengakui, kamilah dari kalangan politik yang belum membuat cerah keadaan. Dalam kondisi seperti itu, selama masih ada pameran seni, khususnya yang dilakukan Bung Tatang, di situ masih ada harapan."

Tatang memang harapan. Di tengah kondisi seni rupa kita yang agak meredup, keberaniannya berpameran tunggal di Galeri Nasional--yang pasti tak murah--ialah sebuah komitmen yang tak main-main.

Bagi Tatang, berkesenian seperti juga berdakwah. Ia ingin karyanya bisa dinikmati kalangan yang jauh lebih luas.

Misalnya politisi! Karena itu, ia gembira masyarakat dari berbagai wilayah, terutama kaum muda, hampir setiap hari memenuhi galeri.

Saya percaya Tatang akan terus berdakwah.

Karena tugas seniman memang menyinari lorong gelap itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima