Penantang Asap

17/10/2015 00:00
Penantang Asap
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SETELAH lebih 110 hari tidak berdaya menghadapi kabut asap, pemerintah Indonesia membuka pintu bagi para penantang asap untuk membantu memadamkan kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Empat negara mengirimkan pesawat untuk memadamkan kebakaran, yakni Australia, Malaysia, Rusia, dan Singapura. Dengan tambahan bantuan, daya pemadaman semakin besar.

Beberapa daerah yang sebelumnya tertutup pekat asap mulai memiliki lagi jarak pandang. Operasi penantang asap akan terus berlanjut untuk memastikan api benar-benar padam sehingga asap tidak ada lagi.

Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan terjadi di lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran di lahan biasa, kebakaran lahan gambut terjadi di bawah tanah. Api yang berada di dalam tanah menghasilkan asap yang banyak.

Satu-satunya cara memadamkan api ialah dengan mengguyurkan air sebanyak mungkin agar api di lahan gambut benar-benar padam.

Selama ini upaya yang kita lakukan lebih banyak mematikan api di permukaan. Kita mengerahkan tentara masuk ke hutan dan mematikan titik api. Memang api di atas tanah mati, tetapi di dalam tanah, api tetap menyala dan membakar lahan gambut.

Tantangan terberat yang kita hadapi ialah terbatasnya infrastruktur yang kita miliki. Dengan hutan yang begitu luas, kita memiliki fasilitas pemadaman yang terbatas. Kita hanya mengandalkan pasukan TNI untuk masuk hutan dan memadamkan kebakaran.

Dalam dialog Economic Challenges, mantan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Mohamad 'Bob' Hasan mengatakan hal pertama yang harus kita lakukan ialah memadamkan kebakaran agar penderitaan masyarakat tidak berlanjut.

Ke depan, yang harus disiapkan ialah penyediaan infrastruktur untuk pengawasan. Setiap provinsi harus disediakan 20 helikopter agar bisa melakukan pemantauan dengan baik.

Kita harus menyadari, hutan yang kita miliki sangat luas. Di Kalimantan Timur saja setidaknya ada 6 juta hektare hutan.

Kebayoran Baru yang luasnya hanya 6 ribu hektare tidak bisa dilihat ujung yang satu ke ujung lainnya, bagaimana yang 6 juta hektare.

Presiden Joko Widodo berencana membeli 3 helikopter yang bisa membawa 12 ton air.

Ini rencana yang baik, tetapi tetap tidak memadai apabila kebakaran hutan terjadi di banyak tempat secara bersamaan seperti sekarang. Langkah ke depan yang harus dilakukan ialah merevisi Undang-Undang Nomor 10/2010 tentang Lingkungan Hidup.

Kita harus melarang sama sekali pembakaran hutan. Sekarang orang boleh melakukan pembakaran hingga 2 hektare. Bahkan peraturan daerah di Kalimantan Tengah memperbolehkan ketua RT memberikan izin pembakaran hutan hingga 1 hektare, camat bisa sampai 5 hektare.

Kalaupun sulit dilakukan dengan cara amendemen, Presiden bisa mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

Sambil kita terus berupaya memadamkan kebakaran hutan, ke depan kita harus memperbaiki tata kelola lahan. Kita harus membawa bangsa ini menuju kemajuan.

Kita tidak boleh menoleransi cara pengelolaan lahan dengan pembakaran. Kita tidak bisa lagi bertumpu kepada 'kearifan lokal'.

Kita harus menyadari, cara pembakaran hanya cocok pada era sebelum 'revolusi hijau' di tahun 1920-an. Kita tidak lagi mengenal petani yang berpindah.

Tugas negara untuk menciptakan keadilan dengan membagikan lahan secara lebih merata.

Bukankah janji Nawa Cita ialah memberdayakan masyarakat dengan memberikan kepastian kepemilikan lahan dan dengan itu kita membangun pertanian yang lebih kuat?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.