Mengusir Badai Menghapus Kelabu

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
19/12/2020 05:00
Mengusir Badai Menghapus Kelabu
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SENI menyeimbangkan ‘injakan rem dan gas’ benar-benar dibutuhkan pengambil kebijakan saat ini. Di saat banyak orang berharap bisa menikmati akhir tahun yang ceria dengan berwisata, faktanya covid-19 menghadirkan ‘Desember kelabu’. Malah, sebagian menyebutnya ‘badai bulan Desember’.

Baik Desember Kelabu maupun Badai Bulan Desember memang sama-sama judul lagu masa lampau. Yang pertama karya A Riyanto, dipopulerkan Maharani Kahar, dirilis tahun ‘80-an. Yang kedua karya grup rock AKA, dirilis tahun ‘70-an. Namun, dua judul lagu jadul itu hadir nyata saat ini.

Sebagian orang sudah bersiap menikmati libur Natal dan Tahun Baru. Tiket pesawat, hotel, destinasi sudah ditentukan. Bahkan, sebagian mereka sudah mengepak baju dan dimasukkan koper. Tapi, pemerintah tiba-tiba memutuskan menginjak rem: libur panjang dipangkas, rapid antigen dan tes usap PCR diberlakukan, kerumunan pun dibatasi ketat.

Apa dasar? Tingkat penularan covid-19 masih sangat tinggi, rumah sakit mulai penuh, vaksin masih diuji, disiplin masyarakat untuk melakukan 3 M masih sedang. Selain itu, dampak libur panjang bagi geliat perekonomian tidak signifi kan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan libur panjang saat pandemi justru tidak memberikan perbaikan kepada indikator ekonomi atau tidak terjadi konsumsi, tapi justru menambah jumlah kasus covid-19.

Menurut Menkeu, pada kuartal IV-2020, jumlah hari kerja memang lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, karena konsumsi listrik di sektor bisnis dan manufaktur menurun, sehingga dampaknya ke sektor produksi juga menurun, sektor konsumsi pun tak beranjak naik. Di sisi lain, aktivitas ekonomi pada Oktober hingga awal Desember 2020 justru melemah kembali karena kasus covid-19 kembali naik.

Hal serupa disampaikan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Pariwisata (Asita). Data Asita memang menunjukkan ada kenaikan tingkat okupansi hotel di daerah-daerah destinasi wisata seperti Bogor, Bandung, Yogyakarta, termasuk Bali saat libur panjang. Naiknya di kisaran 40%-50%, atau sekitar 20% lebih tinggi daripada tingkat penghunian hotel secara nasional pada Agustus 2020.

Namun, kenaikan tingkat okupansi yang terjadi pada periode libur panjang sejak 28 Oktober-1 November 2020 tersebut hanya mampu menambah daya tahan sektor perhotelan untuk tetap beroperasi. Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan sektor perhotelan menghadapi low season yang benar-benar dalam sejak Maret 2020 dengan tingkat okupansi anjlok hingga single digit. Jadi, kenaikan okupansi hotel pada masa libur panjang ini bersifat sementara dan akan disusul dengan penurunan yang diperkirakan sangat dalam ketika memasuki momen hari-hari biasa.

Kegiatan bisnis pariwisata tidak memberikan efek signifi kan bagi sektor perhotelan karena sejumlah hal. Pertama, banyak hotel belum mengaktifkan ballroom sebagai tempat kegiatan. Kedua, harga rata-rata kamar hotel dibanderol rendah. Harga rata-rata kamar hotel di daerah-daerah destinasi wisata saat ini 20% sampai 30% lebih rendah jika dibandingkan dengan masa normal.

Di tengah belum signifi kannya geliat perekonomian di saat libur panjang, kenaikan penyebaran covid-19 justru menjadi kenyataan. Data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan terjadi lonjakan kasus covid-19 yang signifi kan pada tiga kali libur panjang di 2020.

Pada saat libur Idul Fitri, 22-25 Mei 2020, terjadi kenaikan kasus setelah liburan, yakni pada 6 Juni sampai akhir Juni, dengan peningkatan kasus 70%-90% daripada sebelumnya (dari 600 per hari naik jadi 1.100 per hari). Pada libur panjang kedua, 20-23 Agustus 2020, terjadi kenaikan kasus covid-19 pada pekan pertama sampai dengan akhir September. Kasus kumulatif mingguan bertambah dari 13.000 menjadi 30.000, angka positivity rate juga naik 3,9%. Jeda waktu kenaikan sekitar 10-14 hari. Libur panjang ketiga, dari 28 Oktober sampai 1 November 2020, lonjakan kasus terlihat tiga pekan setelah liburan. Saat itu, angka positivity rate naik 1,3%.

Deretan data dan fakta di atas menjadi pembenar atas penambahan ‘tekanan injakan rem’ yang dilakukan saat ini. Saat rezeki nomplok bulan Desember yang diharapkan ternyata masih ‘kelabu’, di sisi lain yang datang justru ‘badai’, langkah menginjak rem patut didukung. Untuk jangka panjang, langkah tersebut bakal menghapus kelabu dan mengusir badai bulan Desember.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.