Kritisisme Vs Nyinyirisme

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group
16/12/2020 05:00
Kritisisme Vs Nyinyirisme
(MI/EBET)

SEBERAPA besar manfaat skeptisisme bagi harapan pemulihan ekonomi? Bagi saya, jawabannya amat jelas: nyaris nihil. Itu karena skeptisisme, alias keraguan, kini hanya berbeda selapis kulit bawang dengan nyinyirisme.

Skeptisisme amat berbeda dengan kritisisme. Kalau skeptisisme kini cenderung nyinyir, sikap kritis justru sebaliknya. Kritisisme bisa menghindarkan pengambil kebijakan ekonomi dari keter­pelesetan saat mengatur strategi, menentukan keputusan, atau membuat resep pemulihan ekonomi. Yang repot, banyak pengkritik yang membabi buta dan mengumbar sekadar skeptisisme, bukan kritisisme.

Skeptisisme inilah yang rutin dikembangkan sejumlah tokoh saat menanggapi optimisme pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, akan kebangkitan ekonomi kita di 2021. Beberapa kali Bu Menteri meyakinkan publik bahwa ekonomi kita akan bangkit di 2021.

Sri Mulyani tidak asal bicara. Ia sepenuhnya menggenggam data. Ia dan timnya punya analisis atas kecenderungan-kecenderungan geliat ekonomi di triwulan terakhir 2020 ini. Dari situlah muncul optimisme bahwa ekonomi kita bisa tumbuh 4% hingga 5%, tahun depan.

Tren perdagangan kita juga menunjukkan prospek menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,62 miliar pada November 2020. Surplus tersebut dipicu ekspor yang mero­ket, mencapai US$15,28 miliar. Angka tersebut melampaui impor yang senilai US$12,66 miliar.

Bila diselisik lebih jauh, neraca perdagangan kita dari Januari hingga November 2020 juga membiru, menguatkan alasan Menteri Keuangan untuk menebar optimisme. Secara kumulatif, sejak Januari hingga November 2020 neraca perdagangan Indonesia surplus US$19,66 miliar. Surplus itu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan defisit pada dua tahun terakhir, yaitu US$3,51 miliar pada 2019 dan US$7,62 miliar pada 2018.

Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, World Bank, ADB, dan Morgan Stanley juga memprediksi perekonomian sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan bangkit tahun depan. Kendati memasang angka berbeda-beda, umumnya selisih angka prediksi mereka tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran yang sama: 4% hingga 5%.

Namun, para pengumbar skeptisisme terkesan menutup mata atas deretan fakta, data, dan beragam analisis tersebut. Ada, misalnya, mantan pejabat menulis di Twitter dengan pandangan yang sangat skeptis, bahkan nyinyir, dengan menyebut Sri Mulyani bluffing (membual) dengan optimismenya terkait dengan pertumbuhan ekonomi. ‘Sang mantan’ justru memprediksi perekonomian kita akan ambyar di 2021. Sulit membedakan antara analisis, prediksi, dan provokasi.

Tidak ada analisis data, apalagi fakta. ‘Sang mantan’ bahkan secara ‘sadis’ menulis: ‘Ironi yang semakin menjadi-jadi. Kekuasaan semakin ditumpuk, tapi kemampuan untuk selesaikan masalah semakin nihil’.

Skeptisisme seperti itu jumlahnya tidak cuma satu, ada beberapa. Mereka ada yang menyebut diri penganut Cartesian doubt (metode keraguan Descartes). Padahal, Rene Descartes, sang filsuf abad ke-16 yang melahirkan metode itu, memegang skeptisisme sekadar sebagai metode, bukan filsafat. Sebagai filsafat, Descartes lebih memegang kritisisme, yang sangat berguna dalam upaya pencarian kebenaran.

Skeptisisme sebagai filsafat bermula sebagai keraguan, berakhir sebagai keraguan pula--alias nihilisme. Sebaliknya, skeptisisme sebagai metode bermula sebagai keraguan, berakhir sebagai pengetahuan atau kritik. Yang terakhir inilah jalan yang dimaksud sebagai Cartesian doubt.

Kalau ada orang di warung kopi meragukan optimisme pemerintah tentang kebangkitan ekonomi, itu skeptisisme. Kalau ada profesor kampus bilang kebangkitan ekonomi belum bisa diraih dalam waktu cepat karena instrumen-instru­men daya ungkit lemah, pengaruh global belum signifikan, masih terlalu mengandalkan APBN, dan seterusnya, itulah kritisisme yang banyak faedahnya bagi pengambilan kebijakan.

Kalau ada ‘orang sekolahan’ mengumbar skeptisisme seperti obrolan orang di warung kopi, lalu apa gunanya pendidikan panjang yang ia tempuh itu? Punya pisau tajam analisis kritis, kok, memilih menumpulkan diri dengan nyinyir tak berkesudahan. Malu, ih.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.