Mental Muhammadiyah

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
21/11/2020 05:00
Mental Muhammadiyah
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ANDAIKAN saja Kiai Haji Ahmad Dahlan masih hidup, barangkali dia akan terkesima melihat pesatnya laju Muhammadiyah, organisasi yang didirikannya 108 tahun lalu itu. Cita-cita awal yang dicanangkan penghulu Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu saat mendirikan Persyarikatan pada 18 November 1912 cukup ‘sederhana’ dan hanya ada dua: menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di dalam Yogyakarta, dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya.

Namun, pada perjalanannya, ternyata Muhammadiyah menemukan lahan yang subur untuk berkembang. Para pemuda pribumi yang mulai mengenyam pendidikan Barat dan kalangan priayi, menjadi salah satu kelompok penggerak proses dinamisasi. Eksklusivisme ‘kauman’, sebuah stempel yang melekat pada organisasi yang kini memiliki cabang di 34 provinsi dan 23 cabang istimewa di luar negeri itu, secara perlahan terus melumer.

Kini, massa mereka yang berjumlah lebih dari 50 juta orang cukup heterogen, mulai petani, pengusaha, hingga cendekiawan. Total asetnya pun setara aset organisasi atau korporasi besar kelas dunia: mencapai ratusan triliun rupiah. “Saking banyaknya amal usaha dalam bentuk sekolah dan rumah sakit, hingga banyak orang beranggapan bahwa Muhammadiyah sudah bergeser dari gerakan amar ma’ruf nahi mungkar, yang bersifat dakwah, menjadi gerakan amal usaha,” tutur Djarnawi Hadikusumo (almarhum), mantan Pimpinan Muhammadiyah, pada suatu ketika di 1990-an.

Bukan perkara mudah melakukan valuasi terhadap aset dan kekayaan likuid yang dimiliki serta dikelola lembaga nirlaba seperti Muhammadiyah. Cara menghitungnya sedikit berbeda daripada menghitung kekayaan perorangan atau entitas bisnis. Apalagi, seluruh aset Muhammadiyah itu atas nama umat.

Namun, pada 2017, sebuah laporan dari Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Muhammadiyah menyebutkan, Persyarikatan mengelola hampir 21 juta meter persegi tanah wakaf. Istimewanya, tak sejengkal pun lahan itu atas nama pribadi-pribadi tertentu. Seluruhnya atas nama Persyarikatan.

Di atas lahan 21 juta meter persegi itu berdiri sekurangnya 19.951 sekolah, 13.000 masjid dan musala, 765 bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 457 rumah sakit dan klinik, 437 baitul mal, 176 universitas, dan 102 pondok pesantren.

Seluruh aset Muhammadiyah itu ada yang mencoba menaksir nilainya mencapai Rp320 triliun. Belum lagi ditambah kekayaan kas yang dimiliki amal usaha yang tersimpan di bank, jumlah total kekayaannya bisa lebih dari Rp1.000 triliun. Manajemen organisasi pun dikerjakan secara rapi, terdokumentasi dengan baik, dikelola secara transparan, serta dengan visi yang progresif.

Mantan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, pernah melontarkan seloroh soal aset Muhammadiyah yang tersebar itu. Kata dia, ”Jika dua warga NU bertemu, yang dibicarakan apakah sudah punya majelis yasin dan tahlil. Namun, kalau dua warga Muhammadiyah bertemu, yang dibahas ialah sudah berapa sekolah dan masjid yang dibangun.”

Pertanyaannya, bagaimana bisa organisasi yang ‘didesain’ secara sederhana, dengan tujuan yang ‘sederhana’, dengan langkah yang serbasederhana bisa menghasilkan aset ratusan triliun? Jawabannya juga sederhana.

Semua itu ada hubungannya dengan mentalitas Muhammadiyah hasil kerja panjang dan konsisten selama 108 tahun. Mentalitas yang dibentuk ialah mental aghniya (mental orang kaya), mental memberi, serta spirit membebaskan sekaligus memberdayakan.

Hulunya bermula dari doktrin Kiai Haji Ahmad Dahlan yang mengatakan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Praktiknya, elite pimpinan Persyarikatan itu didorong untuk menjadi pribadi-pribadi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Alhasil, mereka bisa mengabdikan hidup untuk sebesar-besarnya kepentingan umat.

Banyak kisah di lingkungan Muhammadiyah tentang bagaimana doktrin KH Ahmad Dahlan itu merasuk hingga tulang sumsum dan memengaruhi gaya hidup para ulama dan pimpinan Muhammadiyah yang sangat kontras dengan kekayaan aset Muhammadiyah. Pak AR Fachruddin, misalnya, saat berdakwah di Yogyakarta dan sekitarnya, memilih naik motor tua atau naik becak. Ketua Muhammadiyah terlama (1968-1990) itu juga menjual bensin eceran di depan rumahnya demi menambah pemasukan rumah tangga.

Seorang teman mantan wartawan pernah bercerita, “Ketua-ketua Muhammadiyah dulu seperti ‘orang aneh’, enggak masuk di akal zaman sekarang. Pak AR jualan bensin eceran di ‘rumah dinas’-nya. Kulakan bensin di SPBU Terban, pakai kaus singlet sembari naik sepeda jengki membawa jeriken bensin di boncengan. Edan tenan.”

Ketum Muhammadiyah 1998-2000 serta 2000-2005, Buya Syafi i Maarif, masih biasa jalan kaki ke masjid depan rumah, naik bus atau kereta api, dan antre saat berobat di RS Muhammadiyah. Seorang aktivis yang lumayan dekat dengan Buya Syafi i pernah ‘mengingatkannya’ untuk mengganti mobil agar ‘sesuai’ dengan posisinya sebagai Ketum Muhammadiyah. Buya Syafi i menjawab, “Ah, ini juga sudah cukup.”

Ketum Muhammadiyah saat ini, Haedar Nashir, biasa naik kereta api atau duduk di serambi masjid mendengar khotbah dari jemaah akar rumput tanpa rasa canggung. Itu semua resep mengapa Muhammadiyah berkembang sangat pesat. Kombinasi antara taat doktrin, autentisitas sikap dan laku, serta konsistensi gerak itulah yang menjadi sumbangsih besar Muhammadiyah untuk bangsa ini. Tiada kata yang pas buat para elite atau institusi apa pun di Republik ini kecuali kalimat: teladani mental Muhammadiyah.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.