HARI itu, di ruang kerjanya yang kecil dan sepi, Takaaki Kajita tengah sendirian.
Di situlah, di Institut for Cosmic Ray Research, University of Tokyo, Jepang, profesor berusia 56 tahun itu menerima kabar gembira dari panitia Hadiah Nobel di Stockholm, Swedia.
Ia bersama Arthur B Mcdonald, 72, dari Kanada, ditahbiskan sebagai penerima Hadiah Nobel Fisika 2015.
Mcdonald menerima kabar bungah di subuh hari dan seketika itu memeluk sang istri.
Kajita dan Mcdonald sukses membuka tabir pengetahuan dasar di bidang ilmu fisika partikel, yang amat penting untuk memahami alam semesta.
Temuan mereka mengenai isolasi neutrino (partikel dasar), partikel terbanyak kedua di alam semesta setelah foton, memiliki massa dan berubah identitas.
Postulat neutrino pertama kali kemukakan Wolfgang Pauli (1930).
Di bidang kedokteran atau fisiologi telah pula diumumkan penerima Hadiah Nobel.
Mereka ialah profesor emeritus Satoshi Omura, 80; Youyou Tu, 85, dari Tiongkok; dan William C Campbell, 85, dari Amerika Serikat.
Tiga ilmuwan itu berhasil mengatasi sejumlah penyakit yang diakibatkan parasit.
Mereka dinilai mampu menyelamatkan ratusan juta jiwa: mencegah kecacatan dan mengurangi jumlah kasus infeksi.
Untuk Hadiah Nobel Bidang Kimia, penghargaan diberikan kepada mereka yang berjasa dalam perbaikan DNA manusia untuk pengobatan kanker.
Mereka ialah Aziz Sancar, 69, dari University of North Carolina; Tomas Lindahl, 77, dari Sir Francis Crick Institute and Clare Hall Laboratory, Inggris; dan Paul L Modrich, 69, dari Duke University.
Aziz Sancar warga negara Turki, Lindahl dari Swedia, dan Modrich warga Amerika.
Kita gembira karena ada tiga ilmuwan Asia mendapat penghargaan prestisius dunia, dua dari Jepang, satu dari Tiongkok.
Akan tetapi, pada saat bersamaan, ketika Hadiah Nobel itu diumumkan, para ilmuwan Indonesia justru tengah menjerit karena buruknya negara memberi perhatian pada penelitian.
Terungkap dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) XI di Jakarta, pekan silam, dunia ilmu pengetahuan dan teknologi hanya kerap diucapkan, tapi miskin komitmen (negara).
Indonesia belum menjadikan penelitian dan teknologi bagian penting atau fondasi dalam membangun bangsa.
Kemauan politik negara masih terasa sebatas bibir dari rezim ke rezim.
Presiden Joko Widodo, tahun lalu, berjanji menaikkan anggaran riset dua kali lipat.
Faktanya bujet riset tetap 'setia' di posisi 0,08% dari produk domestik bruto.
Padahal, anggaran riset yang memadai menurut UNESCO sedikitnya 2% dari PDB.
Seperti yang sudah-sudah, dalam acara empat tahunan itu juga ada rumusan dan rekomendasi, yang umumnya akan menjadi 'benda mati di laci'.
Bayangkan, di tengah dunia yang bergerak cepat dan persaingan dunia berlangsung setiap saat, para ilmuwan kita masih harus menghiba-hiba meminta komitmen (negara) dalam memajukan ilmu pengetahuan.
Di dunia mana pun yang berorientasi memajukan bangsa, pemerintahnya selalu memberikan insentif, investasi, dan perlindungan terhadap riset.
Tak ada artinya bicara kemandirian bangsa tanpa memberi dukungan serius pada dunia riset dan ilmu pengetahuan.
Nawa Cita, Trisakti, daya saing bangsa, yang diusung Jokowi, hanya akan jadi gelembung-gelembung sabun.
Kita tahu 'tongkat Musa' dan 'Raja Midas' tak ada di sini; 'lampu Aladin' hanya dalam dongeng.
Kita tak bisa menanti keajaiban-keajaiban serupa itu hanya dalam mimpi dan simsalabim.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima