Paket III

10/10/2015 00:00
Paket III
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BENARLAH kata mantan Menteri Keuangan Chatib Basri bahwa dalam situasi krisis pemerintah selalu mampu melahirkan kebijakan yang baik.

Setelah 11 bulan perekonomian mengalami tren yang menekan, ada momentum bagi perbaikan.

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap III yang dikeluarkan pada Rabu (6/10) mampu menjawab inti persoalan yang sedang kita hadapi, yakni dunia usaha yang menghadapi kelesuan pasar dan daya beli masyarakat yang menurun.

Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga solar Rp200 per liter serta keringanan membayar biaya listrik.

Untuk para petani yang mengalami gagal panen karena kemarau panjang, Otoritas Jasa Keuangan memberikan asuransi pertanian.

Pemerintah harus hadir menyelamatkan masyarakat. Itu dilakukan semua negara di dunia. Pemerintah Amerika Serikat memberi ganti rugi kepada petani ketika Sungai Mississippi meluap.

Tujuannya agar petani bisa kembali bekerja dan ketahanan pangan bisa dijaga.

Hal itu akan bermanfaat bagi perekonomian nasional, apalagi di negeri ini, yang lebih dari 50% penduduknya masih menggantungkan hidup dari pertanian.

Kalau pemerintah tidak hadir membantu petani, sama saja dengan membiarkan lebih dari 50% penduduk dalam kesulitan ekonomi dan berdampak lebih buruk bagi bangsa.

Di sinilah kita melihat mengapa dampak yang diakibatkan dari paket III jauh lebih baik.

Langkah terakhir itu baik untuk menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Pemerintah harus berkorban lebih dulu, tetapi kelak pasti akan memetik manfaat ketika perekonomian kembali menggeliat.

Kepentingan jangka pendek perlu mendapatkan perhatian karena prospek jangka panjang Indonesia sangat baik.

Kalau kita tak menangani persoalan jangka pendek, benar apa yang dikatakan John Maynard Keynes, "In the long run we are all dead."

Di tengah pasar global yang masih belum menentu, kita harus memanfaatkan kekuatan pasar domestik. Kita tidak boleh menafikan 60% pertumbuhan ekonomi kita didorong belanja masyarakat.

Di tengah keinginan kita untuk menarik investasi, tidak perlu kita menurunkan peran belanja masyarakat. Itu justru modal untuk semakin memperbesar kue ekonomi kita.

Bahkan pemerintah harus lebih aktif membela kepentingan pengusaha dalam bersaing di pasar global. Begitu banyak entry barrier yang diterapkan dengan menggunakan berbagai macam isu.

Pemerintah harus cerdik mencegah jangan sampai kita terkena dampak persaingan tidak sehat, seperti yang dilakukan Singapura dengan melarang penjualan produk kertas asal Indonesia dengan alasan kabut asap.

Benar bahwa kita sedang mengalami kebakaran hutan. Kita mendukung langkah pemerintah menegakkan aturan dan menghukum pembakar. Namun, pemerintah jangan terjebak dalam kampanye negatif yang merugikan pengusaha dan kepentingan Indonesia.

Generalisasi bahwa seluruh pengusaha membakar hutan ialah agenda global untuk menekan Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan kekuatan besar dunia untuk produk kertas dan minyak kelapa sawit.

Ekspor produk kertas bisa mencapai US$6 miliar dan CPO US$20 miliar per tahun. Negara pesaing menggunakan segala cara untuk mematikan Indonesia. Kalau pemerintah ikut-ikutan dengan konstelasi besar ini, perekonomian Indonesia bisa dalam bahaya.

Langkah seperti yang dilakukan Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli untuk menggarap pasar ekspor CPO bersama Malaysia sangat tepat.

Pemerintah harus membantu membangun kampanye positif dan melakukan pemasaran. Di dalam rumah kita awasi dan hukum anak kita, tetapi keluar kita harus membela kepentingan Indonesia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima