BUKU memang belum bisa menggantikan gosip di sini.
Kitab belum menjadi sahabat dekat kita di negeri yang ramai dengan tradisi lisan ini.
Di banyak waktu terbuang pun, membaca belum menjadi kebutuhan.
Kita tahu sebagian kecil kita memajang buku, tetapi hanya sebagian kecil yang dibaca.
Dari yang sebagian kecil itu, hanya sebagian kecil lagi yang dicerna.
Kita tahu produksi buku kita, negeri yang berpenduduk hampir separuh komunitas ASEAN, hanya setara Malaysia dan Vietnam sekitar 18 ribu judul per tahun.
Memang tak sepadan membandingkan kita dengan Jepang, India, terlebih lagi Tiongkok dengan 140 ribu judul buku per tahun.
Dengan kondisi serupa itu, memang Indonesia hari ini belum menjadi tempat subur bagi para penulis dan pembaca.
Justru karena itu, mari kita sambut Pekan Raya Buku Internasional Frankfurt (Frankfurter Buchmesse/Frankfurt Book Fair/FBF), Jerman, 13-18 Oktober.
Indonesia ialah negara Asia Tenggara pertama yang menjadi tamu kehormatan (guest of honor) dalam FBF.
Menurut Ketua Panitia Indonesia, Goenawan Mohamad, inilah penantian 26 tahun untuk tampil di perhelatan buku yang diadakan sejak abad 17 itu.
Sebagai tamu kehormatan Indonesia mengusung tema 17.000 Islands of Imagination.
Waktu dua tahun sejak diberi tahu panitia FBF pada 2013 memang terasa pendek karena ada sekitar 200 buku harus diterjemahkan ke bahasa Jerman, Inggris, dan bahasa lain.
Kita tahu menerjemahkan buku sastra dan budaya, terutama, tidaklah mudah.
Sedikitnya penulis Indonesia dengan 8.000 buku akan hadir dalam perhelatan buku terakbar di dunia itu.
Menurut Goenawan, inilah satu-satunya kesempatan Indonesia bersolek dengan megah di pameran bergengsi.
Karena itu, "Haram hukumnya untuk gagal," katanya.
FBF tak hanya acara pemasaran teramat penting untuk buku, tetapi juga acara penting untuk memfasilitasi negosiasi penjualan hak dan lisensi secara internasional.
Lebih dari 7.000 peserta individu dari sekitar 100 negara akan menghadirkan lebih dari 400 ribu buku.
Sekitar 11 ribu wartawan dari sedikitnya 70 negara meliput acara itu.
Seperti yang sudah-sudah, tamu kehormatan menjadi salah satu sorotan utama peliputan.
Indonesia tak bisa main-main.
Dengan tamu kehormatan, FBF akan selalu memiliki karakter berbeda setiap tahun.
Bagi Indonesia, penampilannya di FBF akan kian jelas memperkenalkan budaya dan sastra Indonesia di panggung internasional, tentu kemudian industri buku Tanah Air mestinya harus kian menggeliat.
Kita ingin di banyak waktu terbuang, orang bertumbuh minatnya untuk membaca.
Bukan bergosip.
Rasanya iklan di media massa yang menganjurkan kita meluangkan sedikitnya 15 menit sehari untuk membaca (buku) terasa masih kurang.
Seperti beberapa negara yang kultur membacanya sudah maju, sungguh baik jika ada anjuran dari sekolah, di setiap jenjang sekolah, misalnya selama sekolah lanjutan pertama wajib membaca 10 buku sastra dan budaya, sekolah lanjutan atas 15-20 buku, dan seterusnya.
Ini tidak saja menggeliatkan sastra dan budaya, juga minat baca, dan industri buku.
Kita pun tak terus diolok-olok penyair Taufiq Ismail bahwa siswa kita rabun sastra.
Sedih!
Dengan berbagai kendala dan kritik menjadi tamu kehormatan di ajang FBF sungguh penting.
Dana Rp144 miliar untuk 17.000 Pulau Imajinasi di panggung buku internasional yang amat penting tentu jadi tak terasa besar.
Selamat menjadi tamu kehormatan!
Kita menunggu hasil dari acara yang oleh Goenawan Mohamad diharamkan gagal itu.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima