Mengubah Sikap

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/8/2020 05:00
Mengubah Sikap
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PESAN yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada pidato kenegaraan dalam rangka peringatan HUT ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia sangat menggugah. 

Dengan pidato yang penuh penekanan, Presiden mengajak kita agar wabah covid19 tidak membuat bangsa ini berjalan mundur, tetapi harus bisa melakukan lompatan besar. Di kolom ini berulang kali kita sampaikan, kita tidak boleh menjadi bangsa yang kalah dua kali. Kalah karena tidak bisa menangani covid-19 dan kalah karena tidak bisa memetik pengalaman, bahkan tidak mampu melakukan transformasi menjadi negara yang berjaya.

Pertanyaannya, bagaimana melakukan lompatan besar itu? Jawabannya ada pada cara berpikir dan cara bersikap. Kita tidak pernah bisa melakukan lompatan besar apabila mindset kita selalu negatif dan pesimistis. Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang mempunyai mimpi besar dan kemauan besar untuk meraihnya.

Kedua ialah cara bersikap. Revolusi mental yang digaungkan Presiden Jokowi pada masa pemerintahannya pertama harus terus digulirkan dan konsisten dijalankan. Tidak mungkin kita akan bisa menjadi bangsa berjaya apabila tidak mempunyai kultur disiplin dan kerja keras.

Lagi-lagi kita harus mengingatkan apa yang ditulis ahli sosiologi Samuel L Huntington dalam bukunya berjudul Culture Matters. Bangsa Korea bisa melompat menjadi bangsa maju karena memiliki kultur yang kuat. Mereka menempa bangsanya dengan disiplin dan etos kerja keras. 
Dengan sikap mampu menghargai waktu, mereka bisa menghasilkan produksi dan reproduksi karya yang bernilai tambah tinggi.

Mari kita becermin kepada diri kita sebagai bangsa. Ketika kita belum bisa mematuhi aturan lalu lintas dengan benar, jangan harap kita akan bisa memiliki disiplin dalam kehidupan yang lebih luas. Tanpa ada disiplin yang kuat, jangan harap kita akan mampu melakukan lompatan besar.

Apalagi sekarang kita hidup di era lifestyle menjadi simbol. Di acara-acara televisi kita lihat bagaimana nikmatnya hidup sebagai orang kaya. Namun, tidak pernah digambarkan sulitnya perjuangan menjadi orang kaya itu.  Akibatnya yang muncul sikap jalan pintas. Kita tidak peduli dengan cara untuk meraih kekayaan. Kalau korupsi marak terjadi, karena kita gagal memaknai gaya hidup itu.

Sekarang di masa wabah covid-19 ini, kita sebenarnya dituntut untuk bekerja dengan cara yang luar biasa. Tidak mungkin kita bekerja dengan cara biasa-biasa karena keadaannya luar biasa. Harus ada terobosan yang dilakukan karena dibutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan. Istilah yang dipakai Presiden, jangan sampai orang sudah telanjur terkapar baru bantuan diberikan.

Mengapa perintah Presiden untuk bertindak cepat menangani krisis ini tidak kunjung berubah? Karena cara berpikir kita ialah serba tidak percaya. Karena khawatir langkah-langkah penanganan krisis menimbulkan moral hazard, aturannya diperketat untuk mencegah penyimpangan.

Oleh karena cara berpikirnya selalu takut dan curiga, tidak ada yang berani untuk mengambil tindakan. Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sudah hampir satu bulan dibentuk, lalu langkah kegiatan apa yang sudah bisa dikerjakan? Semua menunggu persetujuan rencana anggaran. 

Stimulus kesehatan dan ekonomi sebesar Rp695 triliun pun baru sebagian kecil dipergunakan. Pertanyaannya, mengapa bangsa lain bisa begitu cepat menggelontorkan stimulus untuk mempercepat pemulihan ekonomi mereka? 

Karena mereka membangun kultur percaya. Mereka tidak pernah berangkat dari ketidakpercayaan, tetapi selalu menganggap setiap orang itu mempunyai niat yang baik. Lalu, bagaimana kalau ada orang yang melanggar  kepercayaan itu? 

Hukumlah yang kemudian menjadi panglimanya. Ketika orang yang diberi kepercayaan tidak menjalankan kepercayaan yang diberikan, ia akan diberikan hukuman yang keras. Bukan hanya hukuman pidana, melainkan juga hukuman sosial.

Cobalah sekali-sekali menyusuri Sungai Tokyo di Jepang. Di sepanjang bantaran kali ada tenda-tenda kumuh yang dihuni orang. Mereka ialah orang yang melanggar kepercayaan yang telah diberikan. Bahkan, keluarganya pun tidak mau peduli karena orang itu telah mencoreng nama baik keluar.

Lompatan besar yang diharapkan Presiden dalam masa pandemi covid-19 bukan sekadar kita bisa berdikari dan mengejar ketertinggalan dalam arti kebendaan. Yang jauh lebih penting ialah lompatan dalam sikap dan perilaku.

Covid-19 harus bisa membawa bangsa ini membangun peradaban yang lebih tinggi. Kuncinya terletak dari kemauan kita membangun kultur yang lebih terbuka, maju, modern, menghargai perbedaan, menghargai keberagaman, disiplin, dan kompetitif.

Ditambah dengan sikap untuk tidak mau kalah dari bangsa lain, kita akan bisa menjadi bangsa pemenang. Dirgahayu Republik Indonesia!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.