Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 1995 Presiden Soeharto memikirkan perlunya ekstensifikasi lahan pertanian akibat terus berkurangnya pematang sawah di Pulau Jawa. Industrialisasi yang gencar dilakukan sejak 1988 membuat alih fungsi lahan pertanian terjadi besarbesaran. Ancaman kekurangan pangan diantisipasi karena jumlah penduduk Indonesia terus bertambah.
Ahli ekonomi Inggris Thomas Robert Malthus sejak akhir abad ke-19 sudah mengingatkan pentingnya memperhatikan kesediaan pangan. Dunia akan dihadapkan kepada kelangkaan pangan karena jumlah penduduk akan bertambah seperti deret ukur, sedangkan produksi pertanian hanya bertambah seperti deret hitung.
Langkah yang ditempuh Presiden Soeharto ketika itu ialah memanfaatkan lahan luas di Kalimantan Tengah untuk dijadikan lahan pertanian. Dana besar disiapkan untuk membangun bendungan, saluran irigasi, dan petak-petak persawahan. Sejuta hektare proyek yang digagas memunculkan harapan produksi yang melimpah.
Sayangnya, sampai akhir pemerintahan Presiden Soeharto, proyek itu tidak pernah terealisasi. Proyek raksasa itu bukan hanya mangkrak, tetapi menimbulkan korupsi yang luar biasa besarnya. Beberapa pejabat akhirnya harus mendekam di dalam penjara.
Seperempat abad kemudian ide itu kembali muncul. Presiden Joko Widodo mengharapkan lahan gambut di Kalteng dijadikan lumbung pangan. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek.
Kita tentu berharap untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Kita tidak boleh seperti keledai yang terantuk di batu yang sama dua kali. Jangan sampai proyek ini juga terbengkalai lagi dan akhirnya membawa mereka yang ditugasi untuk mengerjakannya kembali tersangkut masalah hukum.
Ada tiga hal yang setidaknya harus diperhatikan yakni manajemen, teknologi, dan keterlibatan masyarakat. Kita membutuhkan manajer yang andal dan orientasi pembangunan pertaniannya kuat. Dana besar yang tersedia tidak boleh sampai menggoyahkan orientasinya. Ia harus memiliki pikiran strategik untuk merealisasikan keinginan membangun lumbung pangan.
Kedua, pemimpin proyek harus memiliki pemahaman teknologi yang maju. Pertanian di lahan gambut akan menghadapi tantangan yang berat. Dibutuhkan hadirnya teknologi yang tinggi, mulai dari penyiapan lahan, pengolahan lahan, pemilihan bibit, hingga pemeliharaan dan pemanenan.
Terakhir yang tidak kalah pentingnya ialah menyiapkan orang yang akan bekerja di lahan gambut. Mereka harus diberi pelatihan mengenai karakter lahan gambut. Semua yang bekerja harus mempunyai disiplin tinggi serta paham tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di lahan gambut.
Kepemimpinan yang kuat dibutuhkan karena kita harus mengerahkan semua ahli pertanian terbaik untuk menggarap tanaman pangan di lahan gambut. Ini bukan proyek coba-coba, tetapi harus benar-benar berhasil. Kita tidak hanya akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat kalau proyek ini sekadar menjadi bancakan, tetapi ketersediaan pangan nasional juga akan terganggu.
Kita sudah berulang kali menyampaikan, wabah covid-19 yang sedang kita hadapi jangan membuat kita menjadi bangsa yang merugi. Inilah kesempatan untuk membangun Indonesia yang baru. Pertanian harus menjadi kekuatan dari bangsa ini untuk mengejar kemajuannya.
Apalagi sekarang banyak masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan. Kita tidak boleh lupa 60% bangsa ini masih hidup dari pertanian. Kita akan bisa menjadi kekuatan dunia apabila mampu menggabung keterampilan masyarakat, teknologi, dan ketersediaan lahan.
Ke depan bukan hanya kita yang membutuhkan ketersediaan pangan yang mencukupi, tetapi juga seluruh bangsa di dunia. Pada masa covid-19 orang semakin membutuhkan pangan yang berkualitas untuk menjaga imunitas. Semua negara di dunia lebih memikirkan untuk memenuhi kebutuhan bangsanya daripada bangsa lain.
Inilah momentum untuk mengubah kebiasaan untuk mengimpor bahan pangan menjadi tabiat memenuhi kebutuhan dengan kemampuan sendiri. Kita pernah membuktikan mampu melakukan itu pada 1984. Seluruh dunia memberikan penghormatan yang tinggi atas keberhasilan kita mengubah dari negara yang terjerat krisis pangan menjadi negara yang mampu melakukan swasembada.
Sanggupkah kita mengulangi keberhasilan itu? Dengan kemajuan yang telah dicapai seharusnya tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Kita hanya membutuhkan kemauan dan kesungguhan untuk merealisasikan mimpi besar bangsa ini. Bukan sebaliknya hanya menjadikan sekadar proyek berdana besar yang dipakai untuk kepentingan sesaat.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved