Kebiri Setengah

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
13/7/2020 05:00
Kebiri Setengah
(MI/EBET)

PERISTIWA memilukan itu terjadi pada Sabtu, 2 April 2016, sekitar pukul 13.00 WIB. Ketika itu, Yuyun pulang sekolah sendirian dari SMP 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu. Di tengah jalan ia diperkosa sampai meninggal oleh 14 orang.

Pemerkosaan brutal itu mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. ‘Kita semua berduka atas kepergian YY yg tragis. Tangkap & hukum pelaku seberat-beratnya’, tulis Jokowi dalam cicitannya di akun Twitter-nya pada 4 Mei 2016. Lewat akun itu, Jokowi menegaskan perempuan dan anak-anak harus dilindungi dari kekerasan.

Hanya selang 21 hari setelah cicitan di Twitter itu, Jokowi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak pada 25 Mei 2016.

Perppu itu mencerminkan Indonesia berada dalam situasi kegentingan yang memaksa ihwal kekerasan seksual terhadap anak. Tujuan utama penerbitan perppu ialah memberi efek jera terhadap pelaku dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Tidak menunggu waktu lama, dalam tempo enam bulan kemudian, perppu disetujui DPR untuk diundangkan sehingga lahirlah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 pada 9 November 2016.

Benar adanya bahwa Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 sudah mengatur sanksi pidana bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Namun, penjatuhan pidana tersebut belum memberikan efek jera dan belum mampu mencegah secara komprehensif terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Atas dasar itulah ditambahkan pidana pokok berupa pidana mati dan pidana seumur hidup, serta pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku dalam perppu. Juga ditambahkan ketentuan mengenai tindakan berupa kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, dan rehabili- tasi. Soal kebiri kimia menjadi sorotan luas, perppu itu pun dinamai ‘perppu kebiri’.

Andai pidana tambahan itu konsisten diterapkan dan diek- sekusi, niscaya orang ogah melakukan kekerasan seksual. Fakta bicara lain. Sejauh ini, pidana tambahan sudah diterapkan pengadilan, tapi belum bisa dieksekusi.

Putusan Pengadilan Negeri Mojokerto Nomor 69/Pid. sus/2019/PN.Mjk pada 2 Mei 2019 menjatuhkan vonis 12 tahun penjara dengan hukuman tambahan kebiri kimia terhadap Muhammad Aris. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Surabaya melalui putusan Nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY pada 18 Juli 2019.

Sanksi tambahan pengumuman identitas  pelaku tertuang dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jayapura Nomor 77/PID.SUS/2017/PT JAP pada 6 November 2017. Dua pelaku kekerasan seksual yang menyebabkan korban meninggal dunia, Ronaldo Wanggaimu dan Lewi Gogoba, dipenjara seumur hidup dengan hukuman tambahan berupa pengumuman identitas pelaku. 

Putusan tambahan kebiri dan pengumuman identitas pe- laku itu tidak bisa dieksekusi. Tata cara pelaksanaan pidana tambahan yang mesti diatur dengan peraturan pemerintah tak kunjung terbit. Kebiri itu ganas dalam teks, tapi amat miskin eksekusinya sehingga kekerasan terhadap anak jalan terus. 

Sepanjang Juli ini publik dikejutkan kejadian seorang petugas di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA melakukan kekerasan seksual terhadap seorang anak, NV. Pelaku jadi tersangka.

Kasus lainnya ialah FAC, 65, warga negara Prancis, dituduh melakukan eksploitasi seksual dan ekonomi terhadap anak di bawah umur. Polisi menemukan bukti 305 video yang diduga berasal dari 305 anak berbeda. Korban kebanyakan ialah anak jalanan. Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Selama masa pandemi ini, mulai Januari sampai Juni menu- rut catatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat 1.848 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Tingginya angka kekerasan seksual itu mengonfirmasikan perppu kebiri gagal menghadirkan efek jera gara-gara aturan pelaksananya lalai dibuat.

Jika menelaah jejak digital, pada akhir Agustus 2019, Direktur Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial menyebutkan peraturan pemerintah sudah sampai di Sekretariat Negara dan tinggal menunggu persetujuan Presiden. Kok, lama sekali menunggu persetujuan Presiden?

Jangan biarkan kebiri sebagai norma hukum tanpa bisa dieksekusi. Itu namanya kebiri setengah. Belum utuh. Hanya utuh sebagai norma, belum utuh dieksekusi karena tunggu aturan teknis kebiri.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.