Memompa Kredit

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
03/7/2020 05:00
Memompa Kredit
(MI/EBET)

PENEGASAN Ketua Himpunan Bank- Bank Negara Soenarso untuk segera mendorong penyaluran kredit guna menggerakkan perekonomian nasional pantas untuk dicermati. Kita tunggu bersama sejauh mana suntikan modal Rp30 triliun yang diberikan pe- merintah kepada empat bank BUMN akan benar-benar bisa memulihkan perekonomian nasional.

Pidato keras yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam Sidang Paripurna 18 Juni lalu mencerminkan kegemasan Kepala Negara atas sikap pejabat negara yang business as usual. Tidak ada sikap kegentingan yang membuat para pejabat negara itu terpanggil untuk segera melakukan tindakan yang segera dan tidak biasa-biasa saja.

Bahasa yang disampaikan Presiden begitu terang benderang. Kita harus melakukan upaya penyelamatan ekonomi sekarang ini juga. Kalau dunia usaha sudah telanjur kolaps, tidak ada artinya lagi.

Di kolom ini berulangkali kita sampaikan, situasi yang sedang kita hadapi ibarat sebuah pertandingan tinju. Lawan yang sedang kita hadapi tidak tanggung-tanggung Mike Tyson. Langkah yang harus kita upayakan ialah jangan sampai kita terpukul dan kemudian knock- down atau mengalami punch-drunk. Kalau itu yang terjadi, kita tidak akan bisa berpikir normal lagi.

Sekarang ini dunia usaha benar-benar sedang sempoyongan. Coba sekali-sekali bertemu dengan pramusaji di restoran. Mereka itu sekarang hanya menerima gaji 20% dari biasanya. Kalau kebetulan mendapat tugas untuk bekerja, mereka diberi uang saku Rp50 ribu.

Selama ini selain gaji, para pramusaji itu mendapatkan tips dari orang yang makan di restoran. Namun, sekarang ini orang yang datang dan makan di restoran jumlahnya sangat terbatas. Meski mal-mal sudah mulai dibuka, pengunjung yang datang sangat sedikit karena semua orang masih takut keluar rumah dan terpapar covid-19.

Para pengusaha pun sekarang hanya mencoba untuk bertahan. Sebagian masih belum mau memulai lagi kegiatannya karena selain konsumen yang jumlahnya masih kecil, mereka kesulitan modal kerja. Mereka tidak mampu lagi menggaji karyawannya secara penuh karena bisnis sudah empat bulan ini nyaris terhenti.

Stimulus ekonomi dari pemerintah itulah yang sekarang ditunggu oleh kalangan dunia usaha. Semua negara di dunia berkonsentrasi untuk menghidupkan perekonomian negaranya yang mati suri. Dibu- tuhkan adanya hentakan yang memungkinkan perekonomian bisa bergerak kembali dan bagi dunia usaha hentakan yang mereka tunggu itu ialah suntikan modal kerja.

Dana pemulihan ekonomi yang dibutuhkan sudah pasti sangat besar. Semua negara minimal mengalokasi stimulus ekonomi 10% dari produk domestik bruto mereka. Bahkan seperti Jerman angkanya sampai 35% karena yang harus diselamatkan ialah industri maju mereka.

Kalau banyak pihak mengkritik stimulus yang disiapkan pemerintah, itu memang tidak salah. Bahkan Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani menyebutkan dengan istilah too little and too late. Untuk ukuran ekonomi Indonesia yang PDB-nya sudah di atas US$ 1 triliun, stimulus Rp766 triliun berarti hanya sekitar 5% dari PDB. Itu pun bentuknya banyak dalam pengurangan pajak.

Soenarso yang menjabat Direktur Utama Bank BRI menjanjikan bantuan modal Rp30 triliun bisa menjadi Rp90 triliun dalam penyaluran kredit dalam tiga bulan ke depan. Harapan kita, kredit itu bisa mengalir dengan cepat dan sampai kepada mereka yang memang membutuhkan. Selain itu, kredit itu bisa memberikan dampak kepada pembukaan lapangan kerja dan memberikan kontribusi nyata kepada perekonomian.

Gerak cepat memang harus dilakukan. Semua bank BUMN harus membentuk tim khusus yang menangani penyaluran kredit untuk pemulihan ekonomi nasional ini. Mereka harus proaktif turun ke lapangan dan bertemu langsung dengan para pengusaha dari semua tingkatan, baik itu mikro, kecil, menengah, maupun besar. Bahkan bidang usaha yang harus bisa disentuh mulai pedagang kaki lima, ruko, toko serbaada, hingga industri. Itu pun harus dilakukan dari Sabang sampai Merauke.

Seperti dikatakan Presiden, memang langkah yang kita lakukan harus extraordinary. Pemulihan ekonomi nasional harus dilakukan dengan cara yang luar biasa karena persoalan yang kita sedang hadapi bukan yang biasa-biasa. Kalau perlu dalam tiga bulan ke depan, mereka yang ditugasi memulihkan ekonomi nasional tidak boleh ada kata libur seperti Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid- 19 Doni Monardo.

Hal yang penting juga harus bisa dilakukan, tidak boleh ada satu pun pengusaha yang tidak tersentuh. Jangan sampai yang mendapatkan kredit hanya yang itu-itu. Tidak boleh muncul istilah 4L atau ‘lu lagi, lu lagi’. Kealpaan untuk tidak memperhatikan kelompok yang selama ini tidak pernah bersentuhan bank akan memicu rasa diskriminasi dan itu akan menjadi ancaman bagi stabilitas nasional.
 
Kita tidak bosan untuk mengingatkan bahwa tantangan yang kita hadapi sekarang ini tidak cukup ditangani melalui sistem perbankan. Perlu ada langkah penyelamatan lain di luar pemberian dana Rp30 triliun melalui bank BUMN. Sekali lagi kita ingatkan perlu adanya Gugus Tugas Ekonomi agar kita bisa menyelamatkan perekonomian nasional ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.