Takdir dan Tragedi

29/9/2015 00:00
Takdir dan Tragedi
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TAKDIR dan tragedi kini seru diperdebatkan. Adakah tragedi Mina yang menewaskan lebih dari 800 jemaah-- Iran menyebut 1.300 jemaah--pekan silam sebuah takdir? Para petinggi Arab Saudi menyebut tragedi Mina sebagai takdir Illahi.

"Jenis kecelakaan bisa dihindari. Namun, ini adalah takdir Allah," kata Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih. Namun, ia minta dunia bersabar menunggu hasil investigasi.

Bukankah ia sendiri terjebak dalam paradoks itu: takdir yang aksioma dan upaya investigasi yang perlu pembuktian?

Suara umara pun seperti tak cukup. Ulama besar Arab Saudi Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh pun membela sang umara.

"Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi karena untuk hal-hal yang tak bisa dikendalikan manusia, Anda tidak bisa disalahkan. Ini nasib dan takdir yang tak ter-elakkan," katanya kepada Putra Mahkota Mohammed, Mendagri Arab Saudi.

Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud juga memerintahkan pemenggalan 28 petugas yang tak mengikuti petunjuk. Namun, lagi-lagi, bukankah investigasi juga belum berakhir?

Dunia telanjur tak percaya. Terlebih seperti ditulis harian Libanon, al-Diyar, rombongan Pangeran Mohammad bin Salman Al Saud menjadi penyebab tragedi itu.

Rombongan pangeran itulah yang menyebabkan dua jalur melempar jumrah ditutup, justru ketika manusia tengah menyemut dalam panas tiada terkira. Injak-menginjak pun tak bisa dihindari.

Itu sebabnya Iran yang warganya paling banyak menjadi korban, sekitar 140 korban tewas, amat marah. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei meminta pemerintah Saudi bertanggung jawab atas tragedi Mina.

"Dalam setiap bencana, Saudi mengatakan itu takdir Tuhan. Hal ini bukan semata-mata kehendak Tuhan, ini adalah inkompetensi manusia," kata penasihat operator tur travel haji dan umrah Inggris, Mohammed Jafari.

Ia menuduh tragedi Mina kesalahan keluarga kerajaan.

Pro-kontra juga terjadi di Indonesia.

Debat di media sosial, yang membela Arab Saudi dituduh sebagai pembela Wahabi, dan yang menentang sebagai pendukung Syiah.

Kita tak ada urusan dengan Syiah dan Wahabi. Kita hanya melihat manajemen pengelolaan haji yang dimonopoli Arab Saudi kian buruk.

Bukankah dua pekan sebelum tragedi Mina, ada mesin derek (crane) di Masjidil Haram menewaskan lebih dari 100 jemaah?

Sementara tragedi Mina, sejak 1990 telah delapan kali terjadi, lebih dari 3.000 jemaah meninggal. Kalau bukan kegagalan, apa yang lebih pantas dialamatkan pada negeri kaya minyak itu?

Tragedi demi tragedi terjadi. Selama itu pula umat Islam dunia terus menerima perkabungan itu sebagai takdir.

Akan tetapi, dalam ritual ibadah yang berat dan mahal secara material, dan mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar pada negara penyelenggara, apakah takdir bisa terus menjadi tempat 'bersembunyi'?

Terlebih ketika jelas-jelas, ada kesalahan manusia?

Justru kelaziman, setiap perhelatan digelar, terlebih perhelatan raksasa bernama ibadah haji, yang melibatkan sekitar 2 juta jemaah dengan rupa-rupa kultur dari berbagai negara dan bangsa, harus dikelola dengan profesional dan manajemen yang transparan.

Saudi sebagai pengelola harus terbuka menerima masukan dari negeri mana pun, sejauh bisa memperbaiki pengelolaan haji.

Berhaji, menjadi tamu Allah, sudah selayaknya dilakukan dalam kenyamanan dan jaminan keselamatan. Bukan dalam ketegangan, ketakutan, dan bayang-bayang kematian yang memilukan.

Untuk itu, kita menunggu hasil investigasi yang objektif, independen, dan jujur, yang jadi modal kepercayaan kembali pada penyelenggaraan haji.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima