Gubernur NTT dan Uskup Ruteng

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
25/6/2020 05:00
Gubernur NTT dan Uskup Ruteng
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA ungkapan satu gambar bernilai seribu kata untuk menunjukkan kekuatan sebuah foto. Kekuatan foto itulah yang menarik perhatian saya dalam pertemuan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat dan Uskup Keuskupan Ruteng Mgr Siprianus Hormat.

Viktor bertemu Sipri pada Selasa (23/6) di Ruteng. Foto pertemuan keduanya dimuat di mediaindonesia.com dalam berita berjudul Viktor: Peran Gereja dalam Pembangunan NTT Penting.

Foto itulah yang mencuri perhatian saya. Tampak Viktor membungkukkan badan, menggenggam tangan Sipri. Posisi kepala Viktor yang terekam dalam foto itu kurang dari sejengkal dari tangan yang digenggam. Saya memaknai foto itu sebagai ungkapan penghormatan sangat tinggi dari seorang gubernur kepada pemimpin keagamaan.

Gubernur yang rendah hati meski ia bukan penganut Katolik. Umat Katolik punya tradisi mencium tangan uskup. Sebenarnya yang dicium itu cincin di jari uskup. Terkesan feodal memang, tapi inilah ungkapan rasa bakti umat kepada pemimpinnya.

Penghormatan Viktor juga tersurat dalam pidatonya. Ia mengharapkan dukungan Gereja Katolik yang dianggapnya sebagai pionir pembangunan NTT. Ia tidak mau kebijakan pembangunan di NTT bertentangan dengan sikap gereja.

“Gubernur NTT akan mati kartunya jika gereja berbeda dengan gubernur. Itu langsung pincang. Itu ibarat lari, langsung ligamen putus. Jadi, kalau dengar bapak uskup sudah berbeda dengan gubernur, ligamen gubernur putus. Itu jalan pun sudah setengah mati. Pakai tongkat sudah itu. Yang awalnya dengan sprint tiba-tiba jalan pakai tongkat,” ujar Viktor.

Gereja Katolik memang tidak boleh berpolitik praktis. Akan tetapi, dosen STFK Ledalero Alexander Jebadu dalam tulisanya menyebutkan Gereja Katolik di Pulau Flores telah menunaikan pelayanan kenabiannya dengan bersikap solider dengan masyarakat petani-petani miskin di pulau ini.

Para petani miskin itu, tulis dia, berjuang mempertahankan tanah-tanah pertanian dari serbuan sekelompok orang superkaya negara-negara industri yang dieksekusi perusahaan-perusahaan transnasional di bidang pertambangan yang didorong sistem ekonomi neoliberal saat ini.

Pendapat Jebadu itu sejalan dengan seruan Kardinal John O’Connor bahwa jikalau umat Katolik tidak ikut terlibat dalam kehidupan politik atau ikut terlibat tetapi tidak menyuarakan dan menegakkan moralitas dan spiritualitas Katolik, gereja harus merasa diri gagal menjalankan misinya.

Uskup Sipri, langsung atau tidak langsung, tengah menunaikan pelayanan kenabiannya dalam membela para petani di wilayah keuskupannya yang mencakup Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Dalam konteks itulah Uskup Sipri mendukung keputusan Gubernur NTT untuk meninjau kembali seluruh perizinan tambang di wilayah NTT yang telah dibuat sebelumnya.

Moratorium tambang itu ditetapkan melalui Peraturan Gubernur NTT Nomor 359/KEP/HK/2018 tentang Penghentian Sementara Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara di provinsi ini.

“Dari lubuk hati paling dalam, kami meminta pada Bapak Gubernur untuk tidak melanjutkan proses perizinan penambangan batu gamping di Lengko Lolok dan pembangunan pabrik semen di Luwuk,” tulis Uskup Sipri dalam materi paparannya kepada Gubernur.

Terkait dengan izin batu gamping di Lengko Lolok dan pabrik semen di Luwuk, Gubernur dan Uskup telah berdiskusi empat mata. Keduanya sepakat pemerintah dan gereja mesti bergandengan tangan dalam membangun kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat NTT.

Sikap Sipri itu sejatinya sejalan dengan pembangunan NTT yang digagas Viktor dalam visinya NTT bangkit menuju masyarakat sejahtera dalam bingkai NKRI. Visi itu dijabarkan dalam misi pembangunan yang bersifat inklusif dan berkelanjutan.

Berkelanjutan itu pada hakikatnya ialah pembangunan berwawasan ekologis dan mendukung integritas ciptaan. Pilihan cerdas untuk NTT ialah pariwisata dan pertanian, bukan pertambangan. 

Sikap Viktor patut diapresiasi. Ia tak mau gegabah menyikapi rencana investasi tambang gamping dan pabrik semen di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur. “Tentunya ketika ada dua kepentingan yang berseberangan, kita akan berhitung betul. Yang mana yang akan menguntungkan NTT ke depan.”

Tambang batu gamping dan pabrik semen tentu saja tidak menguntungkan NTT, Flores khususnya, karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. Apalagi, daerah yang akan dijadikan tambang itu merupakan kawasan karst aktif yang berfungsi sebagai water storage. Pada titik itulah saya yakin Viktor akan membatalkan rencana tambang dan pabrik semen, apalagi ia tidak mau berseberangan dengan gereja.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.