Habibie

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
26/9/2015 00:00
Habibie
(MI/SENO)
PRESIDEN ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie selalu bersemangat ketika berbicara tentang Indonesia.

Meski baru pulih dari demam tinggi yang dideritanya, Habibie tetap energik ketika berpidato pada peluncuran buku Dato Sri Tahir di Jakarta, Rabu (23/9) malam.

Habibie menyinggung soal ramai-ramai berkaitan pelemahan nilai tukar rupiah. Bahkan ia tidak habis mengerti ada orang yang mau demonstrasi karena nilai tukar rupiah mencapai 15.000 per dolar AS.

Menurut Habibie, masyarakat umum tidak peduli dengan nilai tukar rupiah. Yang terpenting, orang itu masih bisa bekerja dan bisa memberi makan keluarganya.

Apa yang disampaikan ini, menurut Habibie, bukan omong kosong. Ketika suatu Sabtu ia joging di sekitar kediaman, Habibie bertemu dengan dua anggota masyarakat.

Pertama seorang perempuan yang bersama suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Perempuan itu sekarang berjualan makanan. Dari hasil berjualan itu, ia bisa menghidupi keluarga dan setiap hari mendapatkan keuntungan Rp40 ribu.

Satu lagi adalah lelaki yang menjadi pemulung. Lelaki itu mengaku sering mengambil barang bekas dari rumah mantan presiden dan dari hasil itulah ia bisa menghidupi keluarganya.

Menurut Habibie, tugas untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah ada di tangan Bank Indonesia (BI). Ketika menjabat sebagai presiden, Habibie sengaja menjadikan BI lebih independen agar bisa menjalankan tugas lebih profesional dalam menjaga nilai rupiah dan dengan itu kita bisa membangun perekonomian.

Saya sengaja mengutip penjelasan Habibie khususnya yang berkaitan tugas BI. Pelemahan nilai tukar memang domain para elite, tetapi kalau dibiarkan salah-salah bisa mrucut dan keadaan menjadi tidak terkendali. Kalau itu sampai terjadi, yang akhirnya menjadi korban ialah seluruh rakyat.

Tanggung jawab untuk menjaga stabilitas rupiah berada di tangan BI. Saat ini dibutuhkan stimulus moneter yang melengkapi stimulus fiskal yang dikeluarkan pemerintah. Langkah itu terutama diperlukan untuk menggairahkan kegiatan di sektor riil yang sedang mengalami kelesuan.

Kita tahu BI sudah melakukan pelonggaran seperti loan to value untuk kredit properti dan otomotif. Namun, kebijakan itu harus dipantau apakah sudah dijalankan seperti yang seharusnya. Jangan sampai nasibnya seperti kebijakan penghapusan pajak penjualan barang mewah yang lamban dieksekusi di lapangan.

Kita juga mengharapkan BI melakukan langkah lanjutan seperti menurunkan BI rate. Di tengah kebijakan 0% yang terus dipertahankan Federal Reserve AS, kebijakan BI rate tinggi menekan perekonomian nasional. Bahkan kebijakan itu tidak juga membantu masuknya dolar ke Indonesia dan nilai tukar tetap bergerak ke arah 15.000 per dolar AS.

Dengan tingkat inflasi tahun ini baru sekitar 3%, BI rate dinilai bisa diturunkan dari 7,5% menjadi 6,5%. Apalagi bila BI berani menggunakan cadangan devisanya untuk membeli portofolio berjangka panjang di Bursa Efek Indonesia. Ini akan membantu perputaran ekonomi nasional.

Kritikan anggota DPR Misbakhun tentang kebijakan BI yang hanya menguntungkan dirinya sendiri pantas menjadi perhatian Dewan Gubernur BI. Sungguh tidak pantas apabila BI justru mengambil keuntungan dari gejolak rupiah sekarang ini. Tugas BI bukanlah mengeruk keuntungan, tetapi memberi manfaat kepada perekonomian nasional.

Misbakhun menduga BI mendapat keuntungan lebih dari Rp70 triliun dari gejolak rupiah. Apa artinya keuntungan itu bagi BI apabila perekonomian nasional justru terpuruk? Jangan salahkan apabila kelompok elite ikut mengambil keuntungan dari gejolak rupiah ini dan itulah yang membuat rupiah semakin tertekan.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima