SELAMAT jalan Yongki, gajah yang baik hati. Jumat pekan silam, mamalia raksasa berusia 35 tahun yang beberapa kali berjasa mencegah konflik antara gajah liar dan penduduk itu justru mati dibunuh manusia yang tak punya hati. Di subuh hari, ia rebah dengan kedua kaki depan terikat dan kedua gadingnya dicuri. Ada kucuran darah dari bekas gading yang dicabut paksa itu. Ada dugaan kuat ia mati diracun para durjana.
Banyak yang tak percaya. Yongki gajah patroli yang beberapa kali mencatat hasil gemilang itu justru mati di 'rumahnya' sendiri, di Posko Pemantauan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Wilayah Pemerihan, Lampung Barat. Tempat itu mestinya membuatnya jauh dari bahaya, tapi di situ bahaya justru mengintai dan bahkan mengakhiri hidupnya. Suasana perkabungan pun cepat meruah hingga ke lain benua. "Manusia lebih buas daripada binatang." "Saya mau menangis membaca berita pembantaian Yongki." "Pembunuhnya harus dihukum seberat-beratnya." "Alangkah biadab pembunuh Yongki."
Itu hanya beberapa ekspresi dari ribuan simpati atas kebiadaban manusia pada Yongki, lewat media sosial. Perkabungan memang tak mengubah apa-apa pada kematian, tapi itu tanda masih ada manusia yang hatinya masih hidup. Yongki semula gajah liar yang kerap mengganggu manusia. Ia ditangkap petugas di Lampung Barat pada 1994. Ia dibawa untuk dijinakkan di Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Lampung Timur, sekitar 400 km dari tempatnya ditangkap. Karena kecerdasannya, di pusat pendidikan gajah yang telah meluluskan sekitar 300 'alumnus' gajah liar itu, ia pun terpilih menjadi gajah penggiring. Ia layak menyandangnya karena kemampuannya.
Di Taman Nasional Way Kambas yang luasnya 125.621 hektare, didirikan pada 1985, Yongki yang punya kepandaian mencari jejak gajah liar beberapa kali berhasil menghalau kawan-kawannya yang belum 'menyentuh bangku sekolahan' itu. Pada 2009, ia diperbantukan di TNBBS. Di situ, ia mengukir banyak prestasi. Para mahout (pawang gajah) yang pernah menangani Yongki amat nyaman bekerja sama dengan gajah pintar itu.
Yongki memang tak sepopuler gajah lain seperti Karnangin (Golkar menang karena beringin, warisan Orba tentu saja), Rini S Bono, Rano Karno--rupanya artis-artis yang memberi nama para gajah--dan terutama Sengtong. Para mahout menyebut Sengtong 'raja' Way Kambas. Gajah jantan berbobot 3 ton itu kerap menyandang rantai yang ujung-ujungnya berjuntai-juntai. Langkahnya cepat, penuh percaya diri, dan bunyi gemerincing rantai seolah menunjukkan 'akulah sang penguasa Way Kambas'. Ketika ia mandi, tak berani gajah lain mendekati. Ketika ia berjalan, gajah-gajah lain menepi. Perilaku hewan yang amat menghibur. Hewan juga punya hierarki sosial.
Pada 2007, 'sang Raja' telah tiada. Di tengah keterbatasan fasilitas Way Kambas, dedikasi para petugas pasti tak mampu memulihkan Sengtong dari gempuran penyakit setelah diserang gajah liar yang meninggalkan banyak luka. Kini, giliran Yongki yang mati, tapi karena kebiadaban manusia. Itu kian membuktikan manusia lebih dari homo homini lupus (manusia serigala bagi manusia lain), yang dikenalkan Plautus, sekitar 2.000 tahun yang lalu itu. Jika pada sesama manusia saja bisa menjadi serigala, dengan hewan, meski telah berjasa, pastilah lebih dari 'si raja tega'.
Namun, atas pertanggungjawaban manusia yang bersepakat hidup dalam adab hukum, negara harus dengan kesungguhan memburu para penjahat dan menghukumnya dengan vonis terberat. Pembunuhan Yongki, juga pada binatang-binatang lain yang dilindungi, membuktikan kejahatan di negeri ini telah bertumbuh di segala lini. Karena hal itu, kami ngeri!
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima