Tragedi Yongki

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
25/9/2015 00:00
Tragedi Yongki
(MI/Seno)
SELAMAT jalan Yongki, gajah yang baik hati. Jumat pekan silam, mamalia raksasa berusia 35 tahun yang beberapa kali berjasa mencegah konflik antara gajah liar dan penduduk itu justru mati dibunuh manusia yang tak punya hati. Di subuh hari, ia rebah dengan kedua kaki depan terikat dan kedua gadingnya dicuri. Ada kucuran darah dari bekas gading yang dicabut paksa itu. Ada dugaan kuat ia mati diracun para durjana.

Banyak yang tak percaya. Yongki gajah patroli yang beberapa kali mencatat hasil gemilang itu justru mati di 'rumahnya' sendiri, di Posko Pemantauan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Wilayah Pemerihan, Lampung Barat. Tempat itu mestinya membuatnya jauh dari bahaya, tapi di situ bahaya justru mengintai dan bahkan mengakhiri hidupnya. Suasana perkabungan pun cepat meruah hingga ke lain benua. "Manusia lebih buas daripada binatang." "Saya mau menangis membaca berita pembantaian Yongki." "Pembunuhnya harus dihukum seberat-beratnya." "Alangkah biadab pembunuh Yongki."

Itu hanya beberapa ekspresi dari ribuan simpati atas kebiadaban manusia pada Yongki, lewat media sosial. Perkabungan memang tak mengubah apa-apa pada kematian, tapi itu tanda masih ada manusia yang hatinya masih hidup. Yongki semula gajah liar yang kerap mengganggu manusia. Ia ditangkap petugas di Lampung Barat pada 1994. Ia dibawa untuk dijinakkan di Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Lampung Timur, sekitar 400 km dari tempatnya ditangkap. Karena kecerdasannya, di pusat pendidikan gajah yang telah meluluskan sekitar 300 'alumnus' gajah liar itu, ia pun terpilih menjadi gajah penggiring. Ia layak menyandangnya karena kemampuannya.

Di Taman Nasional Way Kambas yang luasnya 125.621 hektare, didirikan pada 1985, Yongki yang punya kepandaian mencari jejak gajah liar beberapa kali berhasil menghalau kawan-kawannya yang belum 'menyentuh bangku sekolahan' itu. Pada 2009, ia diperbantukan di TNBBS. Di situ, ia mengukir banyak prestasi. Para mahout (pawang gajah) yang pernah menangani Yongki amat nyaman bekerja sama dengan gajah pintar itu.

Yongki memang tak sepopuler gajah lain seperti Karnangin (Golkar menang karena beringin, warisan Orba tentu saja), Rini S Bono, Rano Karno--rupanya artis-artis yang memberi nama para gajah--dan terutama Sengtong. Para mahout menyebut Sengtong 'raja' Way Kambas. Gajah jantan berbobot 3 ton itu kerap menyandang rantai yang ujung-ujungnya berjuntai-juntai. Langkahnya cepat, penuh percaya diri, dan bunyi gemerincing rantai seolah menunjukkan 'akulah sang penguasa Way Kambas'. Ketika ia mandi, tak berani gajah lain mendekati. Ketika ia berjalan, gajah-gajah lain menepi. Perilaku hewan yang amat menghibur. Hewan juga punya hierarki sosial.

Pada 2007, 'sang Raja' telah tiada. Di tengah keterbatasan fasilitas Way Kambas, dedikasi para petugas pasti tak mampu memulihkan Sengtong dari gempuran penyakit setelah diserang gajah liar yang meninggalkan banyak luka. Kini, giliran Yongki yang mati, tapi karena kebiadaban manusia. Itu kian membuktikan manusia lebih dari homo homini lupus (manusia serigala bagi manusia lain), yang dikenalkan Plautus, sekitar 2.000 tahun yang lalu itu. Jika pada sesama manusia saja bisa menjadi serigala, dengan hewan, meski telah berjasa, pastilah lebih dari 'si raja tega'.

Namun, atas pertanggungjawaban manusia yang bersepakat hidup dalam adab hukum, negara harus dengan kesungguhan memburu para penjahat dan menghukumnya dengan vonis terberat. Pembunuhan Yongki, juga pada binatang-binatang lain yang dilindungi, membuktikan kejahatan di negeri ini telah bertumbuh di segala lini. Karena hal itu, kami ngeri!


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.