Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIR pekan lalu saya makan malam dengan seorang konglomerat. Saya bertanya, apa yang menjadi pertimbangan ketika dirinya hendak berinvestasi?
Sang konglomerat menjawab, pertama ialah stabilitas politik. Faktor kedua potensi pasar baik dalam maupun luar negeri.
Seorang pengusaha tidak perlu lagi diiming-imingi hal lain. Begitu dua hal itu ada, otomatis ia akan berinvestasi. Yang diharapkan pengusaha ketika menanamkan modalnya ialah bisnisnya berjalan tanpa gangguan dan produknya bisa diserap pasar.
Keuntungan pasti akan didapatkan apabila kedua faktor itu bisa dipenuhi.
Kini pemerintah berupaya menarik investasi. Paket September diharapkan bisa menggairahkan perekonomian yang lesu. Masuknya modal asing berupa investasi langsung diharapkan memperkuat nilai tukar rupiah yang terpuruk sekitar 18%.
Pertanyaannya apakah paket deregulasi itu mencukupi bagi masuknya investasi ke RI?
Kita meragukan itu karena prasyarat yang disampaikan konglomerat tadi tidak terpenuhi. Stabilitas politik belum juga tercapai. Bahkan sekarang pertentangan terjadi dalam pemerintahan sendiri.
Faktor kedua ialah pasar yang lesu. Pasar ekspor masih lemah akibat perekonomian global yang terpuruk. Permintaan di dalam negeri melemah akibat daya beli masyarakat menurun ditambah dengan meningkatnya pemutusan hubungan kerja. Dua pekan pertama bulan ini jumlah jaminan hari tua yang ditarik pekerja korban PHK mencapai 20 ribu orang.
Kita belum melihat upaya pemerintah mendorong konsumsi masyarakat. Pemerintah asyik dengan dirinya sendiri. Mereka mengejar-ngejar pajak demi pemenuhan target penerimaan sekitar Rp1.300 triliun. Alasannya, pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur.
Kita tidak menyangkal, pembangunan infrastruktur itu perlu. Namun, pemenuhan target dengan melakukan kontraksi ekonomi berlebihan akhirnya mematikan pembangunan ekonomi itu sendiri.
Kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan hanya 15%, sementara kontribusi belanja masyarakat mencapai 60%.
Ibarat memegang telur, pemerintah harus sangat berhati-hati. Jangan sampai menggenggam terlalu kuat sehingga telurnya pecah, tapi jangan terlalu longgar sehingga lepas dan pecah karena jatuh.
Pengelolaan ekonomi sebuah seni. Tidak keliru bila pejabat negara harus juga memiliki intuisi pengusaha. Mereka harus bisa melihat peluang, demi terciptanya kondisi ekonomi yang menguntungkan rakyat.
Kita lihat India dan Filipina jeli memanfaatkan kesempatan. Setelah mengetahui Indonesia menerapkan kebijakan penghiliran mineral yang tidak terkonsep baik, Filipina mendorong ekspor nikel. Hasilnya di kuartal II 2015 Filipina tumbuh 7%.
Amerika Serikat yang menyadari dihadapkan situasi resesi akibat tingginya pengangguran dan lemahnya daya beli mengambil kebijakan 0%.
Kebijakan yang diterapkan tujuh tahun terakhir itu membuat perekonomian AS menggeliat. Pengangguran turun 5,1%, inflasi 0,2%.
Kalau kita ingin lolos dari situasi resesi, pemerintah harus cerdik. Yang diperlukan pengusaha ialah optimalisasi industri mereka karena mereka kelebihan kapasitas. Optimalisasi itu hanya bisa tercapai apabila pasar domestik bergairah.
Untuk menggairahkan pasar domestik, ada dua cara, yakni memberikan transfer langsung atau menurunkan tarif pajak. Jadi, solusi yang kita butuhkan sekarang ini bukanlah menarik investasi, melainkan bagaimana menghidupkan bisnis yang sedang lesu.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved