Disiplin ialah Kunci

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
16/5/2020 05:30
Disiplin ialah Kunci
Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

"MANUSIA berubah dalam keadaan genting," kata Profesor Barnhardt dalam film The Day the Earth Stood Still. Dalam film fiksi ilmiah itu tokoh Profesor Barnhardt diperankan aktor John Cleese.

The Day the Earth Stood Still mengisahkan kehadiran makhluk angkasa luar bernama Klaatu yang diperankan aktor Keanu Reeves dan robot bernama Gorth. Keduanya bertugas memutuskan apakah planet Bumi harus dihancurkan atau dibiarkan.

Singkat cerita, Gorth memutuskan Bumi harus dihancurkan karena manusia tidak disiplin menjaganya. Namun, Klaatu memutuskan membiarkan Bumi tetap ada. Ketika Gorth dengan kekuatannya mulai menghancurkan Bumi, Klaatu justru melindunginya dengan mengorbankan dirinya. Klaatu percaya bahwa manusia akan berubah dalam keadaan genting.

Bumi kini kurang lebih dalam keadaan genting akibat pandemi covid-19. Banyak penghuni Bumi terjangkit covid-19. Banyak yang meninggal, tetapi lebih banyak lagi yang sembuh. Ekonomi tersendat.

Dalam keadaan genting, serupa yang dikatakan Prof Barnhardt, manusia semestinya berubah. Apakah yang lebih genting dan menakutkan yang membuat manusia berubah selain kematian, baik fisik maupun ekonomi?

Manusia semestinya berubah menjadi disiplin. Disiplin bermasker, disiplin menjaga jarak fisik dan sosial, disiplin cuci tangan pakai sabun, serta disiplin menjaga daya tahan tubuh. Kedisplinan seperti itulah yang kita harapkan terbentuk sebelum vaksinnya ditemukan supaya kita bisa lekas keluar dari kegentingan pandemi covid-19.

Akan tetapi, kedisiplinan yang kita harapkan belum merata di seluruh dunia. Negara-negara berdisiplin, apakah dengan lockdown atau tidak, grafik covid-19-nya mulai atau sudah landai. Negara-negara yang kurang disiplin, meski sudah lockdown, grafik covid-19-nya masih merah.

Kuncinya bukan lockdown atau tidak lockdown, melainkan disiplin. Vietnam mendisiplinkan rakyatnya dengan lockdown dan sukses meredakan pandemi covid-19. India sudah lockdown lebih dari tujuh pekan, tetapi rakyatnya kurang disiplin sehingga gagal menekan pandemi covid-19. Taiwan mendisiplinkan rakyatnya tanpa lockdown dan sukses meredakan covid-19.

Di Indonesia, tidak semua daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bali yang tidak menerapkan PSBB sukses menekan covid-19. Bali dengan kearifan lokal desa adatnya sukses mendisiplinkan warga dan meredakan covid-19.

Jakarta yang menerapkan PSBB gagal mendisiplinkan warga sehingga grafik covid-19-nya masih fluktuatif. Kedisiplinan masyarakat saat PSBB, kata Wapres KH Ma’ruf Amin, masih jauh dari harapan.

Alih-alih disiplin, yang terjadi malah 'diselipin'. Sejumlah orang di Bali 'menyelipkan' surat keterangan sehat palsu di toko daring supaya orang-orang bisa 'menyelip' atau menyelundup mudik.

Dari dulu kita memang menanggung problem disiplin. Gerakan Disiplin Nasional di masa Orde Baru sampai Revolusi Mental di masa Jokowi tak sanggup mendisiplinkan rakyat.

Ketakutan akan kematian rupanya tak cukup genting, tak cukup menakutkan, bagi kita untuk berubah menjadi lebih disiplin. Itu mungkin karena kita optimistis sebagian besar kasus covid-19 bisa disembuhkan. Pun kita optimistis vaksinnya bakal ditemukan. Kita jadi tak takut mati karena terjangkit covid-19.

Kita rupanya lebih takut mati karena miskin, karena lapar. Hungry makes angry. Itulah sebabnya banyak negara mulai melonggarkan lockdown atau pembatasan sosial supaya ekonomi bergerak lagi, meski grafik covid-19 mereka masih merah.

Akan tetapi, negara-negara tersebut tetap menerapkan aturan agar rakyat disiplin memakai masker, menjaga jarak sosial, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga daya tahan tubuh, paling tidak sampai vaksin anticovid-19 ditemukan. Ketakutan akan kematian karena miskin atau lapar ternyata juga mesti dibarengi dengan aturan untuk membuat masyarakat disiplin.

Kita menginginkan kegentingan karena pandemi covid-19 membuat manusia mendadak atau otomatis berubah lebih disiplin. Faktanya, itu tidak terjadi. Kita ternyata tak bisa hanya mengandalkan kegentingan untuk membuat manusia mendadak berubah lebih disiplin.

Bila mendadak disiplin tak terjadi, pendisiplinan harus dilakukan. Pendisiplinan dilakukan secara struktural, berupa penyediaan infrastruktur maupun regulasi. Supaya orang disiplin cuci tangan memakai sabun, misalnya, infrastruktur wastafel atau sejenisnya harus tersedia di mana-mana. Regulasi bisa berupa lockdown, PSBB, pembatasan sosial, relaksasi pembatasan sosial, atau sekadar hukum adat serupa di Bali.

Pendisiplinan memerlukan kedisiplinan aparat. Larangan bepergian ke dan dari Jabodetabek Gubernur DKI Anies Baswedan tidak akan efektif bila aparat tidak disiplin menerapkan regulasi dan menyiapkan infrastruktur pos penyekatan.

Dengan begitu, kedisiplinan masyarakat terbentuk. Struktur sudah terbukti mengubah kultur. Regulasi dan infrastruktur membentuk kultur disiplin masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.