Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA tahu sebuah semboyan tak serupa mantra. Ketika kata berkekuatan gaib bekerja, berubahlah ia dari yang semula. Semboyan tak serupa itu. Semboyan kadang terdengar nyaris sempurna; karenanya, kadang pula tertatih-tatih dalam praktik. Ia harapan yang belum 'menjadi'.
E Pluribus Unum, 'Dari Banyak Menjadi Satu'--seperti juga kita: Bhinneka Tunggal Ika--inilah semboyan dan pemikiran dasar Amerika Bersatu.
Semboyan yang pertama kali pada 1782, enam tahun setelah Deklarasi Amerika, boleh jadi bermakna politis: banyak koloni, tapi tetap dalam satu republik.
Namun, apa pun makna awalnya, sebuah negara bangsa tidaklah mati. Ia dinamis.
'Banyak' bisa berarti bangsa, suku, agama, keyakinan, adat, dan seterusnya.
Ia terus diuji.
Kukuh atau rapuh? Diana L Eck, penulis buku, A New Religious America, How a 'Christian Country' Has Become the World's Most Religiously Diverse Nation (2002), terasa tepat menceritakan aneka problem hidup bersama yang memang tak mudah.
Diana yang juga berkakek-nenek Swedia, pengajar ilmu perbandingan agama di Universitas Harvard, tak bicara teori.
Ia menulis hasil praksis kehidupan.
Ia merasakan detak jantung dan getaran napas dalam meneguhkan mimpi Satu Amerika itu.
Kerap melelahkan.
Rentetan kasus warga kulit hitam seperti Freddie Gray yang gugur di tahanan polisi Baltimore, Michael Brown di Forgusen, dan Eric Garner di New York seperti kian mengubur impian Amerika yang kini memasuki era 'post-racial'.
Kini, publik pun melihat kasus penahanan Ahmed Mohamed, siswa kelas 1 SMA MacArthur di Irving, Texas, pekan silam, sebagai sesuatu yang tunggal.
Ahmed yang ingin memperlihatkan jam buatannya pada sang guru agar bisa ikut dalam kontes robot justru dicurigai membawa bom.
Siswa dari keluarga imigran asal Sudan itu justru dilaporkan ke polisi. Polisi tak peduli penjelasan Ahmed.
Kasus Ahmed memang mendatangkan banjir simpati.
Presiden Barack Obama mengundangnya ke Gedung Putih, pula petinggi Facebook dan Google.
Hastag #IStandWithAhmed, mendapat banyak dukungan. Itu bukti setiap laku rasialis di Amerika akan mendapat perlawanan lebih besar.
Benar kata Diana, pluralitas Amerika hari ini bisa jadi tak pernah terbayangkan para pembuat deklarasi.
Rakyat tahu di negerinya ada Protestan, Katolik, Islam, Yahudi, Sikh, Hindu, Buddha, dan banyak kepercayaan lain, tapi masing-masing tak saling 'mengenal'.
Padahal, agama dan kepercayaan tak berwajah tunggal.
Cerita perusakan dan pembakaran masjid, sinagoge, kuil, wihara, gurdwara Sikh, dan sekian banyak pembunuhan berbau rasialisme memang bukan fiksi.
Namun, yang membuat skala penyerangan meningkat terhadap tempat ibadah dan kaum muslim, juga Sikh, dan mereka yang tampak 'berbeda', memang serangan 11 September 2011 pada World Trade Center.
Rasa malu, marah, terhina, dan frustrasi menyatu dan terekspresikan dalam agresivitas salah alamat.
Namun, tragedi itu juga memunculkan pemahaman dan kesadaran bersama yang menakjubkan.
Seolah-olah mereka disadarkan betapa citra Amerika yang satu, kuat, dan 'sempurna' itu sesungguhnya rapuh jika terus dibalut prasangka: musuh semua jenis kebenaran! Bahkan, untuk pertama kali pada 2002, Presiden George W Bush mengundang buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih.
Iftar lalu jadi 'tradisi' Gedung Putih. Kasus Ahmed, rasialisme pada kulit hitam, dan pada mereka yang 'berbeda', semacam warning, bahwa semboyan 'Satu Amerika, 'Amerika Baru yang Religius', memang bagian-bagiannya masih harus terus ditulis. Terus digemakan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved