Semboyan

22/9/2015 00:00
Semboyan
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

KITA tahu sebuah semboyan tak serupa mantra. Ketika kata berkekuatan gaib bekerja, berubahlah ia dari yang semula. Semboyan tak serupa itu. Semboyan kadang terdengar nyaris sempurna; karenanya, kadang pula tertatih-tatih dalam praktik. Ia harapan yang belum 'menjadi'.

E Pluribus Unum, 'Dari Banyak Menjadi Satu'--seperti juga kita: Bhinneka Tunggal Ika--inilah semboyan dan pemikiran dasar Amerika Bersatu.

Semboyan yang pertama kali pada 1782, enam tahun setelah Deklarasi Amerika, boleh jadi bermakna politis: banyak koloni, tapi tetap dalam satu republik.

Namun, apa pun makna awalnya, sebuah negara bangsa tidaklah mati. Ia dinamis.

'Banyak' bisa berarti bangsa, suku, agama, keyakinan, adat, dan seterusnya.

Ia terus diuji.

Kukuh atau rapuh? Diana L Eck, penulis buku, A New Religious America, How a 'Christian Country' Has Become the World's Most Religiously Diverse Nation (2002), terasa tepat menceritakan aneka problem hidup bersama yang memang tak mudah.

Diana yang juga berkakek-nenek Swedia, pengajar ilmu perbandingan agama di Universitas Harvard, tak bicara teori.

Ia menulis hasil praksis kehidupan.

Ia merasakan detak jantung dan getaran napas dalam meneguhkan mimpi Satu Amerika itu.

Kerap melelahkan.

Rentetan kasus warga kulit hitam seperti Freddie Gray yang gugur di tahanan polisi Baltimore, Michael Brown di Forgusen, dan Eric Garner di New York seperti kian mengubur impian Amerika yang kini memasuki era 'post-racial'.

Kini, publik pun melihat kasus penahanan Ahmed Mohamed, siswa kelas 1 SMA MacArthur di Irving, Texas, pekan silam, sebagai sesuatu yang tunggal.

Ahmed yang ingin memperlihatkan jam buatannya pada sang guru agar bisa ikut dalam kontes robot justru dicurigai membawa bom.

Siswa dari keluarga imigran asal Sudan itu justru dilaporkan ke polisi. Polisi tak peduli penjelasan Ahmed.

Kasus Ahmed memang mendatangkan banjir simpati.

Presiden Barack Obama mengundangnya ke Gedung Putih, pula petinggi Facebook dan Google.

Hastag #IStandWithAhmed, mendapat banyak dukungan. Itu bukti setiap laku rasialis di Amerika akan mendapat perlawanan lebih besar.

Benar kata Diana, pluralitas Amerika hari ini bisa jadi tak pernah terbayangkan para pembuat deklarasi.

Rakyat tahu di negerinya ada Protestan, Katolik, Islam, Yahudi, Sikh, Hindu, Buddha, dan banyak kepercayaan lain, tapi masing-masing tak saling 'mengenal'.

Padahal, agama dan kepercayaan tak berwajah tunggal.

Cerita perusakan dan pembakaran masjid, sinagoge, kuil, wihara, gurdwara Sikh, dan sekian banyak pembunuhan berbau rasialisme memang bukan fiksi.

Namun, yang membuat skala penyerangan meningkat terhadap tempat ibadah dan kaum muslim, juga Sikh, dan mereka yang tampak 'berbeda', memang serangan 11 September 2011 pada World Trade Center.

Rasa malu, marah, terhina, dan frustrasi menyatu dan terekspresikan dalam agresivitas salah alamat.

Namun, tragedi itu juga memunculkan pemahaman dan kesadaran bersama yang menakjubkan.

Seolah-olah mereka disadarkan betapa citra Amerika yang satu, kuat, dan 'sempurna' itu sesungguhnya rapuh jika terus dibalut prasangka: musuh semua jenis kebenaran! Bahkan, untuk pertama kali pada 2002, Presiden George W Bush mengundang buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih.

Iftar lalu jadi 'tradisi' Gedung Putih. Kasus Ahmed, rasialisme pada kulit hitam, dan pada mereka yang 'berbeda', semacam warning, bahwa semboyan 'Satu Amerika, 'Amerika Baru yang Religius', memang bagian-bagiannya masih harus terus ditulis. Terus digemakan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima