Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR dua bulan kita dihantui wabah virus korona. Sepanjang dua bulan ini pemberitaan di berbagai platform lebih diwarnai hal-hal yang membuat kecil hati. Semua langkah yang dilakukan nyaris selalu dicela. Padahal dengan segala daya semua upaya terbaik sudah coba dilakukan.
Banyak di antara kita masih berpikir dengan cara pandang yang ideal. Seakan pilihan yang dihadapi ialah antara baik dan buruk. Ketika yang dihadapi jelas antara hitam dan putih, tentu pilihan mudah untuk diambil. Namun, kondisi yang kita hadapi sekarang bukanlah pilihan antara baik dan buruk, melainkan antara yang buruk dan kurang buruk, antara evil dan less evil.
Kita tidak bisa menyalahkan bahwa begitu sulitnya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya virus korona. Dengan pendidikan rata-rata hanya sekolah menengah pertama ke bawah, memang sulit untuk mengajak berpikir ilmiah. Apalagi kita tidak pernah menanamkan pentingnya disiplin kepada bangsa ini.
Bayang-bayang akan banyak orang terpapar dan harus dirawat di rumah sakit membuat banyak orang mengkritik kemampuan penanganan kesehatan bangsa ini. Kita memang tidak memiliki kemewahan dalam masalah kesehatan. Penyebabnya bukan hanya anggaran yang rendah, tetapi kita juga tidak pernah mempersiapkan tenaga kedokteran yang memadai.
Berulang kali di kolom ini kita mengingatkan pentingnya menata pendidikan di negeri ini. Jangan hanya ilmu hukum dan agama yang diperbanyak. Kita pun harus mendorong lebih banyak anak muda menguasai bidang teknik dan sains.
Bayangkan negara dengan penduduk 260 juta, jumlah dokter spesial paru-paru jumlahnya tak sampai 2.000 orang. Jumlah total dokter yang ada di Indonesia hanya sekitar 200 ribu orang. Sekarang baru kita rasakan betapa terbatasnya jumlah dokter dan perawat yang kita miliki.
Pandemi covid-19 yang dialami dunia ibarat api yang sedang membakar rumah kita. Sekarang yang dibutuhkan bukan hanya berteriak-teriak ada api, melainkan bagaimana memadamkannya. Ironis ketika bangsa ini sedang berjuang keras melawan covid-19 masih banyak yang hanya menjadi komentator. Bahkan, ada lembaga think-tank yang masih membuat survei-survei.
Betul di era demokrasi semua orang berhak untuk bersuara. Kita juga tidak ingin menghalangi kebebasan berekspresi. Akan tetapi, sekarang ini negara membutuhkan bantuan semua warga untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini dari ancaman covid-19.
Dengan hampir 3 juta penduduk dunia terpapar covid-19 dan lebih 200 ribu orang meninggal dunia, tidak ada satu pun negara siap menghadapi ancaman virus ini. Bahkan, sekarang ini dunia bukan lagi hanya harus dihadapkan pada krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi dan sosial yang ada di depan mata.
Daripada sekadar menyalahkan, lebih baik kita berbuat untuk menghindari krisis lebih buruk. Paling tidak kita membantu orang-orang di sekitar lingkungan rumah kita agar mereka tidak sampai mengalami kondisi lebih parah.
Kalau lebih banyak orang berusaha melakukan kebaikan, kita bisa terhindar dari kondisi lebih buruk. Kita pantas bersyukur kultur ‘keluarga besar atau extended family’ masih kuat pada bangsa kita. Tanpa melihat latar belakang, mereka mau menolong sesama.
Charities Aid Foundation menempatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa paling ringan tangan membantu sesama. Sebanyak 53% orang Indonesia siap menjadi sukarelawan, 78% mau memberikan sumbangan uang, dan 46% mau menolong orang yang tidak dikenal sekalipun.
Bangsa Indonesia sama dengan bangsa Australia dalam hal kemurahan hati. Seorang warga negara Australia, Shane Preuss, dalam tulisannya di majalah The Diplomat menyebutkan sikap gotong royong yang melekat kuat pada bangsa Indonesia yang akan menjadi kunci bangsa ini keluar dari impitan covid-19. Kebersamaan itu sudah diperlihatkan dalam berbagai peristiwa yang harus dialami bangsa Indonesia.
Inilah yang seharusnya menjadi modal sosial bangsa ini untuk menghadapi setiap tantangan. Yang terpenting menjadi kesadaran kita, dalam kondisi seperti sekarang ini tidak pernah ada pilihan ideal. Kita harus sama-sama berupaya menemukan pilihan yang terbaik.
Kita pantas bersyukur bahwa dengan kekurangan yang masih dimiliki, jumlah penambahan orang terpapar covid-19 mulai menurun. Apabila kita mampu untuk selalu mengingatkan dalam menjaga disiplin diri ataupun disiplin kolektif, diharapkan kita bisa melewati wabah virus korona dan kembali menata kehidupan ini. Pilar kekuatan kita bukan ada pada sisi medis, melainkan pada sisi psikologis sebagai sebuah bangsa.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved