Kebijakan 0%

21/9/2015 00:00
Kebijakan 0%
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

THE Fed, bank sentral AS, substansial berkeputusan untuk tidak 'mengambil keputusan'. Kalau toh mau dinilai mengambil keputusan, The Fed pekan lalu kembali melakukan pembiaran atas suku bunga 0,25% yang telah berlaku 9 tahun, entah sampai kapan. The Fed membuat dunia kecele, setelah setahun lebih berharap terjadi penaikan suku bunga.

Padahal berdasarkan laporan terbit 4 September 2015, pengangguran di AS turun drastis, dari 10% pada akhir 2009 menjadi hanya 5,1%. Tiap tahun tercipta sekitar 3 juta lapangan kerja. Inflasi memang masih di bawah target 2%, yaitu 0,3% pada Juli. Akan tetapi, selain lapangan kerja dan inflasi, kiranya masih ada faktor ketiga, hanya The Fed yang tahu. Saking penasarannya, koran terkemuka The Financial Times (FT) melakukan survei terhadap 30 ekonom. Hasilnya, hanya 47% ekonom mengatakan The Fed akan menaikkan suku bunga (FT, 17/9). Ternyata benar.

Yang perlu digarisbawahi ialah The Fed menjadikan terlalu banyak faktor internasional sebagai rujukan, terutama lemahnya emerging market dan ketidakpastian perekonomian Tiongkok. Ibu Ketua The Fed, Janet Yellen, gamblang mengatakan The Fed tidak akan mengambil keputusan berdasarkan naik turunnya pasar. Karena itu, sangat beralasan The Fed menjadikan ketidakpastian ekonomi Tiongkok, yang merupakan kekuatan ekonomi kedua dunia, sebagai fokus utama untuk 'tidak mengambil keputusan'.

Tahun lalu Tiongkok menentukan 40% pertumbuhan global. Menurut Bank Dunia, tahun lalu Tiongkok berkontribusi 13,3% terhadap output ekonomi dunia, meningkat lebih dua kali lipat dari kurang 5% satu dekade lalu. Tapi kini raksasa ekonomi itu limbung, membuat The Fed tak mau menari mengikuti gendangnya. Selain itu, The Fed di bawah Ibu Ketua Janet Yellen tidak ingin menjadi bos moneter dunia. Di bawah kepemimpinannya, dia hanya peduli ekonomi negaranya, AS, tak peduli ekonomi negara lain. Pesan The Fed tegas dan jelas, yaitu uruslah ekonomi negara masing-masing.

Adu cerdik dan cerdas antara The Fed dan Tiongkok tengah berlangsung entah sampai kapan. Terakhir Minggu (13/9), Tiongkok mengiming-imingi dunia bakal merombak struktur pemilikan BUMN mereka. BUMN diizinkan melakukan pemilikan campuran dengan membawa investasi privat. Hal itu katanya antara lain untuk meningkatkan corporate governance dan menyelamatkan aset. Etatisme sepertinya berubah. Contoh lain, devaluasi renminbi tidak semata agar nilai tukar lebih berorientasi pasar, tapi ditengarai juga untuk mendorong The Fed menaikkan suku bunga. Tapi Ibu Ketua Yellen tidak tergoda, apalagi 'tertipu'.

Senjata utama bank sentral di kolong langit mana pun ialah menaikkan dan menurunkan suku bunga. Dengan suku bunga 0,25%, sedikit di atas nol, sangat terbatas ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga. Karena itu, dalam dua rapat yang tersisa tahun ini, Oktober dan Desember, masih bersemi harapan dunia bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga. Bahkan, masih ada yang menanti rapat Maret 2016.

Buat Indonesia, sebaik-baiknya perkara ialah menimbang dalam-dalam adanya pandangan bahwa suku bunga sekitar atau dekat 0% (near zero), tepatnya 0-0,25%, merupakan 'kebijakan baru' dalam moneter. Tiga bank sentral dunia kini menganutnya, yaitu AS (The Fed), Eropa (ECB), dan Bank of Japan. Kita tidak tahu sampai kapan kebijakan sekitar 0% dipertahankan. Karena itu, mestinya kita lebih tertarik menanti kebijakan Gubernur BI Agus Martowardojo dalam 'membela rupiah', ketimbang menanti keputusan Ibu Ketua The Fed Janet Yellen menaikkan suku bunga atau tidak. Ada pertanyaan mengusik, mengutip The Economist, kenapa rupiah terhadap dolar AS tahun ini melemah 9,8%, lebih parah ketimbang peso Filipina yang hanya 2,2%?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.