Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
THE Fed, bank sentral AS, substansial berkeputusan untuk tidak 'mengambil keputusan'. Kalau toh mau dinilai mengambil keputusan, The Fed pekan lalu kembali melakukan pembiaran atas suku bunga 0,25% yang telah berlaku 9 tahun, entah sampai kapan. The Fed membuat dunia kecele, setelah setahun lebih berharap terjadi penaikan suku bunga.
Padahal berdasarkan laporan terbit 4 September 2015, pengangguran di AS turun drastis, dari 10% pada akhir 2009 menjadi hanya 5,1%. Tiap tahun tercipta sekitar 3 juta lapangan kerja. Inflasi memang masih di bawah target 2%, yaitu 0,3% pada Juli. Akan tetapi, selain lapangan kerja dan inflasi, kiranya masih ada faktor ketiga, hanya The Fed yang tahu. Saking penasarannya, koran terkemuka The Financial Times (FT) melakukan survei terhadap 30 ekonom. Hasilnya, hanya 47% ekonom mengatakan The Fed akan menaikkan suku bunga (FT, 17/9). Ternyata benar.
Yang perlu digarisbawahi ialah The Fed menjadikan terlalu banyak faktor internasional sebagai rujukan, terutama lemahnya emerging market dan ketidakpastian perekonomian Tiongkok. Ibu Ketua The Fed, Janet Yellen, gamblang mengatakan The Fed tidak akan mengambil keputusan berdasarkan naik turunnya pasar. Karena itu, sangat beralasan The Fed menjadikan ketidakpastian ekonomi Tiongkok, yang merupakan kekuatan ekonomi kedua dunia, sebagai fokus utama untuk 'tidak mengambil keputusan'.
Tahun lalu Tiongkok menentukan 40% pertumbuhan global. Menurut Bank Dunia, tahun lalu Tiongkok berkontribusi 13,3% terhadap output ekonomi dunia, meningkat lebih dua kali lipat dari kurang 5% satu dekade lalu. Tapi kini raksasa ekonomi itu limbung, membuat The Fed tak mau menari mengikuti gendangnya. Selain itu, The Fed di bawah Ibu Ketua Janet Yellen tidak ingin menjadi bos moneter dunia. Di bawah kepemimpinannya, dia hanya peduli ekonomi negaranya, AS, tak peduli ekonomi negara lain. Pesan The Fed tegas dan jelas, yaitu uruslah ekonomi negara masing-masing.
Adu cerdik dan cerdas antara The Fed dan Tiongkok tengah berlangsung entah sampai kapan. Terakhir Minggu (13/9), Tiongkok mengiming-imingi dunia bakal merombak struktur pemilikan BUMN mereka. BUMN diizinkan melakukan pemilikan campuran dengan membawa investasi privat. Hal itu katanya antara lain untuk meningkatkan corporate governance dan menyelamatkan aset. Etatisme sepertinya berubah. Contoh lain, devaluasi renminbi tidak semata agar nilai tukar lebih berorientasi pasar, tapi ditengarai juga untuk mendorong The Fed menaikkan suku bunga. Tapi Ibu Ketua Yellen tidak tergoda, apalagi 'tertipu'.
Senjata utama bank sentral di kolong langit mana pun ialah menaikkan dan menurunkan suku bunga. Dengan suku bunga 0,25%, sedikit di atas nol, sangat terbatas ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga. Karena itu, dalam dua rapat yang tersisa tahun ini, Oktober dan Desember, masih bersemi harapan dunia bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga. Bahkan, masih ada yang menanti rapat Maret 2016.
Buat Indonesia, sebaik-baiknya perkara ialah menimbang dalam-dalam adanya pandangan bahwa suku bunga sekitar atau dekat 0% (near zero), tepatnya 0-0,25%, merupakan 'kebijakan baru' dalam moneter. Tiga bank sentral dunia kini menganutnya, yaitu AS (The Fed), Eropa (ECB), dan Bank of Japan. Kita tidak tahu sampai kapan kebijakan sekitar 0% dipertahankan. Karena itu, mestinya kita lebih tertarik menanti kebijakan Gubernur BI Agus Martowardojo dalam 'membela rupiah', ketimbang menanti keputusan Ibu Ketua The Fed Janet Yellen menaikkan suku bunga atau tidak. Ada pertanyaan mengusik, mengutip The Economist, kenapa rupiah terhadap dolar AS tahun ini melemah 9,8%, lebih parah ketimbang peso Filipina yang hanya 2,2%?
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved