Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENONTON siaran langsung ritual keagamaan seperti misa di internet sudah biasa. Ditonton sama seperti program penyiaran lainnya sekilas pandang. Selama ini tidak pernah fokus melihat, hanya curi-curi pandang di sela-sela rutinitas harian.
Ada yang berbeda saat menonton misa di internet selama masa darurat kesehatan masyarakat akibat pandemi covid-19. Menonton misa kali ini sebagai kebutuhan rohani, setidaknya bagi saya pribadi. Internet memungkinkan berpartisipasi dalam Paskah maya.
Misa ditonton karena pintu gereja ditutup rapat-rapat. Pemerintah mengambil kebijakan beribadah di rumah, selain bekerja dari rumah dan belajar dari rumah.
Beribadah di rumah selama Tri Hari Suci Paskah pengalaman pertama. Sepanjang hidup, dua hari besar keagamaan tidak pernah absen ke gereja, yaitu Natal dan Paskah. Karena itu, disebut agama napas alis Natal dan Paskah. Hari Minggu lainnya memilih di rumah atau sesekali mengantar istri dan anak ke gereja.
Meski mencoba mengikuti misa Paskah dengan fokus, kegelisahan terus saja mampir. Ada pergolakan batin. Apakah mengikuti misa di rumah bisa menggantikan misa di gereja? Apakah perayaan ekaristi online sebuah sakramen?
Kegelisahan itu dibuang ke laut agar tidak menggerus imunitas tubuh. Hati dibawa riang sambil mendendangkan lagu Hatiku Gembira, “Hatiku gembira, alleluya, karena Tuhan mendatangi umat-Nya.”
Agak lega membaca dokumen Gereja dan Internet yang diterbitkan Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2019. Gereja mengakui internet. Disebutkan, media komunikasi sosial, sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II, merupakan ‘penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan’.
Lebih dari temuan yang mengagumkan, Paus Fransiskus pada 2014 menyebut internet seperti hadiah dari Tuhan. Internet sangat membantu manusia dalam menjalin hubungan sosial tanpa terikat ruang dan waktu.
Tambah lagi fungsi internet selama masa covid-19. Internet membantu untuk tetap mendekatkan orang dengan Tuhannya, setidaknya lewat misa online. Yesus yang mengalahkan maut itu yang datang ke rumah.
Sebagai hadiah dari Tuhan, internet eloknya dipakai untuk memuliakan kemanusiaan, bukan merendahkan harkat dan martabat manusia dengan menyebarkan hoaks. Karena itulah, mengawali masa pra-Paskah kali ini, Paus Fransiskus meminta umat Katolik berhenti mencerca orang di media sosial.
Pandangan Paus Fransiskus soal internet sejalan dengan Ensiklik Miranda Prorsus dari Paus Pius XII tahun 1957. Internet dipandang sebagai anugerah Allah, dimaksudkan untuk menyatukan manusia dalam ikatan persaudaraan, agar menjadi teman sekerja dalam rencana-rencana penyelamatan-Nya.
Terus terang, internet telah menyatukan seisi rumah untuk bersama-sama khusyuk mengikuti Paskah online kali ini. Ibadah di rumah ternyata asyik-asyik saja sekalipun dunia maya tidak bisa menggantikan realitas sakramental.
Pengalaman misa melalui internet setidaknya mendorong orang untuk menghayati iman secara lebih penuh dan memperkaya kehidupan religius para penggunanya.
Menghayati iman secara lebih penuh semakin terbantu karena di rumah bebas mengikuti misa sesuai selera yang disiarkan melalui live streaming. Hampir semua mimbar bertalian dengan covid-19.
Covid-19, sebagaimana diutarakan Paus Fransiskus, ialah respons alami terhadap sikap manusia yang tidak memedulikan krisis ekologi saat ini. Segala sesuatu di muka bumi ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Namun, apakah manusia sudah memanfaatkan ciptaan itu untuk membangun kesejahteraan umat?
Jujur dikatakan bahwa kerakusan manusia mengakibatkan hutan rusak. Organisasi Jaringan Pemantau Hutan Independen, Forest Watch Indonesia (FWI) menyatakan angka laju deforestasi selama 2013 hingga 2017 mencapai 1,47 juta hektare per tahunnya.
Kerakusan manusia itulah yang ditentang masyarakat Luwuk dan Lolok di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT. Masyarakat menolak kehadiran pabrik semen dan tambang batu kapur di daerah mereka. Para petani gigih mempertahankan hak mereka atas lahan pertanian dari caplokan pertambangan atas restu otoritas lokal.
Covid-19 semakin menyadarkan manusia untuk segera kembali ke alam melalui pemurnian hati. Memurnikan hati dengan cinta kasih dan solidaritas sambil berselancar mencari Mahaada di internet.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved