Amerika

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
19/9/2015 00:00
Amerika
(MI/Seno)
KRISIS keuangan 2008 merupakan pengalaman terburuk yang pernah dialami Amerika. Gara-gara subprime mortgage, perusahaan bertumbangan. Rakyat Amerika kehilangan pekerjaan. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun tajam. Perekonomian Amerika pun dalam bahaya.

Dalam kondisi yang menakutkan, langkah kebijakan berani diambil. Langkah pertama yang dilakukan Presiden George W Bush mengambil alih aset-aset bermasalah agar perusahaan tetap bertahan. Tak tanggung-tanggung US$700 miliar (sekitar Rp10 ribu triliun) disuntikkan untuk menyehatkan perusahaan-perusahaan.

Perekonomian tidak akan bisa pulih kalau hanya perusahaan yang diselamatkan. Untuk membantu langsung masyarakat, Federal Reserve menerapkan kebijakan 0%. Ditambah dengan rendahnya harga minyak dunia, perekonomian AS segera menggeliat oleh meningkatnya daya beli masyarakat.

Setelah hampir tujuh tahun kebijakan itu berjalan, perekonomian AS mengalami booming. Itu terutama dirasakan sektor otomotif. Detroit yang sebelumnya hampir seperti kota mati sekarang bahkan lebih hidup daripada 1990-an. Penjualan mobil kecil dan truk di Amerika mencapai 17 juta unit per tahun. Bonus bagi orang yang bekerja di sektor otomotif mencapai US$9 ribu per tahun. Perekonomian AS diperkirakan tumbuh 2,2% tahun ini.

Memang jadi pertanyaan apakah perekonomian AS sudah pulih sepenuhnya? Apakah pertumbuhan bisa bertahan apabila penyangga 'kebijakan 0%' dicabut? Meski angka pengangguran 5,1%, dengan inflasi hanya 0,2%, Fed belum berani menaikkan suku bunga acuan. Rapat Fed kemarin memutuskan mempertahankan 'kebijakan 0%'.

Pelajaran terpenting yang kita bisa petik dari pengalaman AS dalam situasi krisis: keputusan harus cepat diambil. Negara harus berani berkorban demi kepentingan rakyat. Tidak apa-apa negara defisit sepanjang daya beli masyarakat bisa didorong dan perusahaan berkembang. Negara bisa mengambil pajak kelak ketika perusahaan memetik keuntungan dan pendapatan masyarakat meningkat.

Ketika pengangguran meningkat dan daya beli masyarakat menurun, pemerintah harus menyuntikkan energi kepada perekonomian yang sedang lesu. Stimulus fiskal dan stimulus moneter yang dibutuhkan bukan dalam bentuk 'kata-kata'. Harus ada stimulus nyata yang bisa membuat perekonomian menggeliat.

Berikan insentif kepada perusahaan yang tidak melakukan PHK dan bahkan menambah karyawan. Saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo, ada pengusaha yang mengusulkan agar pajak pertambahan nilai yang 10% diturunkan menjadi 3%. Pajak penghasilan yang kini 30% diturunkan menjadi 18% supaya sama dengan Singapura. Penerimaan pajak memang kelihatan akan menurun, tetapi ketika daya beli masyarakat meningkat dan konsumsi bertambah, penerimaan pajak akan bertambah dari frekuensi transaksi yang meningkat. Bahkan pemerintah akan diuntungkan karena pertumbuhan ekonomi meningkat.

Seperti halnya dilakukan AS, dalam keadaan resesi, daya beli masyarakat harus didorong. Biarkan masyarakat berbelanja, bukan malah ditakut-takuti untuk menggunakan uang. Belanja masyarakat itulah yang akan membuat perusahaan bisa bertahan, bahkan mengembangkan diri. Itu akan memberi manfaat karena bisa membuka lapangan kerja baru.

Dalam keadaan krisis, yang dibutuhkan bukanlah cara berpikir biasa. Kita butuh kelonggaran agar perekonomian bergerak. Apalagi, 60% pertumbuhan ekonomi kita bertumpu pada konsumsi masyarakat. Pemerintah harus menyelamatkan terlebih dahulu ekonomi masyarakat. Nanti kalau kondisi sudah beralih dari resesi ke booming, silakan pemerintah mengendalikan lagi konsumsi masyarakat.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.