Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SYAHDAN, pada 1854, fisikawan Jerman Hermann von Helmholtz menyadari hukum termodinamika dapat diterapkan pada alam semesta. Hukum kedua dari tiga hukum termodinamika, membahas apa yang disebut entropi. Entropi bermakna ketidakteraturan, ketidakseimbangan.
Sudah menjadi hukum alam bahwa suatu perubahan atau proses yang dapat terjadi dengan sendirinya (spontan) cenderung berlangsung menuju keadaan lebih tidak teratur atau peningkatan derajat ketidakteraturan (entropi). Itu artinya, alam semesta dan seisinya pada waktunya hancur, musnah, binasa.
Akan tetapi, manusia menantang proses entropi, untuk setidaknya menunda kehancuran. Manusia menantang entropi spontan dengan upaya terdesain, entah itu berupa intervensi, rekayasa, atau adaptasi. Kloning, rekayasa genetika, perbaikan gizi dan pola hidup, sampai bertaburannya klinik, obat, atau kosmetik antipenuaan merupakan upaya menantang entropi. Hasilnya, antara lain meningkatnya usia harapan hidup manusia. Bahkan konon ada ilmuwan yang terus meneliti untuk mengusahakan agar kelak kehidupan kekal.
Namun, akibatnya, kata Thomas J Bollyky, konsultan kesehatan masyarakat, “Dunia terlalu sehat.” Celakanya, dunia yang terlalu sehat menyebabkan bumi sakit. Manusia sehat dengan ekonomi sehat mengonsumsi makanan dan energi dengan rakus yang menyebabkan bumi sakit karena polusi.
Bumi yang sedang sakit, dalam bahasa James Ephraim Lovelock, ialah bumi yang sedang tak bisa mencapai kesimbangan untuk menopang dirinya sendiri. Pada 1970-an, Lovelock, ilmuwan, enviromentalis, dan futuris, mengajukan teori yang disebut hipotesis Gaia. Gaia artinya bumi dalam bahasa Yunani. Hipotesis Gaia memformulasikan bumi punya sistem mengatur diri sendiri, swakelola.
Jika karena suatu keadaan bumi tak bisa mencapai keseimbangan untuk menopang kehidupannya, Gaia membuat umpan balik sibernetik yang mendorong mikroorganisma yang sebelumnya tersembunyi untuk menjaga keseimbangan sistem dengan cara tertentu.
Dalam sejarah, mikroorganisma bernama influensa, kolera, cacar, SARS, MERS, ebola, hadir menjaga keseimbangan bumi dengan cara mereka sendiri. Kini, hadir mikroorganisma bernama covid-19 menjenguk bumi yang sedang sakit untuk mendorong bumi menjaga keseimbangannya, memulihkannya, dengan cara tertentu.
Tanda-tanda kesimbangan bumi mulai terlihat. Langit cerah tanpa polusi. Halaman depan harian ini edisi Rabu, 8 April 2020, menampilkan foto langit bersih Jakarta. Begitu bersihnya langit Ibu Kota, Gunung Gede Pangrango yang biasanya tersembunyi di balik polusi terlihat jelas. Sejak kemarin pula, jagat maya diramaikan dengan unggahan foto langit bersih tanpa polusi.
Langit cerah tanpa polusi karena bumi sedang jeda dari pergerakan manusia yang bepergian atau bekerja menggunakan mesin-mesin rakus energi. Kita manusia belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Kita jeda, bumi pun jeda. Jedanya kita membuat covid-19 bisa segera kembali ke alamnya, tak perlu terlalu lama menjenguk kita, karena bumi lekas pulih kembali.
Itu artinya, meski punya kemampuan swakelola, bumi tetap memerlukan partisipasi kita sebagai penghuni bumi. Pemerintah terlibat membuat dan menerapkan berbagai kebijakan dan protokol untuk mencegah penyebaran covid-19 dan mengobati yang positif covid-19. Tenaga medis berpartisipasi merawat dan menyembuhkan mereka yang positif covid-19. Kita warga negara berpartisipasi mencegah penyebaran covid-19 dengan menjaga jarak fisik dan sosial, juga mencuci tangan pakai sabun dan mengenakan masker. Partisipasi kita akan membuat bumi lekas kembali mencapai keseimbangannya.
Saya optimistis sejak dalam pikiran, bahwa bila kita berpartisipasi membantu bumi memulihkan dirinya, kehidupan belum akan kiamat gara-gara covid-19. “Kehidupan akan menemukan jalannya,” kata Ian Malcolm dalam film Jurrasic Park. Sejak dalam pikiran, saya optimistis bahwa bumi serupa sedang jeda minum kopi karena covid-19, untuk menemukan jalan kehidupannya. Tapi, minum kopinya di rumah saja.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved