Tapa Pepe

18/9/2015 00:00
Tapa Pepe
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

"YUNANI bangkrut gak masalah. Yang penting masih ada Yu Djum. Gak usah resah dan gelisah."

Begitulah ibu-ibu di Yogyakarta, di sebuah acara, menghibur diri di tengah kebangkrutan ekonomi Yunani, dan sesungguhnya juga kejatuhan rupiah yang bertubi-tubi.

Yang bicara dan yang mendengar sama-sama tertawa lepas. Mereka sesungguhnya melepas ketegangan.

Maka, esok harinya saya benar-benar makan dengan gayeng di warung gudeg Yu Djum yang gusto.

Yu Djum, salah satu warung gudeg terlaris di Yogya, siang itu amat padat pengunjung.

"Tenang saja, Pak. Silakan makan yang enak selagi masih ada Yu Djum," kata Suroso, 57, sopir taksi yang membawa saya.

Saya agak kaget, di tempat berbeda, ada nada yang sama mempromosikan sekaligus menghibur diri lewat 'Yu Djum'.

Yu Djum, mungkin juga hal-hal yang dekat dengan warga Yogya, bisa menjadi bahan 'pelipur lara' di tengah problem hidup yang memberat.

Di luar problem ekonomi saya menangkap ada keresahan warga Yogya setelah sabdatama atau perintah tertinggi Sultan Hamengku Buwono X, beberapa bulan silam.

Tukang becak, sopir taksi, dan abdi dalem, bahkan kaum terpelajar, yang saya ajak bicara tentang sabda raja tanpa sungkan mengungkapkan kekecewaan.

Demi putrinya, mengorbankan aturan kerajaan yang telah berlangsung ratusan tahun.

Menurut mereka, tanda-tanda ke arah itu amat besar.

Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, putri sulung Sultan, telah berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram.

Meski Sultan telah menjelaskan bahwa sabda raja itu wahyu atau wangsit, dan ia tak kuasa menolak, warga Yogya tetap resah.

Juga, meski Ngarsa Dalem telah meminta warga menyikapi sabda raja dengan olah rasa, bukan olah pikir, tak bisa mencairkan kekecewaan.

"Kami tak percaya pada Ngarsa Dalem. Ini bukan soal perempuan yang akan menggantikan Ngarsa Dalem, tapi aturannya gak ada. Selain itu apa dia mampu?" kata Ngirun, 47, abdi dalem yang juga pemandu wisata di area Keraton Yogyakarta.

Suroso, sopir itu, juga mengkritik keraton yang meminjampakaikan tanah kepada pengusaha dan akhirnya menjadi kasus.

Eka Aryawan, pengusaha itu, mendapat hak pinjam pakai tanah keraton seluas 73 meter di pertigaan Gondamanan pada 2011.

Eka menuduh lima pedagang kaki lima menduduki tanah itu.

Ia meminta PN Yogyakarta mengosongkan lahan dan menghukum mereka membayar ganti rugi Rp1,112 miliar.

Tuntutan yang muskil. Selain itu, para pedagang juga merasa benar.

LBH Yogya yang pernah mengukur tanah itu tak menemukan bukti para pedagang melanggar.

Karena tak berdaya, pada Ahad (13/9) bertempat di Alun-alun Utara, para pedagang melakukan tapa pepe (duduk berjemur) sebagai tanda protes. Mereka meminta Sultan membatalkan surat perjanjian hak pinjam pakai pada Eka.

Rupanya, menurut LBH Yogya, selain di pertigaan Gondamanan, kekancingan (hak pinjam pakai lahan) dari keraton yang menimbulkan masalah juga terjadi di Gunung Kidul.

Pihak yang mendapat hak pinjam juga meminta para pedagang pindah.

Keistimewaan Yogyakarta, sesungguhnya ada pada raja.

Kearifan, rendah hati, kepekaan pada keadaan, dan keberpihakan pada rakyat, itulah yang membentuk wibawa raja.

Ini yang dulu lekat pada Sultan Hamengku Buwono IX.

Wibawa raja itulah yang membuat Yogyakarta istimewa.

Ini menurut pakar komunikasi Ashadi Siregar.

Berbagai keluhan itu, apakah ini tanda wibawa raja tengah meluruh?

Tak bisa dibayangkan jika tapa pepe kian masif.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima