Derita Ekonomi Mikro

17/9/2015 00:00
Derita Ekonomi Mikro
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BIASANYA, dalam suka dan duka, negara cenderung memperhatikan ekonomi makro. Sepanjang ekonomi makro bagus, sepanjang itu pula diyakini ekonomi sehat walafiat. Sebaliknya, ketika pertumbuhan ekonomi melambat, seperti saat ini, ekonomi makrolah lebih dulu diperiksa.

Hasilnya? Kata sebagian pakar, ekonomi saat ini lebih baik jika dibandingkan dengan saat krisis 1997/1998.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS terjadi 'evolusioner', perlahan menembus 14.000, tidak mendadak sontak seperti tempo hari. Karena itu, pesimisme dinilai berlebihan, bahkan dapat memicu memburuknya perekonomian.

Pesimisme bisa bikin psikosomatis. Sebaliknya optimisme ekonomi makro bisa bikin rabun dekat, derita ekonomi mikro tak terlihat. Padahal meningkatnya pemutusan hubungan kerja pertanda sakitnya ekonomi mikro.

Tak tercapainya target pajak, sebagian karena tingginya target, sebagian lagi petunjuk termehek-meheknya ekonomi mikro.

Perlu diperiksa, jangan-jangan derita ekonomi mikro terjadi gara-gara ada kebijakan pemerintah 'menyakiti' ekonomi mikro. Contoh, kalau kebijakan Menteri PAN dan Rebiro melarang rapat di hotel-hotel dilanjutkan, bisa dibayangkan banyaknya ekonomi mikro yang bernama hotel, limbung dan roboh. Kebijakan itu diam-diam dihentikan karena Menteri Pariwisata mendengar jeritan industri perhotelan.

Seorang pengusaha membawa ke ruang publik melalui surat pembaca, kegagalannya memenuhi pesanan cangkang kernel sawit dari Jepang dengan volume besar untuk jangka panjang (10 tahun). Penyebabnya cangkang kernel sawit dikenai pungutan US$10 per ton (12,5% dari harga jual US$80 per ton).

Kata pihak Jepang, di negara lain pungutan serupa nilainya hanya 2,5%. Pungutan mencekik ekonomi mikro itu termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan No 114/PMK.05/2015 tanggal 15 Juni 2015, yang belum genap sebulan diperbarui dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.05/2015 tanggal 14 Juli 2015.

Judul surat pembaca itu seram, 'Butuh Valas, Ekspor Dihambat' (Kompas, 2 September 2015).

Contoh lain, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan mewajibkan kontraktor proyek infrastruktur minimal Rp200 miliar memiliki alat berat sendiri. Alasannya, pengerjaan konstruksi berjalan lamban gara-gara kontraktor menunggu giliran pemakaian alat berat dari perusahaan penyewaan alat berat.

Pemerintah melawan akal sehat manajemen mikro, yaitu tidak perlu memiliki barang modal sendiri bila menyewa lebih efisien.  Katakanlah benar ada persoalan, tapi kenapa leher gatal kaki digaruk?

Lihatlah pertambangan batu bara. Berapa banyak perusahaan penyewaan alat berat terancam bangkrut karena alat beratnya menganggur. Kegiatan menambang terhenti akibat buruknya harga batu bara. Bayangkan bila penambang batu bara memiliki alat berat sendiri, sudah jatuh tertimpa tangga.

Contoh lain, Ditjen Bea dan Cukai mempercepat penundaan pembayaran bea masuk dan pajak impor, dari 120 hari menjadi 60 hari, untuk memberikan kepastian dalam penerimaan negara.

Di satu pihak pengeluaran barang impor dengan jaminan itu belum tentu dipercepat, tapi sebaliknya arus kas ekonomi mikro telah ditekan keluar lebih lekas. Padahal, di lain pihak anggaran negara menganggur, diburu-buru dipercepat penggunaannya.

Ekonomi punya dua kaki, makro dan mikro. Jangan biarkan, apalagi sengaja membuat kaki yang satu tersiksa, bahkan lumpuh. Di bawah cuaca makro melambannya pertumbuhan, mikroekonomi mestinya diberi iklim pemacu produktivitas.

Bukan malah dicekik negara, digigit pula buruh dengan mogok dan kenaikan upah.

Tak ada telur emas bila angsa mampus.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.