Tragedi Haji

15/9/2015 00:00
Tragedi Haji
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TRAGEDI haji terjadi lagi. Badai besar membuat mesin derek (crane) di Masjidil Haram terban, Jumat silam. Ia menimpa para jemaah yang umumnya tengah bertawaf (berputar tujuh kali mengelilingi Kabah). Sedikitnya 107 jemaah haji wafat dan 238 terluka. Sebanyak 10 jemaah wafat dari Indonesia.

Musim haji, lagi-lagi, menorehkan perkabungan karena kecelakaan. Mala yang alpa dinujum Arab Saudi.

Kita ingat horor yang mengerikan di terowongan Haratul Lisan, Mina, 2 Juli 1990. Ribuan jemaah berdesakan, saling injak, 631 jemaah Indonesia gugur di sana, dari keseluruhan 1.426 jemaah wafat.

Sejak itu Mina seperti lokus yang terus mengalunkan rekuiem yang menyayat-nyayat. Pada 1994, 270 jemaah haji mati dengan kasus sama. Tiga tahun kemudian (1997) kebakaran melanda perkampungan tenda di Mina, 340 calon haji mati dibakar panas api.

Mina, tempat mabit dan melempar jumrah, berjarak 5 kilometer dari Mekah, terus mengukir duka. Sepanjang 1998, 2001, 2004, dan 2006, 919 jemaah mati karena terinjak-injak. Arab Saudi seperti tak mengambil pelajaran serius dari kasus demi kasus.

Sejak sembilan tahun silam, Mina tak lagi menjadi horor, tetapi kali ini justru karena mesin derek, yang terus terpasang dalam proyek perluasan Masjidil Haram agar bisa menampung lebih banyak jemaah haji. Sayang, keselamatan jemaah diabaikan.

Kita tak sedang bicara takdir kematian, tapi bicara hak aman dan keselamatan jemaah yang harus disediakan.

Arab Saudi, negeri yang mendapat untung besar secara ekonomi karena haji, tak bisa sekadar bertanggung jawab hari ini. Namun, harus menjamin keselamatan di masa depan. Kini Saudi terbukti tak punya hitung-hitungan matang, di tengah badai yang mengamuk, apa akibatnya jejeran 15 crane bertengger di atas jutaan manusia di Masjidil Haram?

Di tengah duka mendalam, kita harus terus menuntut tanggung jawab Arab Saudi. Takdir kematian satu hal, keselamatan ialah sisi lain: hak para jemaah.

Tragedi mesin derek terjadi sehari sebelum muhibah Presiden Joko Widodo ke Arab Saudi.

Presiden memang disambut amat istimewa, diberi medali Star of the Order of Abdul Aziz Al Saud yang hanya diberikan kepada sedikit pemimpin negara seperti Barack Obama dari AS, Perdana Menteri David Cameron dari Inggris, dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Namun, Jokowi tak boleh mongkok dan alpa bicara keselamatan jemaah.

Kita gembira ia berhasil menambah kuota haji dan menggagalkan hukuman mati beberapa TKI, tapi tak boleh mengendurkan tuntutan jaminan keselamatan dari Saudi.

Indonesia yang mendapat kuota haji terbanyak di dunia tidak saja harus memastikan kelancaran jemaahnya, tetapi juga mengusulkan apa saja yang berkaitan dengan keselamatan jemaah.

Seperti Bung Karno ketika berhaji pada 1955 mengusulkan agar Saudi membuat bangunan dua lantai untuk sai yang terbagi dalam dua jalur bangunan dua lantai.

Usul si Bung direalisasikan. Saudi merenovasi Masjidil Haram.

Bung Karno juga mengusulkan padang Arafah dihijaukan dengan pohon mimba--Raja Fadh waktu itu mengganti nama menjadi pohon soekarno--yang cocok untuk daerah tandus.

Si Bung mengirim beberapa ahli tanaman.

Kini pohon soekarno juga menghijaukan kota-kota lain, termasuk Mekah.

Berhaji ialah ibadah penyempurna dalam rukun Islam.

Namun, dengan tragedi yang bertubi-tubi di Tanah Suci, terlebih juga dengan aneka kendala di negeri sendiri, bisa jadi justru mereduksi kesempurnaan itu sendiri.

Arab Saudi harus serius dan teliti menangani haji.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima