Difasilitasi HT

11/9/2015 00:00
Difasilitasi HT
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

JIKA saja seusai menghadiri Konferensi Dunia IV Pimpinan Parlemen di Markas Besar PBB Setya Novanto dan Fadli Zon tak menghadiri konferensi pers kampanye Donald Trump, kehebohan itu mungkin tak terjadi.

Jika saja mereka hanya berkunjung ke kantor Trump di lantai 26 Trump Tower, New York, AS, dan setelah itu pergi, mereka tak jadi sasaran kekecewaan kita. Defisit kepatutan itulah yang membuat mereka tak peduli dengan pundak yang mengemban puncak amanah rakyat.

Beberapa media asing pun menulis kehadiran Novanto dengan pertanyaan. Umumnya di tempatkan di alinea terakhir.

Newsweek, misalnya, menulis judul Donald Trump Signs Pledge to Republican Party with Wrong Date on It, dan mempertanyakan kehadiran pemimpin Indonesia itu.

'Di akhir konferensi pers, Trump memperkenalkan Ketua DPR Indonesia. Tidak jelas mengapa dia ada di sana'.

Juga Cbsnews.com.

Dengan judul Donald Trump: I have Signed the Pledge, di alinea terakhir media ini menulis: "Di akhir konferensi pers, untuk alasan yang tidak diketahui, Trump memperkenalkan Ketua DPR Indonesia Setya Novanto.

"Do they like me in Indonesia?" Trump bertanya pada Novanto yang sedikit bingung.

Dia (Novanto) menjawab 'ya', dan kemudian menjabat tangannya."

"Trump's party loyalty pledge ends one GOP problem, brings others" ialah judul tulisan The Washington Post.

Ending-nya, "Dan ada tontonan yang tak terduga.

Setelah mengakhiri konferensi pers, dan televisi kabel hendak mengakhiri siaran, Trump memperkenalkan seorang pria yang dia jelaskan sebagai 'Ketua DPR Indonesia'".

Masih banyak kutipan media lain, tapi dari tiga media itu cukup menggambarkan betapa kehadiran Novanto dan Fadli Zon mengundang tanya.

Wajar ketika Bedah Editorial Media Indonesia berjudul Menyoal Etika Politik Novanto dan Fadli Zon, Kamis (10/9), beberapa orang meminta para pemimpin dewan itu meminta maaf, mengundurkan diri, atau dipecat. Mereka dinilai telah melanggar kode etik anggota dewan.

Mereka meminta Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang akan menyidangkan Novanto dan Fadli Zon memutuskan hukuman yang pantas.

Saya beberapa kali menyaksikan gambar kehadiran Novanto dan Fadli itu dalam konferensi pers Trump.

Setiap menatap gambar, melihat Trump di podium, bicara berapi-api sebagai salah satu kandidat bakal calon presiden AS dari Partai Republik, dan Novanto yang sedikit bingung, Fadli Zon yang kadang manggut-manggut, saya merasa sedih. Sedih karena begitu murah dua pemimpin wakil rakyat kami 'menjadi bagian kampanye' negeri orang.

Tanya-jawab Trump dan Novanto telah gamblang menjelaskan itu kampanye atau bukan. Tak perlu diterjemahkan.

Fadli Zon beberapa kali menjelaskan kunjungan mereka ke Trump spontan. Akan tetapi, teka-teki kita terjawab.

Kunjungan mereka ternyata difasilitasi pengusaha Hary Tanoesoedibjo (HT).

Jika memang difasilitasi HT dan tujuannya menarik investasi, tentu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia direncanakan, dipersiapkan. Jangan-jangan hadir dalam konferensi pers juga memang 'paket ' yang sudah disiapkan?

Pertanyaan selanjutnya, memfasilitasi dalam apa saja HT kepada para pemimpin dewan itu?

Hanya membuka jalan untuk bertemu Trump?

Atau lebih dari itu?

Itu yang harus didalami MKD jika benar-bersidang. Adakah gratifikasi di situ?

Namun, di luar soal tawaran HT sebagai pengusaha--dan politikus--mestinya para pejabat negaralah yang harus menimbang matang-matang kepantasannya.

Sayang jika negeri besar ini dipimpin mereka yang berjiwa kecil dan kerdil.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima