Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA saja seusai menghadiri Konferensi Dunia IV Pimpinan Parlemen di Markas Besar PBB Setya Novanto dan Fadli Zon tak menghadiri konferensi pers kampanye Donald Trump, kehebohan itu mungkin tak terjadi.
Jika saja mereka hanya berkunjung ke kantor Trump di lantai 26 Trump Tower, New York, AS, dan setelah itu pergi, mereka tak jadi sasaran kekecewaan kita. Defisit kepatutan itulah yang membuat mereka tak peduli dengan pundak yang mengemban puncak amanah rakyat.
Beberapa media asing pun menulis kehadiran Novanto dengan pertanyaan. Umumnya di tempatkan di alinea terakhir.
Newsweek, misalnya, menulis judul Donald Trump Signs Pledge to Republican Party with Wrong Date on It, dan mempertanyakan kehadiran pemimpin Indonesia itu.
'Di akhir konferensi pers, Trump memperkenalkan Ketua DPR Indonesia. Tidak jelas mengapa dia ada di sana'.
Juga Cbsnews.com.
Dengan judul Donald Trump: I have Signed the Pledge, di alinea terakhir media ini menulis: "Di akhir konferensi pers, untuk alasan yang tidak diketahui, Trump memperkenalkan Ketua DPR Indonesia Setya Novanto.
"Do they like me in Indonesia?" Trump bertanya pada Novanto yang sedikit bingung.
Dia (Novanto) menjawab 'ya', dan kemudian menjabat tangannya."
"Trump's party loyalty pledge ends one GOP problem, brings others" ialah judul tulisan The Washington Post.
Ending-nya, "Dan ada tontonan yang tak terduga.
Setelah mengakhiri konferensi pers, dan televisi kabel hendak mengakhiri siaran, Trump memperkenalkan seorang pria yang dia jelaskan sebagai 'Ketua DPR Indonesia'".
Masih banyak kutipan media lain, tapi dari tiga media itu cukup menggambarkan betapa kehadiran Novanto dan Fadli Zon mengundang tanya.
Wajar ketika Bedah Editorial Media Indonesia berjudul Menyoal Etika Politik Novanto dan Fadli Zon, Kamis (10/9), beberapa orang meminta para pemimpin dewan itu meminta maaf, mengundurkan diri, atau dipecat. Mereka dinilai telah melanggar kode etik anggota dewan.
Mereka meminta Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang akan menyidangkan Novanto dan Fadli Zon memutuskan hukuman yang pantas.
Saya beberapa kali menyaksikan gambar kehadiran Novanto dan Fadli itu dalam konferensi pers Trump.
Setiap menatap gambar, melihat Trump di podium, bicara berapi-api sebagai salah satu kandidat bakal calon presiden AS dari Partai Republik, dan Novanto yang sedikit bingung, Fadli Zon yang kadang manggut-manggut, saya merasa sedih. Sedih karena begitu murah dua pemimpin wakil rakyat kami 'menjadi bagian kampanye' negeri orang.
Tanya-jawab Trump dan Novanto telah gamblang menjelaskan itu kampanye atau bukan. Tak perlu diterjemahkan.
Fadli Zon beberapa kali menjelaskan kunjungan mereka ke Trump spontan. Akan tetapi, teka-teki kita terjawab.
Kunjungan mereka ternyata difasilitasi pengusaha Hary Tanoesoedibjo (HT).
Jika memang difasilitasi HT dan tujuannya menarik investasi, tentu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia direncanakan, dipersiapkan. Jangan-jangan hadir dalam konferensi pers juga memang 'paket ' yang sudah disiapkan?
Pertanyaan selanjutnya, memfasilitasi dalam apa saja HT kepada para pemimpin dewan itu?
Hanya membuka jalan untuk bertemu Trump?
Atau lebih dari itu?
Itu yang harus didalami MKD jika benar-bersidang. Adakah gratifikasi di situ?
Namun, di luar soal tawaran HT sebagai pengusaha--dan politikus--mestinya para pejabat negaralah yang harus menimbang matang-matang kepantasannya.
Sayang jika negeri besar ini dipimpin mereka yang berjiwa kecil dan kerdil.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved