Kereta Cepat

09/9/2015 00:00
Kereta Cepat
()
PRESIDEN Joko Widodo memutuskan untuk mengubah rencana pembangunan kereta berkecepatan tinggi (high speed train atau KBT) Jakarta-Bandung. Jokowi berpendapat, kondisi lingkungan Jakarta-Bandung membuat KBT tidak efektif. Dari hasil kajian tim teknis, yang dibutuhkan Indonesia bukan KBT, melainkan kereta berkecepatan sedang.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan hasil kajian terbaru tim Indonesia kepada Duta Besar Jepang dan Duta Besar Tiongkok. Kedua negara sengit beradu untuk mengajukan proposal yang dianggap paling menguntungkan bagi Indonesia.

Jepang yang lebih maju dalam penguasaan teknologi KBT menawarkan proposal dengan menggunakan official development assistance yang berbunga 0,1% dan pengembalian 50 tahun, dengan 10 tahun pertama masa tenggang waktu tanpa mencicil. Tiongkok mengajukan sistem pendanaan lebih menggiurkan, yakni Indonesia tidak perlu menyediakan rupiah pendamping seperti dimintakan Jepang, tetapi badan usaha milik negara ikut sebagai pemegang saham. Itulah yang diistilahkan Menko Perekonomian sebagai penyertaan APBN tidak langsung.

Saya menilai langkah Jokowi mengadu proposal Jepang dan Tiongkok sebagai langkah cerdik. Kedua, rencana pembangunan KBT merupakan bagian dari upaya mendorong manusia Indonesia menguasai teknologi maju. Teknologi KBT tidak ubahnya seperti teknologi pesawat terbang. Hanya empat negara yang menguasai teknologi KBT, yaitu Jepang, Jerman, Prancis, dan Tiongkok.

Rupanya rencana Jokowi tidaklah secanggih seperti yang kita duga. Ada preferensi yang sejak awal sepertinya ada dalam diri Presiden sehingga ketika hasil kajian tidak mendukung preferensinya, Jokowi memilih tidak memilih di antara keduanya, tetapi mengubah kebutuhan KBT menjadi KBS.

Di seluruh dunia tidak ada KBT yang dalam aplikasinya menjalankan kecepatannya secara penuh. Sama dengan kita membeli mobil, tidaklah mungkin kita mengendarai dengan kecepatan paling tinggi dari mobil itu di jalan raya. Semua itu dilakukan demi keselamatan para penumpang dan pengguna jalan yang lain. Pengubahan KBT menjadi KBS menunjukkan kita tidak punya konsep pembangunan kereta yang utuh.

Tanpa konsep pembangunan KBT yang berjangka panjang, benarlah jika ahli ekonomi senior Prof Emil Salim berpendapat, belum saatnya Indonesia mengembangkan KBT di Jawa. Kalaupun memiliki anggaran untuk pembangunan transportasi massal, lebih baik pembangunan itu dilakukan di luar Jawa agar kita membagi pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia.

Pengubahan rencana pembangunan KBT menjadi KBS merupakan contoh tidak firm-nya perencanaan di Indonesia. Selama ini kita sering dikritik, buruk dalam penghormatan terhadap kontrak. Kita selalu berubah keinginan di tengah jalan dan perubahan seperti KBT menjadi KBS tidak seperti dikatakan Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofjan Djalil akan membuat biaya lebih murah 40%. Kalau platform KBS belum ada, biayanya malah bisa lebih mahal karena harus dikembangkan lebih dulu.

Lagi-lagi kita harus belajar pada bangsa Tiongkok. Ketika Presiden Jiang Zemin ingin membangun KBT, ia meminta Jepang, Jerman, dan Prancis presentasi dan menawarkan proposal. Tidak ada satu pun yang dipilih. Beijing memutuskan membangun sendiri KBT karena Tiongkok memiliki insinyur hebat dan mereka memiliki industri dasar serta industri permesinan yang maju. Meski harus memakan korban, Tiongkok akhirnya bisa menguasai teknologi KBT karena tidak pernah setengah-setengah.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima