Toleransi, Sampah, Pohon Natal

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
26/12/2019 05:10
Toleransi, Sampah, Pohon Natal
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PARADOKS Jakarta. Semakin modern kotanya, bukannya semakin adab dan inklusif, Jakarta malah kian intoleran. Survei Setara Institute 2018 menempatkan Jakarta menjadi kota into­leran nomor tiga terbawah.

Temuan Setara Institute setali tiga uang dengan hasil survei Kementerian Agama terkait dengan skor indeks kerukunan umat beragama. Jakarta hanya 71,3, di bawah rata-rata nasional 73,83. Dengan angka itu, Jakarta berada di urutan ke-27.

Seakan menepis temuan sebagai kota intoleran, Pemprov Jakarta bersama sejumlah pihak gotong royong membuat pohon Natal raksasa di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Ada makna persatuan dari kehadiran pohon Natal tersebut.

Di sekitar pohon Natal tersebut terdapat papan yang menjelaskan makna ‘Pohon Natal Persaudaraan’ itu. Pohon Natal itu terbuat dari sampah botol air mineral yang dihias menyerupai orang.

Gubernur Anies Baswedan menyebut pohon Natal raksasa tersebut membuktikan Pemprov DKI mendukung kesetaraan pada semua umat beragama di Jakarta. “Ini salah satu simbolisasi bahwa kami memberikan kesempatan kesetaraan kepada semua.”

Perbedaan agama merupakan sebuah keniscayaan yang tidak semestinya menimbulkan perpecahan, apalagi konflik. Pohon Natal Persaudaraan itu mestinya menjadi titik balik untuk merajut kembali persaudaraan di Jakarta.
Anggap saja intoleransi itu sebagai sampah, kemudian diolah menjadi pohon Natal simbol kerukunan dan toleransi.

Ada nilai filosofis teologis di balik pembuatan pohon Natal dari sampah plastik itu. Bukankah Natal itu untuk memperingati Dia yang lahir di sampah kandang hewan?

Muncul kesadaran kolektif memanfaatkan sampah plastik untuk membuat pohon Natal di segenap penjuru negeri. Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) menobatkan Gerbang Natal Port Numbay, Jayapura, meraih rekor pohon Natal berbahan sampah terbanyak. Total hampir 5 ton sampah yang didaur ulang menjadi pohon Natal.

Sejumlah anak muda Katolik di Paroki Stela Maris Danga Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, juga membuat pohon Natal setinggi 8 meter dari sampah botol plastik. Pohon Natal itu menjadi pesan tentang ekologi, mengenai pentingnya kelestarian lingkungan dan pencemaran sampah plastik.

Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan memang rendah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan sekitar 72% masyarakat Indonesia kurang peduli dengan masalah sampah plastik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jenna R Jambeck dari University of Georgia pada 2010, ada 275 juta ton sampah plastik dihasilkan di seluruh dunia. Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Krisis lingkungan hidup, terutama dengan meningkatnya produksi sampah plastik, direspons dengan pembuatan pohon Natal dari barang-barang plastik yang telah menjadi sampah. Pohon Natal sampah plastik itu menyampaikan pesan untuk hidup bersahabat dengan lingkungan.

Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus menerbitkan sebuah ensiklik berjudul Laudato Si pada 2015. Ensiklik itu memuat pandangan dan seruan Paus Fransiskus terkait dengan lingkungan hidup.

Paus menyatakan kerusakan terus-menerus dilakukan manusia terhadap lingkungan sebagai satu tanda kecil dari krisis etika, budaya, dan spiritual modernitas. “Bumi, rumah kita, semakin menyerupai tumpukan sampah. Di berbagai wilayah bumi, daerah yang semula cantik telah tertutupi oleh sampah.”

Perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai subjek dan alam sebagai objek untuk dikuras kekayaannya dan dicemari menjadi penyebab terbesar kerusakan lingkungan hidup saat ini.

Keprihatinan dan kepedulian gereja Katolik Indonesia terhadap masalah lingkungan hidup sudah ada sejak lama. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) berpandangan bahwa masalah sampah bukan hanya masalah sosial. Sampah juga berkaitan dengan masalah iman sehingga membutuhkan perhatian gereja.

Persoalan kita saat ini bukan hanya intoleransi, melainkan juga masalah sampah. Pohon Natal dari sampah plastik hanya simbol untuk melakukan pertobatan ekologis, hidup tanpa menghasilkan sampah plastik sambil menjunjung toleransi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.