Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Anak Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, mencalonkan diri menjadi Wali Kota Solo. Menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution, mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan. Orang menyebut Presiden Jokowi tengah membangun dinasti politik, eh politik dinasti.
Kita sering kali mencampuradukkan dinasti politik dan politik dinasti. Tengoklah berita atau artikel di media massa yang sering kali mempertukarkan istilah dinasti politik dan politik dinasti seolah keduanya kembar identik.
Dinasti itu wangsa, klan. Dalam sejarah Islam, dinasti identik dengan bani atau kekhalifahan. Dinasti, wangsa, klan, bani atau kekhalifahan berarti kelanjutan kekuasaan pemerintahan di tangan satu garis keturunan.
Di Tiongkok, seperti kita saksikan di film-film kungfu Mandarin, ada Dinasti Han, Dinasti Ming, Dinasti Tang, dan dinasti-dinasti lain. Dalam sejarah Islam, kita mengenal Dinasti Abasiyah dan Dinasti Muawiyah. Di masa kerajaan Nusantara, kita mengenal Dinasti Syailendra.
Di era modern, kita mengenal antara lain Dinasti Saud di Arab Saudi, Dinasti Windsor di Inggris, Dinasti Grimaldi di Monako, Dinasti Al Thani di Qatar, Dinasti Hamengku Buwono di Yogyakarta.
Dari definisi dan contoh-contohnya, dinasti terjadi di kerajaan. Dinasti ialab keberlanjutan kekuasaan yang berlangsung secara otomatis karena garis keturunan atau darah. Anak perempuan Sultan Hamengku Buwono X otomatis menjadi sultanah kelak.
Kerajaan, kesultanan, kekhalifahan, bagaimanapun, merupakan entitas politik. Dinasti-dinasti di atas bisa disebut dinasti politik.
Presiden Jokowi membantah kalau pencalonan Gibran dan Bobby dinasti politik. "Itu kan kompetisi. Kompetisi bisa menang bisa kalah. Terserah rakyat yang memiliki hak pilih. Siapa pun mempunyai hak memilih dan dipilih. Ya, kalau rakyat nggak memilih, gimana?" tanya Jokowi.
Yang dilakukan Gibran dan Bobby barangkali bisa disebut politik dinasti. Politik dinasti ialah upaya memperoleh kekuasaan dengan menggunakan hubungan kekerabatan. Bandingkan dengan politik uang, satu praktik politik menggunakan uang demi mendapat kekuasaan.
Gibran dan Bobby melakoni politik dinasti bila menggunakan garis keturunan atau klan sebagai senjata memperoleh kekuasaan. Mustahil keduanya melepaskan diri dari hubungan klan dengan Jokowi yang notabene sedang menjabat presiden.
Sekurang-kurangnya, pemilih kelak tak bisa mengenyampingkan kenyataan keduanya punya hubungan darah dengan presiden. Itu artinya pemilih memilih Gibran dan Bobby karena keduanya punya hubungan kekerabatan dengan presiden. Berdasarkan survei Median, misalnya, lebih dari 18% responden memilih Gibran karena dia anak presiden.
Yang berhak dipilih karena dia anak presiden cuma Gibran, tidak kandidat lain, karena presiden yang sekarang menjabat cuma satu juga. Itu artinya kesetaraan yang menjadi karakter demokrasi tercederai. Orang memulai kompetisi tidak di garis start yang sama. Gibran dan Bobby memulai kontestasi selangkah lebih maju dari kandidat lain.
Tetapi, anggap saja itu added value Gibran dan Bobby. Kandidat lain dilarang iri karena iri tanda tak mampu.
Politik dinasti ialah politik tidak sabaran. Orang tidak sabar menunggu terjun ke kompetisi menuju kekuasaan sampai orangtuanya menjadi mantan pejabat. Anak mantan presiden tentu berbeda 'perlakuan' dengan anak presiden.
Tetapi, untuk apa menunggu? Apa salahnya memakai jurus mumpung? Toh kesempatan belum tentu datang dua kali.
Dalam konteks demokrasi, dinasti politik mengalami perluasan makna. Dinasti politik adalah kekuasaan politik yang dijalankan sekelompok orang yang terkait hubungan keluarga di waktu yang sama. Begitulah, ada sebutan dinasti politik Ratu Atut Chosiah di Banten.
Bila Gibran kelak terpilih menjadi menjadi Wali Kota Solo dan Bobby menjadi Wali Kota Medan karena politik dinasti, terbentuklah dinasti politik baru dalam sejarah politik Indonesia, yakni dinasti Jokowi.
Di Amerika yang kampiun demokrasi ada juga kok dinasti politik. Dinasti George Bush, contohnya. Jadi, tak apalah bila disebut dinasti politik, Pak Jokowi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved