Jenderal Soedirman

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
08/9/2015 00:00
Jenderal Soedirman
()
KAMI menonton film Jenderal Soedirman pada hari ketujuh sejak pemutaran perdana pada 27 Agustus silam. Menonton di sebuah pusat perbelanjaan yang megah di Jakarta Barat, yang jarang memutar film-film Indonesia. Malam itu, saya hitung ada 13 penonton. Terasa suwung studio yang luas dan nyaman itu.

Film yang disutradarai Viva Westi dengan para pelakon antara lain Adipati Dolken (Jenderal Soedirman) Mathias Muchus (Tan Malaka), Soekarno (Baim Wong), dan Mohammad Hatta (Nugie) memang dibuat untuk memperingati HUT ke-70 Indonesia. Fokus utamanya pada perjuangan Soedirman memimpin perang gerilya selama tujuh bulan ketika Agresi Militer II Belanda dengan brutal menyerang sebuang bangsa merdeka. Sebuah angle yang tepat mengingat gerilya itulah yang membuat Soedirman melegenda sebagai tentara. Tentara rakyat!

Film dibuka dalam keriuhan ketika para kepala divisi dan resimen tengah memilih Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat. Waktu itu bertarikh 12 November 1945, bertempat di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta. Ada empat nama yang dicalonkan. Pesaing Soedirman terberat ialah Oerip Soemohardjo, 52, berpangkat letnan jenderal. Ia berpendidikan militer Belanda dan berkedudukan tinggi pula, Kepala Staf Umum TKR. Soedirman berpangkat kolonel dan baru 29 tahun. Ia hanya punya pengalaman tiga tahun sebagai tentara Peta (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang.

Namun, itulah suratan tangan pria kelahiran Purbalingga, Keresidenan Banyumas, 1916 ini. Ia terpilih menjadi panglima besar, pemimpin perang gerilya, sebagai salah satu perang terbaik di dunia. Konon, sebagai penghormatannya kepada senior, jika Soedirman bertemu Oerip secara pribadi, Soedirman menghormat dahulu. Namun, jika mereka bertemu di tempat umum, Oerip yang terlebih dahulu menghormat pada mantan bawahannya itu.

Kita tak pernah membayangkan menghadapi musuh dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap, Tentara Republik terpecah-pecah, memakai senjata seadanya, logistik amat cekak. Sementara itu, para pemimpin sipil masih berbeda pandangan, Soekarno-Hatta dalam tahanan. Ini sebuah kondisi negara muda yang amat kusut masai.

Dalam kondisi serupa itu, sang jenderal besar memimpin perang dalam kondisi sakit. Ia hidup dengan satu paru-paru karena mengidap tuberkulosis. Dengan diiringi para prajuritnya yang setia, termasuk dua ajudannya, Tjokropranolo dan Soepardjo Roestam, Soedirman harus ditandu, berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer, menundukkan medan yang terjal menghadapi perang yang brutal.

Ada banyak cerita okultisme (klenik) yang berkembang seputar Soedirman karena kehebatannya menghindari musuh. Akan tetapi, menurut keluarganya, mantan guru sekolah dasar dan anggota Hisbul Wathan (kepanduan Muhammadiyah) yang suka bermain bola dan menulis sajak itu, satu-satunya 'ajimat' pria sederhana ini ialah memimpin gerilya selalu dalam keadaan berwudlu.

Bagi para pecinta sejarah, film Jenderal Soedirman setidaknya menambah sudut pandang sosok pemimpin tentara rakyat ini. Bagi para pemimpin yang telah kehilangan inspirasi keteladanan, hakikat pemimpin (bangsa) ialah berkorban. Bukan mengambil sebanyak-banyaknya. Bagi generasi yang terbius K-pop dan sejenisnya, selain kehidupan hari ini 'indah', di masa lalu ada orang-orang luar biasa, yang dalam kesulitan hidup, ikhlas memberikan segala-galanya untuk negara dan bangsanya.

Soedirman memang inspirasi tentara yang, betapa pun ia jengkel pada kepemimpinan sipil menyakitkan hatinya karena berbagai perundingannya dinilai merugikan tentara, tetap hormat pada supremasi sipil, pada pemerintah yang sah. "Saya tentara. Saya membela pemerintah seratus persen untuk merdeka. Jika Tuan Malaka punya cara lain, silakan." Itulah jawaban Soedirman kepada Tan Malaka, kawan dekatnya, yang mengajak sang jenderal mengikuti idenya, segera mengganti kepemimpinan Soetan Sjahrir.

Soedirman terlalu teguh untuk dipengaruhi jalan yang bersimpang dengan semangat Republik.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.