KAMI menonton film Jenderal Soedirman pada hari ketujuh sejak pemutaran perdana pada 27 Agustus silam. Menonton di sebuah pusat perbelanjaan yang megah di Jakarta Barat, yang jarang memutar film-film Indonesia. Malam itu, saya hitung ada 13 penonton. Terasa suwung studio yang luas dan nyaman itu.
Film yang disutradarai Viva Westi dengan para pelakon antara lain Adipati Dolken (Jenderal Soedirman) Mathias Muchus (Tan Malaka), Soekarno (Baim Wong), dan Mohammad Hatta (Nugie) memang dibuat untuk memperingati HUT ke-70 Indonesia. Fokus utamanya pada perjuangan Soedirman memimpin perang gerilya selama tujuh bulan ketika Agresi Militer II Belanda dengan brutal menyerang sebuang bangsa merdeka. Sebuah angle yang tepat mengingat gerilya itulah yang membuat Soedirman melegenda sebagai tentara. Tentara rakyat!
Film dibuka dalam keriuhan ketika para kepala divisi dan resimen tengah memilih Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat. Waktu itu bertarikh 12 November 1945, bertempat di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta. Ada empat nama yang dicalonkan. Pesaing Soedirman terberat ialah Oerip Soemohardjo, 52, berpangkat letnan jenderal. Ia berpendidikan militer Belanda dan berkedudukan tinggi pula, Kepala Staf Umum TKR. Soedirman berpangkat kolonel dan baru 29 tahun. Ia hanya punya pengalaman tiga tahun sebagai tentara Peta (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang.
Namun, itulah suratan tangan pria kelahiran Purbalingga, Keresidenan Banyumas, 1916 ini. Ia terpilih menjadi panglima besar, pemimpin perang gerilya, sebagai salah satu perang terbaik di dunia. Konon, sebagai penghormatannya kepada senior, jika Soedirman bertemu Oerip secara pribadi, Soedirman menghormat dahulu. Namun, jika mereka bertemu di tempat umum, Oerip yang terlebih dahulu menghormat pada mantan bawahannya itu.
Kita tak pernah membayangkan menghadapi musuh dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap, Tentara Republik terpecah-pecah, memakai senjata seadanya, logistik amat cekak. Sementara itu, para pemimpin sipil masih berbeda pandangan, Soekarno-Hatta dalam tahanan. Ini sebuah kondisi negara muda yang amat kusut masai.
Dalam kondisi serupa itu, sang jenderal besar memimpin perang dalam kondisi sakit. Ia hidup dengan satu paru-paru karena mengidap tuberkulosis. Dengan diiringi para prajuritnya yang setia, termasuk dua ajudannya, Tjokropranolo dan Soepardjo Roestam, Soedirman harus ditandu, berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer, menundukkan medan yang terjal menghadapi perang yang brutal.
Ada banyak cerita okultisme (klenik) yang berkembang seputar Soedirman karena kehebatannya menghindari musuh. Akan tetapi, menurut keluarganya, mantan guru sekolah dasar dan anggota Hisbul Wathan (kepanduan Muhammadiyah) yang suka bermain bola dan menulis sajak itu, satu-satunya 'ajimat' pria sederhana ini ialah memimpin gerilya selalu dalam keadaan berwudlu.
Bagi para pecinta sejarah, film Jenderal Soedirman setidaknya menambah sudut pandang sosok pemimpin tentara rakyat ini. Bagi para pemimpin yang telah kehilangan inspirasi keteladanan, hakikat pemimpin (bangsa) ialah berkorban. Bukan mengambil sebanyak-banyaknya. Bagi generasi yang terbius K-pop dan sejenisnya, selain kehidupan hari ini 'indah', di masa lalu ada orang-orang luar biasa, yang dalam kesulitan hidup, ikhlas memberikan segala-galanya untuk negara dan bangsanya.
Soedirman memang inspirasi tentara yang, betapa pun ia jengkel pada kepemimpinan sipil menyakitkan hatinya karena berbagai perundingannya dinilai merugikan tentara, tetap hormat pada supremasi sipil, pada pemerintah yang sah. "Saya tentara. Saya membela pemerintah seratus persen untuk merdeka. Jika Tuan Malaka punya cara lain, silakan." Itulah jawaban Soedirman kepada Tan Malaka, kawan dekatnya, yang mengajak sang jenderal mengikuti idenya, segera mengganti kepemimpinan Soetan Sjahrir.
Soedirman terlalu teguh untuk dipengaruhi jalan yang bersimpang dengan semangat Republik.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima