PAN ke Mana Hendak Pergi?

Djadjat Sudradjat | Dewan Redaksi Media Group
03/3/2015 00:00
PAN ke Mana Hendak Pergi?
(ANTARA/Rosa Panggabean)
NUJUM seorang kader Partai Amanat Nasional (PAN) tak meleset.

Tiga bulan silam, dalam obrolan di Jakarta, ia meramal Zulkifli Hasan yang baru terpilih sebagai Ketua MPR duduk di kursi puncak PAN.

Kongres PAN di Bali membuktikannya. Namun, kader PAN itu meramal dengan rasa cemas.

Menurutnya, Zulkifli akan membawa PAN makin 'cair', merapat ke kubu Jokowi.

Ini membuat Koalisi Merah Putih rapuh.

Alasan yang dalam realitas politik agaknya tak relevan lagi.

Selain tiket Ketua MPR, kata sang kader PAN itu, faktor penentu utama Zulkifli nanti dukungan Amien Rais, yang juga besan Zulkifli.

Pengaruh Amien, meski secara nasional terasa meluruh, di PAN masih besar.

Tak ada Ketua Umum PAN tanpa restu Amien.

Terlebih dukungan terhadap Zulkifli memang amat terbuka.

Bahkan, dalam pidato ketika membuka kongres, Sabtu (28/2), Amien menyudutkan Hatta.

Faktor lain, ada keinginan kader Muhammadiyah agar PAN kembali ke pangkuan `ibu kandung', yakni Muhammadiyah.

Kepengurusan PAN di era Hatta Rajasa (ketua umum), Taufik Kurniawan (sekjen), dan John Erizal (bendahara umum) dianggap tak punya irisan dengan Muhammadiyah.

Itu menggelisahkan mereka.

Tak usah terlalu jauh mencari contoh hubungan emosional PAN-Muhammadiyah.

Ada keluarga besar saya di Banyumas yang `bergenealogi' Muhammadiyah yang menganggap PAN pilihan politik `harga mati'.

Ketika pemilu presiden tahun lalu, keluarga besar kami terbelah tajam antara pendukung Prabowo-Hatta dan JokowiJK.

Anak versus orangtua, kakak versus adik, dan orangtua versus menantu. Untunglah ada halalbihalal Idul Fitri yang mencairkannya.

Saya kira salah satu hal baik dari PAN setiap kongres partai ini melahirkan ketua umum baru.

Tiga Ketua Umum PAN, Amien Rais, Soetrisno Bachir, dan Hatta Rajasa, hanya sekali menjabat.Zulkifli Hasan mestinya juga begitu.

Itu menunjukkan PAN tak kekurangan kader.

Sayangnya, PAN yang lahir sebagai anak kandung reformasi, yang dibidani Amien Rais, yang terdepan melawan Soeharto dan Orde Baru yang korup dan otoriter, kini seperti terlepas dari konteks sejarahnya.

Apa yang berbeda antara PAN dan partai lain? Bagaimana implementasi asas PAN, `Akhlak politik berlandaskan agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam'?

Jika mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif berkali-kali mengkritik politik kita kumuh, kenapa PAN tak berupaya keras membersihkannya?

Jika Syafii geram politisi kita tak lekas naik kelas menjadi negarawan, kenapa PAN tak berada di garda depan untuk memulainya?

Jika PAN anak kandung Muhammadiyah, kenapa pesan mulia Kiai Ahmad Dahlan, "Hiduphidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah," tak ditransformasi secara kontekstual di dalam PAN?

Misalnya 'mewakafkan' kader PAN yang menjadi pejabat publik untuk bekerja tulus dan memberikan pengabdian terbaik kepada rakyat dan negara.

Alangkah sayang, PAN yang lahir dari sejarah besar reformasi dan Muhammadiyah hanya melahirkan politisi yang kini kita pahami.

Lalu, apa arti hubungan `anak dan ibu kandung' yang agung itu jika sesungguhnya sang anak jadi si `Malin Kundang', misalnya?

Sejarah mestinya jangan hanya gagah ditulis tapi dinegasi dalam praktik.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.