Hadiah Akhir Tahun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/12/2019 05:00
Hadiah Akhir Tahun
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBUAH hadiah akhir tahun paling berharga bagi dunia ialah berakhirnya perang dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kedua negara sepakat untuk mengurangi tensi dengan sama-sama menurunkan tarif bea masuk dan meningkatkan impor di antara mereka.

Tiongkok sepakat untuk mengimpor bahan pangan seperti kedelai dan jagung senilai US$17 miliar dalam dua tahun ke depan dari AS. Sebaliknya AS menghapuskan tarif bea masuk untuk produk pakaian dari Tiongkok.

Kedua negara sebenarnya sama-sama terpukul oleh perang dagang di antara mereka. Masyarakat 'Negeri Paman Sam' terpaksa membeli barang-barang kebutuhan mereka dengan harga yang mahal.

Dampak lebih lanjut, perekonomian AS pun tertekan dalam 18 bulan terakhir ini. Presiden Donald Trump yang sedang menghadapi ancaman pemakzulan di Kongres tidak mau menghadapi terlalu banyak front menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Perdamaian dagang fase I dimaksudkan Trump untuk mengurangi tekanan terhadap pencalonannya kembali sebagai Presiden AS.

Sebaliknya bagi Tiongkok, perang dagang dengan AS membuat mereka juga kesulitan untuk melempar produk. Selama ini Tiongkok cukup mengandalkan satu negara AS untuk bisa menjual produk ekspor senilai US$500 miliar.

Di dunia nyaris tidak ada pasar yang besarnya seperti AS. Kalau tidak bisa menjual ke AS, Tiongkok harus mencari puluhan negara untuk bisa menyerap produk ekspor mereka senilai US$500 miliar itu.

Tidak usah heran apabila Tiongkok sekarang ini dihadapkan pada ancaman kredit bermasalah. Banyak perusahaan ekspor yang menumpuk barang di gudang. Ini tentunya mengganggu arus kas dan mengancam sistem keuangan karena ada produk senilai US$500 miliar yang macet.

Perdamaian dagang menjelang akhir tahun memberikan dampak yang positif bagi pasar modal seluruh dunia. Beberapa hari terakhir ini kita melihat pasar yang bullish, dan perkembangan ini otomatis memperbaiki neraca keuangan banyak perusahaan dunia.

Kondisi yang baik ini tentunya harus juga bisa kita manfaatkan. Tidak bosan kita sampaikan pentingnya untuk berpikir cerdas. Kita harus memanfaatkan semua peluang yang ada untuk memberikan benefit bagi perekonomian nasional kita.

Kita harus merasa prihatin kalau laporan Badan Pusat Statistik menunjukkan neraca perdagangan kita pada November lalu mengalami defisit US$1,33 miliar. Secara keseluruhan 2019 defisit perdagangan kita tercatat US$3,11 miliar.

Memang, jika dibandingkan dengan neraca perdagangan tahun lalu, angka defisitnya mengecil. Akan tetapi, ini tetap tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.

Kalau memang serius ingin mendorong ekspor, kita harus melihat potensi yang kita miliki. Semua peluang yang kita miliki harus kita optimalkan. Jangan malah sebaliknya kita ingin mendorong ekspor, tetapi kebijakan yang ada justru seperti 'menembak kaki kita sendiri'.

Tanpa ada kesungguhan untuk memetakan kekuatan yang kita miliki, kita bukan hanya kehilangan kesempatan. Di bawah tekanan ekonomi yang lebih berat tahun depan, kita akan kesulitan untuk bisa bangkit. Sekarang ini kita mulai mendengar rencana beberapa pengusaha yang bergerak di industri kertas, pakaian, baja, dan plastik untuk mengurangi produksi.

Kita harus ingat, menghidupkan kembali industri yang mati itu tidak mudah. Bukan hanya kita kesulitan untuk kembali menemukan pasar, mencari pasokan bahan baku juga tidaklah mudah. Belum lagi pegawai yang harus kehilangan lapangan pekerjaan dan mereka harus mencari pekerjaan baru.

Di sisi lain, Presiden Jokowi begitu bersemangat untuk mengegolkan UU Omnibus berkaitan dengan pembukaan lapangan pekerjaan. Apa yang kita lihat hari-hari ini berbeda dengan semangat besar yang hendak kita bangun dan juga dengan ekonomi dunia yang sedang berjuang untuk menggeliat.

Janganlah kita menjadi negara yang aneh di antara negara-negara dunia. Apalagi kalau kita menjadi negara yang ikut terpuruk ketika perekonomian dunia terpuruk dan kita tetap terpuruk ketika perekonomian global sedang membaik. Ironis kalau itu terjadi!

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.